
~Kampus~
Lyn sedang berada dikelasnya,gadis berwajah dingin itu kelihatan serius sangat memperhatikan dosen yang sedang berbicara didepan.Tapi itu hanya terlihat diluarnya saja tapi sebenarnya pikiran gadis itu sama sekali tidak pada apa yang ia lihat, ia sedang memikirkan sesuatu saat ini.Sahabatnya yang duduk disebelahnya dapat melihat hal itu dari jari telunjuk gadis itu yang sejak tadi tak bisa diam dan terus mengetuk ngetuk meja dengan pelan,
sahabat Lyn itu sesekali melirik Lyn mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan gadis itu saat ini.
Akhirnya setelah satu setengah jam kelas selesai juga,dosen juga sudah pergi meninggalkan ruang kelas.
Kondisi Lyn masih sama yaitu hanya diam saja seperti patung,sampai akhirnya suara dari orang disebelahnya berhasil mengeluarkan ia dari dalam pikiran dirinya sendiri.
"Lo lagi mikirin apa sih Lyn,dari tadi gue perhatiin?"tanya orang yang duduk disebelahnya itu.
"Gak ada"jawab Lyn singkat.
"Gak usah bohong,gue itu udah jadi sahabat lo sejak smp ya.Kalau orang lain yang lo jawab kayak gitu pasti langsung percaya,kalau gue mah gak bakal percaya"ujar orang itu.
"Ayo cepet sini kasih tahu sama Callie sahabatmu yang paling cantik,baik hati,dan tidak sombong ini"lanjut sahabat Lyn yang ternyata bernama Callie itu.
Setelah berfikir sejenak akhirnya Lyn memutuskan untuk memberitahu Callie yang mungkin bisa dibilang sahabatnya itu
"Hadiah ultah cewek,cocok apa?"tanya Lyn kepada Callie berusaha menggunakan kata sehemat mungkin.
"Siapa yang ulang tahun emang?" bukannya menjawab Callie malah bertanya balik.
"Saudari"jawab Lyn singkat.
"Lah bukannya seingat gue bulan ini saudari2 lo gak ada yang ultah ya, saudari lo yang mana?"tanya Callie lagi.
"Zia"jawab Lyn singkat menyebut nama adik bungsunya.
Callie yang mendengar nama itu langsung memeriksa kening sahabatnya menggunakan punggung telapak tangannya,Lyn yang risih langsung menyingkirkannya.
"Kesambet apaan lo,sampai sampai punya inisiatif buat beliin kado ultah buat adik bungsu lo.Mana sampai pusing mikirin lagi"ujar Callie kepada Lyn dengan muka kagetnya.
"Lebay"ujar Lyn.
"Bukan lebay njir tapi kaget,syok, dan hampir terjungkal gue.Gini ya sahabatku tercinta,sebelum sebelumnya lo gak pernah tuh sampai pusing mikirin hadiah apa yang pengen lo kasih sama kakak dan adik lo.Lah ini sama adik bungsu lo yang mungkin hampir gak pernah namanya mau lo sebut,lo sampai segitunya mikir.Gimana gue gak kaget coba"jelas Callie.
"Atau jangan jangan lo udah menerima adik bungsu lo itu ya?"tanya Callie dengan tatapan penuh selidik.Lyn tak merespon,dia hanya diam tak tahu harus menjawab apa.Callie yang tak mendapat jawaban apapun dari sahabatnya itu langsung menganggukkan kepalanya pelan,ia langsung mengerti jawaban dari pertanyaannya dirinya itu.
Callie berdiri dari tempat duduknya kemudian menoleh kearah Lyn
Lyn langsung dengan cepat berdiri membawa tas dan bukunya mendengar perkataan sang sahabat yang berkata akan membantunya,keduanyapun pergi meninggalkan ruangan mereka.
Callie bisa dibilang sahabat satu satunya yang dimiliki Lyn sampai sekarang,siapa sangka tentunya Lyn yang memiliki sifat sangat dingin, tertutup,minim kata,dan memiliki sifat yang tak tersentuh bisa memiliki seorang sahabat yang bertahan dengan segala sifatnya itu sejak SMP.
