Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kebenaran



Emly tersentak mendengar omongan papihnya entah di sengaja atau tidak laki-laki itu berbicara begitu, atau Erwin juga tidak sadar dengan semua yang ia katakan. "Papih... Apa yang papih katakan? Anak Emly ada di tangan Rio dan Ody?" tanya Emly dengan mata berkaca-kaca, tatapan mengiba meminta penjelasan dari laki-laki dihadapanya. Liana menduga bahwa suaminya memang berbicara tanpa sadar sehingga. Keceplosan, yah Erwin keceplosan dengan apa yang ia ucapkan.


"Apa memang benar bahwa Emly tidak tahu bahwa anaknya di asuh oleh Rio dan Ody?" batin Hartono. Fikirnya sangat aneh masa Emly tidak tahu bahwa anaknya di buang, atau selama ini Erwin berbohong demi melindungi anaknya. Pikiran berkecamuk dengan Luson sungguh dia sangat di luar perkiraan kenapa Bisa Emly tidak tahu anaknya diasuh dengan keluarganya. Hartono hanya menyimak pertunjukan di hadapanya, dan sekalian ia mencari tahu apa yang terjadi dengan keluarga Erwin.


Usapan lembut mendarat di pundak Emly, Liana tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa mencoba menenangkan Emly. "Kamu yang sabar sayang, semuanya nanti kita bicarakan di rumah. Niat kita ke sini hanya berailahturahmi dan meminta maaf." Liana dengan sangat lembut mengingatkan Emly agar jangan lagi mengacaukan rencana yang sudah di persiapkan dari rumah itu.


"Om, apa Emly boleh lihat bagai mana anak Emly?" tanya Emly dengan air mata sudah tidak bisa dibendung lagi, kenapa kali ini rasanya dia sangat sayang dengan anaknya. Berbeda dengan dulu yang membencinya bahkan kematianya saja ia rencanakan, tetapi kali ini dia malah seolah tidak ingin sesuatu hal buruk menimpa buah hatinya.


"Aku tidak bisa membiarkan siap pun ketemu dengan cucuku. Karena semua wewenangnya ada di tangan Rio dan Ody," jawab Hartono masih dengan kejutekanya. Dia tidak ingin nanti apabila Emly bertemu anaknya dia ingin mengambil anaknya. Enak sajah setelah di buang dan sekarang di besarkan dengan kasih sayang yang tulus malah di minta kembali sama orang tua kandungnya. Hartono tidak akan memberikan akses apapun untuk keluarga Emly, sehingga mereka bisa mendekati Meyra.


"Aku harus awasi terus Erwin dan keluarganya, agar tidak ada kesempatan untuk mendekati Meyra," batin Hartono.


"Kalau begitu izinkan aku bertemu dengan Rio karena aku akan melakukan apa saja asal dizinkan untuk bertemu dengan anakku," ucap Emly dengan enteng. Sontak saja membuat Hartono makin gondok.


"Setelah apa yang kamu lakukan dengan keluargaku. Kamu masih bisa berkata seperti itu Emly? Apa kamu tidak tahu bagai mana hancurnya keluargaku saat itu. Semua karena fitnah kamu! Butuh waktu lama, agar Rio bisa bersatu lagi dengan istrinya. Zawa, dia mendekam di penjara tidak sebentar, itu semua karena fitnah dari kamu dan sekarang kamu dengan ganpang pengin meminta maaf dengan Rio dan melihat anak kamu. Malu, aku kalo jadi kamu, Emly." Kemarahan laki-laki paruh baya itu pun meluap, semua yang ada di hatinya ia ungkapkan. Agar Erwin dan keluarganya tahu bahwa menjadi seperti sekarang keluarga Rio alami tidak mudah. Bahkan andai di kata berdarah mungkin entah berapa ember kesakitan yang keluarganya dan Zawa rasakan.


Tidak ada jawaban dari Emly maupun Erwin, mungkin mereka malu. Yah memang seharusnya satu keluarga itu malu. Apalagi sampai mengemis berkali-kali hanya agar bertemu dengan cucunya. Hartono saja sampai malu untuk menolaknya.


Sebenarnya kalo dibilang nurani tega atau tidak tega. Tentu Hartono juga tidak tega. Terlebih itu ibu kandung, tapi ia juga takut apabila nanti memberikan kesempatan pada Emly malah ia akan kehilangan cucunya.


Liana lagi-lagi menjadi penengah di saat dua orang memperebutkan cucunya ia masih bisa fokus dengan tujuanya menemui keluarga Rio.


"Kalian ada waktunya kapan, mungkin aku bisa merundingkan dulu dengan anakku dan juga Zawa." Hartono ketika Liana yang berbicara pun bisa lebih melunak hatinya tidak seperti berbicara dengan Erwin dan Emly, seperti ada benteng di tengah-tengah mereka.


"Terima kasih sebelumnya Har, kalo waktu kami serahkan sepenuhnya sama kamu. Kami bukan orang sibuk sehingga waktu kami banyak," kelakar Liana agar suasana tidak terlalu tegang.


"Kalo gitu nanti aku akan kabari lagi begitu Rio dan Zawa ada waktu," jawab Hartono, yah mungkin memang ini saatnya, agar semua permasalahan selesai. Ditunda dan terus ditunda tentu semakin membuat makin menumpuk permasalahanya.


"Oh iya... Kalau bisa ada Aarav juga yah Han, aku ingin meminta maaf juga dengan dia," ucap Liana. Bagaimanapun mungkin ada perlakuan keluarganya yang menyakiti Aarav. Liana bukan orang bodoh, pertemuanya di lift membuat ia menyadari bahwa Aarav memendam sakit hati dengan keluarganya. Kalau tidak ada rasa itu tidak mungkin Aarav seolah merasa gugup dan wajahnya langsung berubah tegang dan juga ada gerak tubuhnya berkata bahwa Aarav memang sedang menahan sesuatu, entah emosi atau kecewa.


"Aarav, ada apa dengan Aarav?" tanya Hartono heran kenapa harus Aarav, setahu dia ini masalah dengan keluarganya dan Zawa, tetapi kenapa Liana mau meminta maaf dengan Aarav. Seperti itu kira-kira keheranan Hartono.


Liana pun heran apa mungkin Hartono belum tahu bahwa yang menghamili anaknya adalah Aarav. Namun Liana mencoba menepis pikiranya. "E... Nanti kita akan bahas sekalian Har, biar semuanya lebih terbuka. Yang jelas kami juga ada salah paham dengan Aarav," jawab Liana mencoba menutupi dulu permasalahanya, sampai waktu pertemuan itu.


Erwin dan Emly pun diam saja, di samping mereka memikirkan Meyra, mereka juga lebih percaya bahwa dengan omongan mamihnya Hartono lebih bisa diajak negosiasi, di bandingkan dengan papihnya di mana bawaanya sama-sama keras.


Setelah berbasa-basi keluarga Emly pun pamit pulang lebih dulu. Ada kelegaan di hati Liana setidaknya hari ini tidak gagal total walaupun ada ketegangan setidaknya masih bisa diatasi. Liana memang sengaja meminta bertemu dengan Aarav juga, dia yang akan mewakilkan keluarganya yang meminta maaf, agar ketika beremu tidak seperti tadi seperti orang yang tidak saling kenal. Padahal mereka setidaknya saling menyapa. Mengingat Aarav juga sebelumnya kenal baik dengan mereka.


"Mamih kenapa tadi ingin bertemu Aarav juga?" tanya Emly ada rasa malas ketika ketemu dengan ayah dari anaknya.