One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 126



"Baguslah,Lio sudah sangat merindukan mama dan papa.Kalau begitu ayo rencanakan liburan keluarga kak,langsung setelah mama dan papa pulang"usul Liona sangat dengan Antusias.


"Baiklah kakak akan memberi usulan kalau kita semua akan liburan keluarga sehari setelah kepulangan papa dan mama kesini"ujar Arga setuju dengan saran Liona.


"Bagaimana menurut lo dek,tentang rencana liburan keluarga yang kakak bilang?"tanya Liona kepada sang adik yang duduk disebelahnya.


Zia menoleh kearah gadis itu saat saudarinya itu bertanya kepadanya


"Rencana yang bagus tapi bukan maksud membuyarkan rencana bahagiamu itu Lio,tapi apa kau lupa kalau senin ini kita sudah mulai UTS?"saut Zia yang membuat Liona yang tadinya sudah terlihat eksaitid langsung menepuk keningnya sendiri.


Puk...


"Benar juga,bagaimana kakak bisa lupa hal itu ya.Untung lo ingetin itu dek"ujar Liona mengingat tentang pelaksanaan UTS awal minggu ini.


"Kalau begitu rencana liburannya ditunda dulu sampai kalian selesai ujian saja"ujar Arga sang kakak tertua akhirnya.


"Kak Lyn kenapa diam saja sejak tadi,kakak setujukan akan rencana liburan itu?"tanya Liona beralih kepada kakak ketiganya itu.


"Hm"Lyn hanya berdehem saja menyauti perkataan adiknya itu.


"Lio,kamu tak usah bertanya kepada kakakmu yang satu itu.Responnya pasti akan selalu begitu"ujar Gia kepada Liona adiknya.


Liona menganggukkan kepalanya mendengar perkataan saudari tertuanya itu,kemudian ia melanjutkan kegiatan sarapannya sambil sesekali melirik kearah Zia dan Lyn kakaknya.


*Kenapa mereka bersikap saling acuh sekarang,padahal tadi malam mereka terlihat sangat akrab dan dekat*batin Liona terhadap kedua saudarinya itu.


Yap!Liona adalah gadis yang tak sengaja melihat interaksi Lyn dan Zia ditaman belakang kediaman mereka tadi malam.


Akhirnya setelah beberapa waktu kemudian,mereka sudah sama sama selesai sarapa.


"Dek,nanti pulang sekolah kamu ada waktu gak?temenin kakak ketoko buku dong"tanya Liona kepada Zia yang tengah sibuk mengurus tas sekolahnya.


"Maaf Lio tapi kalau hari ini gak bisa,gue ada janji ketemuan sama orang"saut Zia.


"Pertemuan sama klaen perusahaan atau rekan bisnis kamu?"tanya Liona, Zia menggelengkan kepalanya.


"Gak dua duanya sih,tapi ini itu orang penting banget buat gue.Jadi pertemuannya gak bisa gue batalin, karena cuma buat nemenin lo ketoko buku doang"ujar Zia.


"Maksud kamu,kakak gak penting gitu bagi kamu?!"tanya Liona terdengar sedikit emosi.


"Eh bukan gitu Lio"ujar Zia langsung panik,saat ia menyadari ada perkataannya yang salah.


"Udahlah!"ujar Liona langsung meninggalkan meja makan,sepertinya gadis itu marah kepada Zia.


Huh...Zia menghela nafasnya berat


"Zia"suara sang kakak tertua membuat Zia menoleh.


"Kenapa kak?"tanya Zia menyauti panggilan kakaknya itu.


"Kakak tau kamu orang yang sibuk,tapi berusahalah untuk meluangkan waktumu untuk Liona"ujar kak Arga kepada Zia.


"Aku tau kak,tapi aku harus menemui seseorang itu nanti.Seperti yang kukatakan tadi,orang itu sangat penting"ujar Zia menatap saudaranya itu.


"Sepenting pentingnya orang lain, keluargamu itu lebih penting Zia!" Ujar Arga,entah kenapa tapi emosi laki laki itu seperti akan meledak.


Zia hanya menatap nanar sang kakak, untuk pertama kalinya ia mendapat amarah dari kakak tertuanya itu.


"Kakak tidak akan memahaminya"ujar Zia,setelah itu ia langsung beranjak dari sana untuk pergi kesekolah.


Prok...prok...prok...suara tepuk tangan menggema diseluruh area ruang makan itu,pelakunya adalah Gia.


