Beauty Clouds

Beauty Clouds
Mendoakan



Ipek masuk ke ruangan Rio, setelah sebelumnya ia meminta izin terlebih dahulu dari Azra, sekretarisnya Rio.


Namun, betapa kagetnya Ipek ketika masih melihat Clovis ada di sana, tengah memainkan laptopnya, sedangkan Rio tengah duduk di kursi kerjanya.


"Kenapa Pek?" tanya Rio memecah keheningan diantar mereka.


"E... itu Dok, maaf kalo Ipek mengganggu." Ipek masuk bahkan ia sampai lupa tidak mengucapkan salam. Saking kagetnya.


"Tidak ko, kita juga nggak lagi sibuk banget jadi santai ajah," jawab Rio, sembari mempersilahkan Ipek duduk.


Ipek pun duduk "Itu Dok, Abang memanggil Anda. Katanya ada yang pengin dikonsultasikan dengan kesehatanya, yang kata Abang sedikit aneh dirasakan. Katanya kalo dengan Dokter lebih bisa terbuka," Ipek dengan sedikit terbata menceritakan apa yang disampaikan suaminya.


"Oh... baiklah aku temui Wahid dulu yah. Memang bener apa kata Wahid kadang berbicara dengan yang lebih nyaman bisa lebih mengeri dengan keluhan kesehatanya. Dari pada bercerita dengan yang lebih profesional di bidangnya." Rio bersiap akan menemui Wahid di ruanganya.


Sementara Wahid juga tengah menunggu Rio. Wahid benar-benar berbeda tubuhnya tidak mengantuk seperti biasanya. Selain akan menanyakan soal Ipek. Wahid juga memang ada yang ingin di tanyakan soal kesehatanya.


Sementara Ipek yang akan ikut kembali ke ruangan suaminya mengikuti jejak Rio, di tahan oleh Clovis.


"Pek... aku bisa ngobrol sebentar dengan kamu?" tanya Clovis dengan nada yang lembut berbeda dengan dulu yang apabila berbicara dengan Ipek dirinya akan membentak-bentak dan memaki kata-kata yang menyakitkan.


Ini adalah obrolan pertama dari Clovis setelah ia mencobanya. Dari kemarin ia tidak bisa mengalahkan rasa geroginya. Sehingga ia selalu dia di depan Ipek takut menyinggung Ipek yang sudah bersuami maupun takut teman-temanya meledek.


"Bicara apa Tuan? Semuanya sudah dibicarakan tiga tahun lalu. Sekarang tidak ada lagi yang dibahas," jawab Ipek tidak kalah lembut dan masih dengan panggilan yang formal.


"Tolong, jangan panggil saya Tuan lagi. Saya bukan bos kamu lagi. Dan kamu juga bukan bawahan saya lagi. Panggil Clovis saja," ucap Clovis yang merasa sakit ketika Ipek memanggilnya dengan sebutan Tuan. Karena hal itu menyakitkan dirinya apabila mengingatkan dirinya dengan apa yang sudah ia lakukan dulu.


"Tapi Tuan, saya ti...(Ucapan Ipek tidak dilanjutkan karena memang Clovis memotongnya.)


"Baiklah, Ipek akan coba," jawab Ipek.


"Jadi kamu mau, kita ngobrol sebentar saja?" tanya Clovis ulang, karena sejak tadi Ipek tidak memberikan jawaban apapun.


"Mohon maaf Tu....(Ipek masih terbiasa dengan sapaan Tuan) Maksud Ipek, sebaiknya kita tidak lagi membahas masa lalu Mas, karena baik Ipek maupun Anda sama-sama sudah memiliki kehidupan masing-masing. Terlebih Ipek sudah menikah. Tidak sepatutnya kalo kita tetap mencuri waktu untuk membahas sesuatu apapun itu, apalagi kita lain jenis dan hanya berdua. Timbulnya bisa fitnah. Kasihan suami Ipek kalo sampe dengar gosip yang tidak-tidak." Yah, Ipek tidak mau hidupnya dililit masalah apalagi masalah tentang masa lalunya yang ia sendiri sampai mati-matian untuk bisa melupakanya.


Ipek memang berbicara dengan santai, tetapi tidak dengan isi hatinya yang sudah saling memburu. Cinta pertama memang sulit di lupakan. Itulah yang Ipek rasakan.


"Baiklah kalo itu mau kamu, tapi boleh yah aku mau minta maaf buat semua kesalahan yang sudah aku lakukan tiga tahun lalu. Aku minta maaf tidak seharusnya aku mendahkan orang lain hanya karena fisik dan materi. Semua yang kamu lalukan selalu aku patahkan dengan hinaan. Maaf, aku sangat menyesal." Clovis dengan tulus meminta maaf pada Ipek karena memang ia sangat menyesali semua kesalahan yang ia perbuat pada Ipek.


