One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 222



Zia berjalan sendirian saat ini,ia sudah selesai berbicara dengan papanya.Sehabis mengakhiri percakapan,ia langsung pamit pulang kepada papanya sedangkan sang papa sendiri kembali masuk kedalam ruangan kerja untuk melanjutkan pekerjaan yang sengaja ditunda karena kedatangan Zia.Gadis yang masih memakai seragam dan atribut sekolah lengkap itu sekarang berjalan hening,ia tak langsung pulang melainkan akan mampir dulu kerungan Gia kakaknya karena kak Arga memintanya untuk kesana setelah menyelesaikan pertemuan dengan papa mereka.


Ruang Pimpinan___


Berbeda dengan sang putri bungsu yang kini menuju keruangan salah satu kakak tertuanya,Tuan Renal Antara sekarang malah duduk dimeja kerjanya sambil bermenung.Padahal tadi laki laki paruh baya itu mengatakan pada putri bungsunya kalau dirinya akan melanjutkan pekerjaannya,namun sekarang dirinya malah terdiam mengingat kembali percakapannya dengan sibungsu Zia.


"Dek"


"Ya pa,kenapa?"


"Kamu sendiri beneran gak tertarik buat ikut gabung jadi calon penerus perusahaan papa?"


Putri bungsu tuan Renal menggeleng pelan kemudian berkata


"Enggak pa,biar kakak kakak yang lain aja.Aku ngurus perusahaan mama aja"jawab sibungsu.


"Papa jadi iri sama mendiang mama kamu,mama kamu punya anak yang sangat kompeten dan sangat mampu mewarisi perusahaannya.Sedangkan papa?"


"Papa jangan ngomong gitu,gimana kalau salah satu kakaknya Zia denger.Lagi pula papa juga bunya empat orang anak lain yang hebat tau,dua calon pewaris sukses kayak kak Gia-Arga,calon dokter hebat kayak kak Lyn,dan punya satu lagi yaitu Liona yang meski belum jelas punya tujuan apa tapi pasti jadi keren suatu saat nanti"


"Kamu bener dek,papa memang beruntung punya anak anak yang hebat.Dan papa juga punya seorang anak yang udah sukses jadi pemilik sekaligus pimpinan perusahaan yang gak kalah hebat kayak papa sendiri, yaitu kamu Zia"


"Nah papa harus bersyukur untuk itu"


"Iya,papa akan terus terus bersyukur karena sudah dianugrahi memiliki anak anak seperti kalian"


"Pa"


"Ya dek"


"Loh buat apa?"


"Biar Zia jadiin pewaris perusahaannya Zia aja"


"Loh untuk apa kamu butuh pewaris sekarang dek?kamu itu masih muda banget loh,lagi pula nantinya perusahaan kamu juga bakal diawarisin keketurunan kamu aja kayak yang akan papa lakukan sekarang.Masa dikasih buat kakak kamu sih"


"Buat jaga jaga aja pa,lagi pula waktu Zia gak sampai satu tahun lagi disini.Zia butuh orang yang tepat buat ngurus perusahaan Zia disini, makanya Zia bilang gitu"


"Gak sampai satu tahun lagi ya?


Kamu serius dengan rencana kamu yang cuma akan tinggal satu tahun bareng papa dan yang lain dek?kamu gak ada niatan ngubah rencana aja gitu,buat menetap disini bareng papa,mama,dan kakak kakak kamu?"


"Zia-kan udah bilang dari awal pa,


rencana kasarnya udah tersusun. Tinggal nunggu waktu tiba buat menyelesaikan semuanya pa"


"Kalau papa memohon buat kamu tetap tinggal?kamu mau dek?"


"Pa,Zia emang udah nyiapin semua rencana untuk dimasa depan.Kita tinggal tunggu waktunya tiba dan takdir tuhan berjalan bagaimana"


Tuan Renal masih mengingat dengan jelas seperti apa senyuman penuh misteri yang terukir dibibir putri bungsunya saat itu,saat menjawab pertanyaan terakhirnya.


Senyuman yang entah kenapa membuat tuan Renal cemas entah kenapa, sekaligus membuat laki laki paruh baya itu mengingat istri keduanya.


"Kenapa kamu merasa cemas Renal?tidak akan ada hal buruk jadi jangan cemas begini"gumam pria penuh wibawa itu.