
"Gue nunggu makanan gue diantar dulu Lio,tadi katanya mama mau nganter bubur kesini"ujar Zia yang sabar menghadapi kebawelan saudarinya itu.
"Ooh bilang dong dari tadi"ujar Liona.
"Lo-nya gak ngasih gue kesempatan ngomong Lio"balas Zia,gadis itu menjulurkan tangannya mengambil laptop kecil miliknya yang terletak diatas nakas.
"Kalau lagi kurang enak badan,jangan ngurusin kerjaan dulu ngapa dek"ujar Liona melihat pergerakan adiknya yang tengah mulai mengotak atik laptop dipangkuan.
"Gue cuma mantau laporan orang perusahaan aja kok,habis itu udah"saut Zia yang sudah mulai fokus pada layar monitor laptop guna memantau perkembangan perusahaannya.
Tok...tok...tok...pintu kamar diketuk beberapa kali kemudian terbuka dan nampak Sela sang mama yang berjalan memasuki kamar sibungsu dengan membawa nampan dengan semangkok bubur dan teh hangat diatasnya.
"Lio,kamu disini sayang?"tanya Sela melihat keberadaan anak keempatnya itu.
"Iya ma"saut Liona.
"Mama pasti nganterin bubur buat Zia-kan,tuh orangnya lagi sibuk sama laptop sampai gak sadar mama dateng"lanjut gadis itu.
"Siapa yang gak sadar?gue sadar kok mami dateng"ujar Zia yang langsung mengalihkan pandangannya dari layar monitor laptop kearah sang mami.
Sela hanya tersenyum melihat interaksi kedua putri terbungsu dikeluarga itu,wanita itu langsung meletakkan nampan diatas nakas lalu mengambil posisi duduk dipinggiran ranjang tempat tidur sang bungsu.
"Ayo simpan dulu laptopnya sayang,biar mami suapin kamu makan buburnya"ujarnya yang telah memegang mangkok bubur ditangannya.
Zia menyimpan laptop miliknya disisi lain tempat tidurnya,kemudian tangannya langsung meraih mangkok tempat bubur yang ada ditangan sang mami dengan perlahan
"Gak usah disuapin mi,aku bisa makan sendiri kok"ujar gadis itu menolak untuk disuapi,seperkian detik kemudian ia mulai menyuap bubur itu sendiri masuk kedalam mulutnya.
Sela hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan putri bungsunya itu,meski ia sedikit sedih karena tidak jadi memiliki kesempatan untuk menyuapi anaknya itu,tapi mau bagaimana lagi ia juga tak punya banyak hak untuk memaksakan sesuatu kepada gadis muda yang tengah sakit itu.
Dari arah meja belajar,Liona dapat menangkap raut wajah kekecewaan mamanya itu.Meski sangat tipis dan hampir tak dapat dilihat orang lain,tapi Liona masih bisa menyadari hal itu.Pandangannya kini beralih kepada adik bungsunya yang tengah sibuk memakan bubur yang dibawakan mamanya sendiri.
"Kok lo gak mau disuapin sih dek, padahal asik tau kalau disuapin?"
tanya Liona kepada Zia.
"Ooh,gak biasa aja"saut Zia
"Gak biasa gimana maksudnya?"tanya Liona lagi.
Zia mendongak dengan mulut yang masih penuh,ia menelan bubur dimulutnya itu dengan mudah kemudian berkata
"Lagian kalau masih bisa nyuap sendiri,kenapa harus minta disuapin sama orang lain coba"lanjut Zia.
Kemudian ia kembali fokus menghabiskan bubur didalam mangkok itu,Zia kini tidak sadar kalau ada bagian dari perkataannya tadi yang membuat dua anggota keluarganya yang kini ada didalam kamarnya ini merasa sedih dan mungkin sedikit kecewa.
*Orang lain?*batin Liona dan sang mama bertanya tanya,kedua orang itu kini terus menatap lekat gadis yang berwajah pucat itu dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Mi,tolong tehnya dong"pinta Zia bersuara,memecah keheningan yang sempat tercipta beberapa saat.
Sela langsung tersadar dari lamunannya kemudian segera meraih gelas berisi teh hangat yang dirinya bawa bersama bubur tadi,wanita itu langsung membantu meminumkannya kepada sibungsu.
"Udah habis buburnya?"tanya Sela melihat mangkok yang sudah kosong setelah selesai meminumkan teh tadi kepada sibungsu.
"Udah mi,makasih bubur dan tehnya"ucap Zia sambil tersenyum.
"Sama sama,dan seharusnya kamu gak perlu makasih gitu sama mami"saut sang mami.
"Lah kenapa gak perlu?"tanya Zia heran.
"Ya itu karena udah tugas mama buat jagain anaknya,masa itu aja lo gak tau.kayak gak pernah diperhatiin seorang mama aja lo"bukan sang mami yang menjawab melainkan Liona saudarinya.
Zia menoleh dan menatap kearah Liona sambil sedikit menaikkan sebelah alisnya
"Emang gak tau dan gak pernah"jawab Zia yang kini sudah beradu tatapan dengan Liona.
Saat itu juga,Liona langsung menayadari kalau perkataan yang tadi ia ucapkan asal ceplos itu adalah hal yang salah jika ditujukan kepada adik bungsunya itu.
"Sudah,sekarang Zia ayo istirahat.
Kalau ada kerjaan biar dipending dulu sampai kamu enakan ya sayang. Dan buat Liona,ayo balik kekamar kamu sayang.Jangan gangguin adik kamu yang mau istirahat"ujar Sela kepada kedua putrinya itu.
"Iya ma/mi"jawab Liona dan Zia hampir bersamaan.
Zia-pun mulai menurunkan punggung dan kepalanya yang tadinya bersandar kebelakang,ia mengubah posisinya menjadi tiduran.Sang mami membantu menaikkan selimut sampai kebawah lehernya,melihat Zia yang akan istirahatpun membuat Liona beranjak dari meja belajar sang adik.
"Selamat istirahat sayang"ucap sang mami mengusap pucuk kepala Zia dengan lembut beberapa kali,sebelum akhirnya beranjak meninggalkan kamar gadis itu disusul Liona dari belakang.
Setelah mendengar pintu kamarnya ditutup dari luar,Zia kembali membuka matanya yang tadi sempat terpejam.Gadis itu mengangkat tangannya kemudian menyentuh kepalanya sendiri,kemudian tersenyum tipis.Setelah melakukan itu,Zia kemudian memiringkan posisi berbaringnya lalu kemudian mulai memejamkan matanya kembali untuk beristirahat.