
Pagi yang baru tentu berarti hari baru pula,namun hari yang baru belum tentu masalah dihari sebelumnya belum usai.Itulah menurut Zia,buat yang paham aja kalau enggak paham yaudah gak usah dioikirin nanti malah jadi beban pikiran buat kalian.
Sudah sejak lima menit yang lalu,
Zia berdiam diri dikamar mandi menatap pantulan dirinya dicermin depan wastafel.Gadis muda itu menatap seragam sekolahnya yang tak sengaja terkena darah mimisan yang keluar dari hidungnya,ya gejala penyakitnya tiba tiba kambuh pagi ini.Padahal tadi dirinya sudah hendak keluar dari kamarnya berniat bergabung dengan keluarganya dimeja makan untuk sarapan bersama,tapi tiba tiba saja ia merasakan tetesan darah jatuh dari hidungnya.
Lihatlah wajah dan bibir pucatnya sekarang,sudah jelas gadis itu sedang tidak baik baik saja.
Zia berjalan tertatih keluar dari dalam kamar mandi,seragam sekolahnya yang terkena darah mimisan telah dilepas.Sehingga gadis itu hanya menggunakan baju kaos lengan pendek warna putih polos.Zia terduduk dilantai kamar bersandar pinggiran keranjang tempat tidut,tubuhnya terasa lemas setelah mimisan selesai.Baiklah sepertinya Zia tak jadi berangkat sekolah,ia lebih butuh dokter sekarang.
Zia membuka laci nakas lalu meraih botol obatnya dari dalam sana,ia langsung menelan pil obatnya tanpa ragu ragu dengan bantuan air putih diatas nakas.
*Sial,ini sudah kedua kalinya.Bahkan belum 24 jm*batin Zia merutuki dirinya sendiri,kemarin malam penyakitnya juga kumat tepat beberapa saat setelah dirinya pulang dari pesta perusahaan milik papanya.
Beruntung saat itu dirinya bisa mencapai kamar tanpa dicurigai terlebih dahulu oleh keluarganya, efeknya?ia hampir tak tidur semalaman karena menahan gejala yang kambuh dan tak bisa teratasi dengan baik oleh obat.Sembari menunggu obat bekerja,Zia mengirim pesan kepada kak Anna untuk menjemputnya secepat mungkin.
Zia:
Kak,jemput.Tlg antar gue kerumah sakit.Tunggu diluar aja.
Beberapa saat berlalu setelah merasa dirinya sudah mulai stabil dan sudah mendapat balasan dari kak Anna,Zia segera bangkit dari posisinya.Gadis itu mengambil hoodie dari lemari dan langsung mengenakannya untuk menutupi baju kaosnya,ia sejak tadi sudah mengenakan celana panjang.
Selesai bersiap seadanya dan saat itulah balasan pesan yang dikirim tiba,itu membuatnya sedikit lega.
Kak Anna:
OTW,5 menit
Keadaan diruang makan terlihat seluruh keluarga Antara-sibungsu baru memulai kegiatan sarapan mereka.Tuan Renal yang memperhatikan penghuni meja makan tak dapat menemukan putri bungsunya,laki laki itu merasa heran tak biasanya putri bungsunya itu selama ini turun untuk sarapan.
"Kalian tadi tidak ada yang memeriksa apakah adik kalian sudah bangun atau belum?"tanya laki laki itu kepada ketiga putrinya yang lain.Gia,Lyn,serta Liona kompak menggelengkan kepala mereka mendengar pertanyaan papa mereka itu.
"Mama?"kini tuan Renal bertanya kepada istrinya.
"Mama tidak memeriksanya pa,Zia hampir tak pernah butuh seseorang untuk membangunkannya dipagi hari terkecuali hari minggu"ujar Nyonya Sela menjawab pertanyaan dari sang suami.
"Lalu kenapa Zia belum turun,apa ku periksa saja"tuan Renal bergumam dan papa lima anak itu nampak hendak beranjak berdiri dari tempatnya namun perkataan putra sulungnya menghentikannya.
"Itu adek udah turun pa"ujar Arga kepada papanya.
Tuan Renal dan yang lain langsung menoleh kearah kedatangan sibungsu,
benar saja anak bungsu dikeluarga itu sudah terlihat.Namun semuanya nampak memasang wajah heran karena Zia tidak mengenakan seragam sekolah,padahal sudah jelas hari ini dia harus masuk sekolah sama halnya dengan Liona.
"Zia kenapa kamu tidak pergi sekolab nak?"tanya tuan Renal kepada putri bungsunya itu.
Zia yang awalnya berniat langsung pergi melewati meja makan itu langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kesamping tepat menatap papanya.Gadis itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban,dalam hati Zia berdoa supaya tidak mendapat pertanyaan lain yang mengharuskan dirinya harus menguras energi untuk bicara karena tubuhnya masih terasa lemas sekali.
"Itu kar..."
Drtt drtt...sebuah panggilan masuk keponsel Zia langsung menghentikan Zia yang hendak menjawab pertanyaan dari papanya,gadis muda itu langsung mengangkat panggilan itu karena itu dari kakak Angkatnyq yaitu kak Anna.
"Halo kak"
"Kakak sudah sampai"kak Anna
"Baiklah,aku akan segera keluar"
ujar Zia,gadis itu melirik kearah keluarganya sebentar.
"Kamu masih kuat berjalan sendirikan?atau mau kakak bantu saja?"kak Anna
"Tidak perlu,tunggu saja dimobil,aku keluar sekarang"ujar Zia.
Dengan ponsel yang masih menempel ditelinga,gadis itu membungkukkan badan kearah anggota keluarganya sebentar untuk berpamitan setelah itu langsung melenggang pergi meninggalkan area meja makan itu.
"Iya,aku datang"
Suasana sedikit hening kini,tuan Renal menatap punggung putri bungsunya yang semakin menjauh itu.
"Apa apaan anak itu,dia bahkan tak mengeluarkan sepatah katapun untuk berpamitan kepada mama dan papa"
Dumel Gia.
"Sudahlah Gia,mungkin adik kamu tadi sedang buru buru.Pasti ada urusan pekerjaan"ujar sang mama menyauti putri tertuanya.
"Buru buru untuk apaan ma,mana ada orang mau kerja yang cuma pakai hodiee aja.Alasan aja itu"ujar Gia membantah argumen sang mama dengan menggebu gebu.
"Sudahlah Gia,kita lanjut sarapan saja.Jangan membuat keributan pagi pagi begini"Arga menegur kembarannya itu.
"Lihatlah kalian selalu membelanya" rutuk Gia.
Liona dan Lyn hanya diam saja tak mau bicara karena tak mau memperpanjang masalah.
Tuan Renal hanya diam mendengar perdebatan anak anaknya itu,pikiran laki laki itu kini sepenuhnya tertuju pada putri bungsunya.
"Kenapa aku harus meminta izin kepada papa?memangnya papa berhak melarangku?"
Laki laki paruh baya itu menggelengkan kepalanya sendiri pelan setelah kata kata putrinya yang tadi malam kembali terlintas dipikirannya.