
"Sebenernya sih masih ada alasan lain,Lo tau kata kata yang kirim Ken beberapa hari terakhir ini mencurigakan banget"ujar Zia.
"Mencurigakan banget gimana?"tanya Juna mengerutkan keningnya.
"Iya mencurigakan,dan terakhir kali gue ngerasain kayak gini itu pas dulu.Dan ternyata perasaan aneh gur waktu itu terbukti dengan saudari gue balik rumah mewek,karena temen sialan lo itu dengan tanpa hatinya izin buat deketin gue.Padahalkan gue tau 100% kalau temen lo itu tau, kalau Lio suka sama dia"jawab Zia.
"Ya bisa aja kali ini lo salah kira gitu,saking risihnya sama temen gue"ujar Juna.
"Gak gue yakin sama insting gue"ujar Zia penuh keyakinan.
"Seyakin itu?"tanya Juna.
Huh...Zia membuang nafasnya kasar melihat Juna masih terlihat tidak yakin dengan perkataannya
"Asal lo tau ya,salah satu kelebihan gue itu ada diinsting dan naluri gue terhadap suatu hal.Selama ini penilaian gue akan sesuatu apapun itu 99% itu bener tau gak lo"ujar gadis itu.
"Berarti masih ada kemungkinan 1% salah dong"ujar Juna.
"Ya yang satu 1% itu anggap aja sifat alami manusia yang tentu pernah salah"ujar Zia.
"Berar...."baru juga Juna mulai berbicara tapi sudah dipotong oleh Zia terlebih dahulu.
"Lo dari tadi banyak bacot banget sih,heran gue ada mulu bantahan lo.
Sekarang cepet ambil keputusan ya atau enggak,gue itu sibuk gak bakal bisa ladenin bacotan lo sampe malam"
Ujar Zia mulai naik darah.
"Kalau lo tanya mau gue jelas mau, sama penawaran lo tentang ayah gue. Tapi gue gak enak sama Juna,diakan temen baik gue"ujar Juna.
"Baru temen baikkan belum jadi sahabatkan?"tanya Zia,Juna mengangguk mengiyakan.
"Ngapain lo ngerasa gak enak,lagian ini juga karena ulah dia sendiri yang bikin gue risih trus bikin saudari gue makan hati mulu"
"Lagian kalau bener Ken itu temen baik lo,kenapa dia terus manfaatin lo buat ngasih semua hadiah keloker gua pagi pagi buta?mana bukan sekali dua kali lagi tapi hampir tiap hari"ujar Zia yang jengah dengan jalan pikir Juna.
"Trus itu bekas lebam dimuka lo juga,itu Ken yang bikinkan pas lo bantuin gue sabtu kemarin?"tanya Zia.
Juna sontak langsung refleks menutupi lebam didagu sebelah kirinya,pemuda itu kaget bagaimana gadis didepannya itu tahu tentang hal itu.
"Gi-gimana lo bisa tau?"tanya Juna kaget.
"Ada seseorang yang ngasih tau gue soal itu,dan lo gak perlu tau siapa orangnya?"jawab Zia tenang.
"Gue gak nyuruh lo buat celakain atau musuhin temen lo itu, gue cuma minta informasi yang bisa menghindari gue terkena masalah kedepannya atau bisa dibilang gue mau antisipasi.Lagian bukannya hal ini bisa nyelamatin kehormatan ayah dan keluarga besar lo dari diinjak injak orang tuanya Ken,kerjasama ini prinsipnya saling menguntungkan"
lanjut Zia,setelah itu ia diam memberi waktu cowok didepannya itu untuk berfikir sejenak.
Juna tau bagaimana perjuangan ayahnya untuk mengembalikan citra dan pamor perusahaan ayah temannya yang dulu hampir saja bangkrut akibat ketidak becusan sebagian besar eksekutif perusahaan itu, ayahnyalah satu satunya orang lama yang bertahan disamping papanya Ken untuk berjuang memulihkan perusabaan yang tengah kebangkrutan itu.
