One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 99



~Pagi hari~


Zia menggeliat diatas tempat tidurnya kemudian matanya mengerjap ngerjap dan mulai terbuka,gadis itu memandangi langit langit kamarnya kemudian menoleh kekiri dan kekanan.


Zia mengubah posisinya menjadi duduk kemudian keningnya menyergit


"Kok gue dikamar sih?padahal kemarin seingat gue,gue tidurnya dimobil pas mau pulang dari pantai bareng Neta dan Zia"ujar Zia heran dan bertanya pada dirinya sendiri.


Gadis itu melihat kearah jam dan ternyata sudah pukul enam pagi,itu artinya sudah waktunya bangun dan segera bersiap siap karena ia harus sekolah hari ini.


Zia menyibakkan selimutnya kemudian segera beranjak dari atas tempat tidurnya,ia langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi.Didalam kamar mandi,Zia terlebih dahulu mencuci mukanya dan menggosok giginya di wastafel kamar mandi.Selesai mencuci mukanya,Zia menatap pantulan wajahnya yang ada didalam cermin.


Kening Zia sedikit menyergit melihat bibirnya yang terlihat sedikit pucat,padahal Zia merasa ia tidak demam atau merasa sakit apapun dalam tubuhnya.


"Bibir gue kok rada pucet sih?"gumam Zia bertanya pada dirinya sendiri.


Zia akhirnya memilih menghiraukan hal itu,ia melanjutkan aktivitasnya yang selanjutnya yaitu mandi.


Zia keluar dari kamar mandi dengan sudah menggunakan seragam sekolah lengkap kecuali dasi tentunya,gadis itu berjalan kearah cermin.Ia merapikan rambitnya yang ia biarkan terurai saja kemudian memakai pelembab kulit dan bedak tipis,serta yang terakhir ia memakai liptin berwarna pink natural dibibirnya guna untuk menutupi bibirnya yang pucat tadi.Setelah selesai barulah ia memakai sepatu sekolahnya dan meraih tas sekolah miliknya,kemudian beranjak meninggalkan kamarnya.


Zia berjalan menuruni anak tangga dengan santai sambil menenteng tas sekolahnya,dasi yang masih digantung biasa dileher tanpa dipakai.


Sesampai dilantai bawah ia langsung menuju kearah ruang makan,dimana biasanya para kakaknya berkumpul untuk sarapan.


"Udah bangun lo dek?"


Zia mengucek ngucek matanya memastikan penglihatannya tidak salah,gadis itu langsung melempar tasnya kelantai kemudian berlari menuju kearah orang berbicara tadi.


"HUA Kak Anna"Zia langsung memeluk kakak angkatnya itu erat.


"kapan lo datang?kok lo gak bilang mau datang?kok lo ada disini?"tanya Zia secara beruntun sambil memeluk kak Anna,ia sama sekali tak mempedulikan kakak kakaknya yang ada disana.


"Lo hilang ingatan atau gimana cil? Pacar gue udah dari kemarin disini, trus kemarin malamkan juga udah ketemu lo sama dia"ujar Teo.


"Gue denger suara tapi kok gak ada orangnya ya?apakah ini yang namanya bisiskan setan"saut Zia.


"Sialan!nyesel gue ngomong"ujar Teo kesal.


"Gue udah datang dari kemarin,kenapa gak bilang?itu karena mau ngasih surprise buat ulang tahun lo tapi lo nya malah ngilang seharian"jelas kak Anna kepada Zia yang masih ada dipelukannya.


"Itukan tradisi ulang tahun gue kak"ujar Zia.


"Tradisi apaan kayak gitu,ayo lepas trus sarapan.Gak malu lo diliatin kakak kakak lo noh"ujar kak Anna menunjuk kearah kakak kakak gadis itu dengan dagunya.


Zia melonggarkan pelukannya dari kak Anna kemudian menoleh kearah meja makan dan ternyata benar para kakaknga tengah memperhatikannya dengan pandangan yang berbeda beda,


ia melepaskan pelukannya kemudian berjalan mendekat kearah meja makan.


"Pagi dek"sapa Liona sambil tersenyum manis.