"Wah wah wah,apa yang baruku lihat Ga?kau baru saja memarahi anak itu untuk pertama kalinya hahaha...." ujar wanita itu dengan suara tawa diakhir.


"Sepertinya sisi lain didalam dirimu itu sudah terbuka"ujar wanita itu lagi kepada kembarannya,sebelum akhirnya pergi dari meja makan untuk menuju kekamarnya.


Arga terdiam menyadari apa yang baru saja ia lakukan,ia baru saja membentak adik bungsunya itu.Kakinya mendadak lemas,laki laki itu terduduk dikursinya.


"Tuhan,apa yang baru aku lakukan?" gumamnya sambil mengusap kasar wajahnya.


Lyn berjalan dengan cepat menyusul Zia ke garasi,sesampai disana ia melihat adiknya itu tengah berdiri sambil menunduk disamping mobil milik gadis itu.Zia terlihat memukul mukul kepalanya sendiri dengan tangan yang mengepal,Gadis berwajah dingin itu langsung dengan cepat membawa sang adik kedalam pelukannya.Entah apa alasannya tapi menurutnya ia perlu melakukan hal itu.


"Apa yang kau lakukan,kenapa kau menyakiti dirimu Zia"ujar Lyn menahan tangan Zia yang tadi digunakan gadis itu untuk memukul diri sendiri.


"Maaf,aku salah.Aku tak bisa mengendalikannya"ujar Zia lirih.


"Jangan lakukan lagi"ujar Lyn.


"Kakak sedang tak buru burukan?" tanya Zia.


"Tidak"jawab Lyn.


"Kalau begitu biarkan seperti ini dulu bolehkan?ini membuatku tenang" pinta Zia.


"Hm"saut Lyn.


Disisi lain Liona yang tadi ternyata belum langsung berangkat kesekolah selepas pergi dari meja makan,karena ia lupa membawa buku tugasnya yang belum ia masukkan kedalam tasnya.


Gadis itu berjalan kearah garasi mobil,namun langkahnya langsung berhenti dan ia langsung bersembunyi dibalik dinding pintu masuk garasi setelah apa yang sempat dia lihat tadi didalam garasi.Gadis itu mengintip dari balik tembok memastikan apakah ia tak salah lihat,kakak ketiga dan adiknya tengah berpelukan.Lagi?tak jauh berbeda seperti apa yang dia lihat tadi malam,Liona memutuskan bersembunyi supaya keberadaannya tidak disadari oleh kedua saudarinya itu.Namun,ia memasang telinganya tajam untuk mendengarkan percakapan antara kedua saudarinya itu.


"Emosimu sudah stabil?"tanya kak Lyn kepada Zia.


"Sedikit"jawab Zia.


"Mau kakak antar kesekolah?"tanya Kak Lyn terdengar berbicara lembut tak seperti biasanya datar.


*Kak Lyn bisa berbicara selembut itu kepada manusia?*batin Liona mendengar cara kakak ketiganya itu bicara.


"Kakak serius mau mengantarku kesekolah?"tanya Zia terlihat tak percaya.


"Ya"jawab kak Lyn.


"Baiklah ayo,Zia mau kakak antar"ujar Zia memasang raut wajah bahagia.


"Tak jadi,bukankah pulang sekolah kau akan pergi?"ujar kak Lyn kepada Zia,Lyn mengingat pembicaraan adik bungsunya itu dengan Liona adiknya yang satu lagi tadi dimeja makan.


"Tak masalah soal itu,aku bisa meminta salah satu orangku untuk menjemputku nanti atau kalau tidak mengantar mobil untukku kesekolah" ujar Zia.


"Kalau begitu,ayo masuk mobil.Kakak antar"ajak Lyn kepada Zia,adik bungsunya itu langsung melompat lompat kecil seperti anak kecil.


*Secepat itu mengembalikan senyuman, putrimu mami?*batin Lyn,tanpa sadar bibir gadis itu sedikit tertarik keatas untuk tersenyum tipis.


"Jangan melompat,sini mendekat. Akanku pasangkan dasimu dulu"ujar Lyn kembali berbicara dengan nada datarnya dan meski demikian ia berbicara cukup panjang.


Zia mengangguk kecil menuruti perkataan sang kakak,gadis itu mendekat kemudian Lyn kakaknya langsung memasangkan dasi sekolahnya dengan cepat.


"Selesai ayo masuk mobil"ujar Lyn datar,mengusap pucuk kepala sang adik dengan lembut.