Namun setelah kerasnya perjuangan ayahnya supaya perusahaan itu mulai membaik dan akhirnya sesukses sekarang,Papanya Ken seolah olah lupa balas budi.Orang sombong itu dengan angkuhnya tak pernah mengakui sedikitpun jasa ayahnya,bahkan jabatan milik ayahnya yang saat itu masuk dalam jajaran karyawan eksekutif diperusahaan mendadak diturunkan dan menjadi ketua salah satu tim kecil kerja perusahaan.
Kalian mau tau penyebabnya apa?hal itu terjadi cuma karena banyak karyawan yang membandingkan keuletan kerja ayahnya dibanding pimpinan perusahaan itu sendiri,posisi ayahnya langsung diturunkan begitu saja padahal kinerja ayahnya tak menunjukkan masalah kembali.
Juna dulu juga pernah bantuan kepada Ken tentang hal itu,namun temannya itu dengan santainya mengatakan kalau itu hak ayahnya sebagai bos dan bawahan tentu harus menurutinya. Temannya itu juga mengatakan kalau bukan karena kebaikan hati papanya, mungkin ayahnya akan langsung dipecat oleh ayahnya Ken.
Masalah keluarganya semakin bertambah dengan semakin mulai timbulnya masalah keuangan,kakak perempuan Juna yang sudah terlanjur masuk kefakultas kedokteran semester tiga mulai memerlukan uang yang banyak untuk biaya kuliah.Belum lagi uang sekolahnya diHantara yang nilainya juga cukup tinggi, keluarganya semakin terpuruk apalagi uang tabungan orang tuanya juga semakin hari semakin menipis.
Zia memerikasa laporan saham miliknya dari laptop kerjanya sembari menunggu Juna untuk berfikir akan mengambil keputusan apa,gadis itu siap apapun nanti keputusan yang akan Juna ambil.Meski didalam hati ia sangat yakin dengan pasti kalau Ken akan menerima tawarannya itu.
"Gue mau,gue ambil tawaran lo"ujar Juna yang akhirnya bersuara.
Zia mendongak kedepan lalu tersenyum
"Lo yakin dengan keputusan lo?tanya gadis itu.
"lo harus tau sekalinya lo setuju,itu gak bisa dibatalin lagi" lanjut Zia.
"Gue yakin dengan jawaban gue,gue setuju dengan syarat yang lo ajuin itu"ujar Juna
"Setelah gue renungin semua perkataan lo tadi,lo emang bener.
Ken mungkin memang temen baik gue, tapi kali ini nasib keluarga gue bakal jauh lebih penting dari apapun"ujar cowok itu penuh keyakinan.
Zia mengangguk angukkan kepalanya pelan,gadis itu segera menatik laci pada meja kerjanya kemudian mengeluarkan sebuah map coklat yang tersegel dari dalam sana lalu menyodorkannya kepada Juna.
"Kasih ini ke ayah lo,minta dia buat baca dan pasti dia paham apa isinya" ujar Zia kepada Juna.
"Emang apa isinya?"tanya Juna penasaran,pemuda itu menerima map coklat itu ditangannya.
"Surat tawaran pekerjaan"jawab Zia.
"Maksud lo,bukannya perjanjiannya gak kayak gitu?"tanya Juna tak mengerti.
"Emang gak gitu,tapi lo yakin gitu bilang kalau pekerjaan ini gue kasih karena perjanjian itu ke ayah lo?gak mungkinkan,ayah lo gak perlu tau tentang perjanjian itu cukup kita aja.Lagi pula gue gak mau ayah lo ngerasa kalau dia dapet posisi itu bukan karena kemampuannya,itu bisa dianggap meremehkan kemampuannya. Jadi sekarang tugas lo buat bujuk ayah lo biar terima pekerjaan itu, lo paham maksud guekan"jelas Zia.
"Oke gue paham,maksud lo"saut Juna sambil mengangguk.
"Kalau gitu lo boleh pulang,gue tunggu kabar baiknya"ujar Zia.
"Hm,kalau gitu gue pamit dulu.Oke gua bakal kasih kabar secepatnya, permisi"pamit Juna langsung pergi meninggalkan ruangan Zia itu.
*Gue sebenernya paling males gunain kekuasaan gue,tapi lo gak bisa dikasih tau baik baik Ken*batin Zia sambil menatap datar pesan yang baru masuk dilayar hpnya.