One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 270



Zia melangkah memasuki kediaman keluarganya dan hendak melewati area


sofa yang redup,padahal malam belum larut tapi lampu utama sudah dimatikan.


"Dasar anak gak tau aturan,jam segini baru pulang.Dari mana aja lo?!"


Zia menoleh kesamping dan menemukan sosok kakak perempuan tertuanya duduk diatas sofa ditengah keredupan ruangan itu,kak Gia duduk diatas sofa dengan kedua tangan dilipat didepan badan.


"Sory kak tadi ada urusan kak,kakak kenapa belum tidur?"saut Zia.


"Gue gak butuh minta maaf lo,yang butuh itu mama gue.Heran gue,kita yang anak kandungnya aja gak pernah buat mama khawatir.Lo yang cuma anak tiri malah hobi bikin mama gue khawatir.Nyusahin banget sih lo!"ujar kak Gia.


"Mami khawatir?"Zia


"Iya,lo kemana aja hah?!kalau mau pergi itu minimal kasih tau mama gue.Dasar parasit nyusahin"kak Gia.


Zia hanya terdiam mendengar perkataan kakak perempuan tertuanya itu,ah benar ini salahnya.Zia tadi memang tak memberitahu siapapun saat tadi hendak pergi dan tak memberitahu akan pulang malam juga.


"Maaf"Zia berucap pelan.


"Cks,lo kapan matinya sih!"


Zia langsung menegang mendengar kata mati itu.


"Mending lo mati aja kalau kerjaan lo cuma nyusahin orang aja,ini lagi gue capek capek pulang kerja mesti nungguin lo pulang dulu biar bisa istirahat"kak Zia.


"Kenapa kakak mau nungguin gue pulang?"Zia.


"Trus gue biarin mama gue nungguin anak tirinya pulang gitu,emang gue mama lo sama elo yang nyusahin terus?!"kak Gia.


"Kok kakak bawa bawa mama gue sih?!"Zia tak terima mama kandungnya terseret begitu saja.


"Emang harus dibawa bawa,coba aja dia gak ada dan lo gak usah lahir kedua dunia ini.Pasti keluarga ini bersih gak ada parasit"jawab kak Gia enteng,namun menyakitkan bagi Zia yang mendengarnya.


Huf...Zia menghela nafas berat,lalu ia mengangkat kakinya dan langsung pergi dari sana meninggalkan kakak perempuan tertuanya.


"Woi anak kurang ajar,mau kemana lo?!"kak Gia tak terima Zia beranjak pergi begitu saja padahal dirinya belum selesai bicara.


"Mau istirahat,gue capek kak.Kakak juga mending istirahat gih"ujar Zia kepada kakaknya itu,setelah itu ia berjalan menuju kearah pintu lift dan seperkian detik kemudian pintu lift tertutup lalu membawa Zia naik kelantai dimana kamar Zia berada.


Gia mengepalkan tangannya dengan kuat menahan kekesalan kepada Zia,


didalam hatinya kebencian terhadap gadis itu selalu senantiasa membesar.


"Beraninya anak parasit itu pergi seenaknya"gumamnya kesal.


Namun tak lama sebuah smirik terukir dibibir perempuan muda itu.


*Liat aja nanti,gue bakal buat keluarga ini gak ada yang suka atau nerima lo Zia.Sampai kapanpun gue gak bakal rela,anak dari ****** kayak mama lo bisa masuk sepenuhnya jadi bagian dari Antara.Hanya butuh sedikit waktu lagi untuk rencana gue berhasil*batin Gia.


Sikap lumayan akur yang tercipta antara dirinya dan Zia tentu bukanlah tanpa sebuah tujuan,


itu semua alur yang diciptakan Gia untuk menusuk Zia dari dalam.Gia tengah memasang sebuah bom waktu untuk menghancurkan anak istri kedua papanya itu,siapa lagi kalau bukan Zia.Entahlah tapi sepertinya putri tertua dari keluarga Antara itu harus berdoa kepada tuhan,supaya rencana itu tak memakan dirinya sendiri.