"Pagi juga Lio"balas Zia juga ikut tersenyum.


"Tidurnya nyenyak gak dek?"tanya Liona.


"Nyenyak kok Lio,nyenyak banget malahan"jawab Zia.


"Mana ada gue minta dikelonin kak Anna"protes Zia.


"Dih gak ingat dia"ujar Teo.


"Lo duduk dimana kak?"tanya Zia menoleh kearah Anna yang masih ada dibelakangnya.


"Itu disebelahnya Teo"jawab kak Anna


Wanita itu terlihat memungut tas Zia.yang tadi gadis itu lempar membawanya ke meja makan.


"Minggir lo,gue mau duduk disini" ujar Zia kepada Teo.


"Ogah,enak aja lo datang datang ngusir gue"tolak Teo.


"Gue mau duduk disamping kak Anna, jadi lo pindah duk.."Ujar Zia sambil menendang kaki kursi yang ditempati oleh kak Teo.


"Zia kamu gak boleh gitu,sana duduk disebelah Lio aja"ujar Arga berbicara.


"Gak mau kak,aku mau disuapin kak Anna"tolak Zia,tak sadar dengan reaksi Liona yang langsung cemberut.


"Enak banget lo minta disuapin pacar orang,udah ta.."


"Teo pindah,turutin aja mau sibocil"


ujar Anna memotong perkataan pacarnya.


"Tap.."Teo hendak protes tapi perkataannya sudah dipotong kembali oleh sang pacar.


"Gak usah protes atau besok lo dikirim ke Afrika"


"Iya iya,hadeh ngalah lagi ngalah lagi gue sama bocah"keluh Teo langsung beranjak dari kursinya dan pindah dikursi sebelahnya.


"Kasihan deh lo"ledek Zia menjulurkan lidahnya kearah kak Teo.


"Zia duduk"suruh kak Anna tegas.


"Eh iya"jawab Zia langsung buru buru duduk dikursi yang tadinya ditempati oleh Teo.


"Ayo kita mulai sarapan"ujar Arga setelah Anna duduk dikursinya sendiri,memberi intruksi untuk memulai kegiatan sarapan.


Berbeda dengan Teo dan para kakaknya Zia yang mengambil makanan untuk sarapan secara sendiri sendiri,Zia hanya duduk menunggu kak Anna mengambilkan untuknya.


"Ayo buka mulut"ujar kak Anna menyodorkan satu sendok nasi goreng kemulut Zia untuk menyuapi gadis itu.Zia membuka mulutnya langsung menerima suapan itu dengan senang hati,ia mengunyah makanannya dengan semangat.


Sedangkan Anna juga ikut makan dengan makanan dipiring yang sama dengan Zia,itu hal biasa bagi mereka apalagi kalau adiknya itu sedang mode manja gini.


Disisi lain,Liona terus mencuri curi pandang memperhatikan kak Anna yang tengah menyuapi Zia adiknya.Gadis itu merasa sedikit cemburu melihat keakraban dua orang itu,seharusnya ia saja yang menyuapi Zia karena Zia itu adik kandungnya bukan kak Anna yang hanya berstatus kakak angkat saja.Gia yang hari ini kebetulan duduk disebelah Liona langsung mendekat kearah adiknya itu kemudian berbisik pelan


"Dek mereka kakak adik yang akrab bukan, sangat berbeda dengan cara Zia yang tidak pernah menganggapmu kakaknya atau mungkin saudari"bisik kak Gia pelan tepat didekat telinga sang adik.


Liona yang mendengar bisikan kakaknya itu menggenggam erat Liona garpu sendok ditangannya menahan kesal,padahal ia tahu pasti kalau saudari tertuanya itu berniat untuk menghasutnya tapi entah kenapa Liona tetap merasa panas mendengar perkataan kakaknya itu.Gia tersenyum tipis melihat respon adiknya itu,sedangkan Lyn sejak awal tak bersuara sedikitpun hanya fokus pada makanannya saja.Tapi meski begitu ujung matanya masih sempat melirik kearah adik bungsunya yang tengah sarapan dengan disuapi oleh kak Anna.