"Jujur Ipek tidak pernah sakit hati dengan apa yang Anda perbuat. Bahkan Ipek tidak marah, jadi Ipek rasa tidak ada yang harus dimaafkan, tapi apa salahnya untuk kedepanya Anda jangan pernah memandang rendah seseorang dari harta dan fisiknya. Karena semua itu akan hilang ketika Allah sudah berkehendak. Ipek senang dengan perubahan Anda, itu tandanya Anda mau berproses. Karena setiap orang memiliki sisi baik yang bebeda. Ada yang baik dari kecil, ada yang baik berubah jahat, ada yang Jahat berubah baik. Intinya jangan lelah untuk berusaha karena Allah lebih suka pendosa yang bertaubat dari pada orang baik tapi meremehkan orang lain." Semua unek-unek yang ada di hati, Ipek coba tuangkan. Ada rasa lega ketika pesan itu bisa ia ucapkan dengan lancar di hadapan Clovis.


"Iya terima kasih untuk nasihatnya. Aku akan selalu ingat nasihat dari kamu. Semenjak kamu menghilang entah kenapa hati ini merada ada yang kurang. Aku akui itu mungkin kamu sudah berhasil singgah di hati aku. Aku sempat mencari kemana pun kamu pergi. Orang-orangku mencari keberadaan kamu, tapi tidak ada yang menemukan kamu. Sampai kita dipertemukan kembali di rumah Rio. Tapi sayang kamu sudah dimiliki orang lain. Yang mana sepertinya kamu sangat mencintai laki-laki itu. Jujur aku sakit Pek. Aku bermimpi bisa memiliki kamu, tapi kenyataan seolah tidak mendukung. Aku harus gimana? Apa sebegini sakitnya kamu juga dulu merasakan cinta yang tak pernah terbalaskan oleh aku? Apa ini karma dari Tuhan untuk aku yang telah menyakiti kamu," rancau Clovis, sampai ia lupa sekarang posisi mereka masih berdiri de lorong rumah sakit, beruntung lorong ruangan Rio sepi, sehingga tidak ada lalat-lalat yang bisa mendengar omongan mereka.


"Oh, berati orang-orang yang mencari aku adalah orang suruhan Clovis. Pantas saja dulu banyak orang yang mengatakan kalo aku dicari preman gitu. Ternyata karena Clovis yang menyuruhnya," batin Ipek menginggat kembali kejadian itu.


"Anda berbicara apa sih? Serahkan jodoh pada Allah. Mungkin jodoh Anda masih belum ketemu untuk Anda. Jangan patah semangat, tetap semangat untuk memantaskan diri semoga Anda mendapatkan jodoh terbaik dari Allah.Jangan mengharapka sesuatu yang tidak mungkin, sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain tidak akan pernah baik apabila digangu-ganggu. Timbulnya dosa besar. Bismillah berserah pada Allah, pasti kebahagiaan akan Anda dapatkan." Ipek sangat sabar menasihati Clovis.


"Aku akan berusaha memantaskan diri. Mungkin untuk saat ini aku merasakan sakit ini karena hukuman dari Tuhan yang pernah menyakiti kamu. Aku terima dengan lapang dada. Tapi jujur aku cemburu, cemburu sekali sama suami kamu. Maaf aku berdosa yah?" kekeh Clovis menertawakan sikapnya yang sangat menunjukan sifat yang buru.


"Cemburu kata orang wajar, karena itu tandanya cinta. Tapi cemburu dengan istri orang tentu salah. Berusahalah mencari wanita lain, yang lebih dari Ipek sangat banyak. Bahkan Ipek tidak ada apa-apanya dibandingkan wanita lain diluaran sana." Ipek tentu tidak mau kalo Clovis terus-trusan mengharapkanya. Yang tandanya di hati Clovis ada harapan kalo Ipek dan Wahid sudah tidak berjodoh lagi.


Ipek pun tidak bisa mengelak dirinya berbicara seperti itu tidak tulus dari dalam hatinya. Di hatinya tetap ada rasa sakit. Ketika meminta Clovis mencari wanita lain. Andai itu terjadi pasti hatinya kembali sakit, tapi dia juga sakit kalo menghianati Wahid demi hidup bahagia dengan laki-laki cinta pertamanya.


"Ya Tuhan tuntunlah aku menemukan jalan terbaik, yang Engkau berikan untuk hamba. Tanpa menyakiti siapa pun." Doa Ipek, tulus dalam hatinya.