Awal Lyn dan Callie bisa bersahabat itu dimulai saat SMP kelas satu semester 2,saat awal semester 2 Callie pindah ke SMP dimana Lyn ssekolah kemudian ditempatkan satu kelas.Wali kelas mereka saat itu menunjuk Lyn sebagai teman sebangku Callie yang merupakan anak pindahan, eit jangan kalian pikir mereka langsung akrab begitu saja.Tentu saja tidak besti,keduanya sempat tidak akur sama sekali karena perbedaan sikap dan cara berfikir.
Bahkan saking tidak akurnya saat itu,Callie bahkan sempat menagis karena ribut dengan Lyn.Penyebabnya adalah Lyn yang membentak Callie dengan kata kata tajam menusuk hati karena gadis itu merasa ketenangannya terganggu dengan Callie yang sangat heboh dan pecicilan serta suaranya yang melengking memecahkan telinga,Tentu kalian masih ingat bukan kalau Lyn sangat tidak suka jika ketenangannya diusik orang lain.
Tapi ketidak akuran mereka hanya berlangsung dua bulan saja,setelah keributan terakhir keduanya yang sampai membuat Callie menangis dan guru mereka memaksa keduanya untuk saling meminta maaf satu sama lain keduanya mulai berteman.
Dimulai dari Lyn yang mulai terasa terbantu dalam hal berkomunikasi dengan orang lain karena ternyata Callie bisa dengan mudah menerjemahkan arti perkataannya yang sangat minim dan acak,Callie juga yang merasa terbantu dengan otak cerdas otak milik Lyn.Keduanya lama kelamaan semakin akrab dan akhirnya menjadi sahabat.Keduanya juga memtutuskan untuk melanjutkan pendidikan SMA di tempat yang sama yaitu SMA yang sama tempat Liona dan Zia bersekolah saat ini,bahkan saat memasuki jenjang perkuliahan pun mereka sepakat mengambil jurusan kedokteran dikampus yang sama.
~Gia~
Seorang wanita berusia 21 tahun saat ini terlihat sibuk mengerjakan sesuatu pada komputer didepannya, wanita itu adalah Gia putri tertua Renal Antara.Gia saat ini berada diruangan kerjanya diperusahaan, wanita itu terlihat sangat tenggelam dalam pekerjaannya.
Ceklek...suara pintu tempat ruangannya berada saat ini dibuka oleh seseorang kemudian orang itu masuk kedalam ruangan dan menghampiri sofa dan duduk disana,
Seseorang yang duduk disofa yang terletak tak begitu jauh dari meja kerja Gia didalam ruangan itu merupakan seorang laki laki.
Laki laki tadi menopang dagunya dengan tangan kemudian menatap Gia dengan sangat seksama
*Gia lagi serius gini,tambah cantik* batin laki laki itu sambil senyum senyum sendiri.
Gia sendiri bukan tak sadar kalau ada orang lain didalam ruangannya selain dirinya sendiri tapi ia memilih bodoh amat saja,namun lama kelamaan ia mulai jengah.
"Berhenti menatapku seperti itu Jevan"ujarnya kepada sosok laki laki pendatang diruangannya.
"Kamu juga berhenti memerhatikan komputer dihadapanmu itu dan ayo temani aku makan siang,Nona Gia Antara"balas laki laki yang ternyata bernama Jevan itu.
"Pergi saja sendiri,aku sangat sibuk"saut Gia.
"Jangan berbohong Gia,Arga bilang padaku kalau kamu tak sibuk dan tak punya jadwal meting atau pertemuan apapun hari ini"ujar Jevan kepada Gia.
"Apalagi yang kembaranku itu katakan padamu?"tanya Gia memasang wajah kesal.
"Arga mengatakan supaya aku bisa menyeretmu keluar dari ruangan ini untuk makan siang,tapi tentunya aku tak akan menyeretmu seperti yang dia katakan"jawab Jevan.
"Arga sialan"umpat Gia tanpa ragu mengumpati kembarannya itu,ia kesal bisa bisanya Arga menyuruh orang untuk menyeretnya keluar dari ruangan kerjanya ini.