One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 211



"ZIA!"


suara Liona terdengar memanggil Zia sambil berlari kearah keduanya duduk,memutus begitu saja percakapan yang belum selesai dari kedua saudari itu.


"Jangan lari lari Lio,nanti lo jatuh"tegur Zia saat melihat saudarinya itu berlari kearahnya.


"Dek ayo gabung main voli yuk sama yang lain"ajak Liona yang tak mengacuhkan teguran Zia itu.


"Gak ah,males gue"tolak Zia langsung tanpa basa basi akan ajakan saudarinya itu.


"Ayo dong,jangan ngadem mulu disini.


Jangan ketularan magernya kak Lyn"


ujar Liona berusaha membujuk adiknya itu agar mau.


"Enggak,nanti gue kecape-an gimana?"


saut Zia masih berusaha menolak.


"Cuma bentar doang kok,lagian lo dari tadi juga gak punya kegiatan apa apa selain duduk doang.


Ayok Zia"Liona masih berusaha membujuk Zia dengan menarik paksa kedua tangan adiknya itu.


"Eh jangan ditarik,gue gak mau Lio"ujar Zia masih berusaha menolak.


"Gak harus mau"ujar Liona terus menarik tangan Zia sampai adiknya itu berdiri kemudian menyeretnya mendekat ketempat dimana kedua orang tua dan kedua kakak tertuanya menunggu mereka untuk bergabung dalam permainan.


Zia yang diseret paksa oleh saudari keempatnya itu akhirnya hanya bisa pasrah,tenaga Liona saat ini lebih banyak dari pada dirinya.Ia hanya berdoa ini hanya sebentar,sehingga energinya tidak benar benar terkuras habis karena kalau iya maka akan berbahaya untuknya.


"Ini pa,adek mau ikut kok"ujar Liona yang masih menggandeng tangan Zia.


"Adik kamu mau ikut sukarela atau karena kamu paksa ikut nih?"respon sang Papa.


"Sukarela mau ikut kok,iya gak dek?"ujar Liona menggoyangkan tangan Zia.


"Iya pa,Zia Sukarela mau ikut kok"ujar Zia pasrah dengan senyuman yang bisa dibilang agak diterpaksa,


mau nolak tapi Liona udah natap dia pakai muka melas.


*Ikut aja Zia,mudah mudahan gak lama main Volinya biar lo baik baik aja* batin Zia.


"Yausudah kalau begitu,Zia gabung sama tim mama dan papa aja.Biar kakak sama dua saudari kamu satu tim"ujar kak Arga membagi tim.


"Anak mami,bisa main volikan?"tanya sang mami padanya.


"Dikit mi"jawab Zia.


"Yasudah kalau gitu kamu ditengah gih,kamukan jago main basket dek.


Mudah lompat buat blok bola"pinta sang papa padanya.


Zia mengangguk dan mengambil posisi ditengah diantara kedua orang tuanya.


"Oke udah siap diposisi masing masing,sekarang ayo kita mulai"ujar kak Arga memberi aba aba mulainya permainan dengan menyerpis bola terlebih dahulu,btw bola volinya mereka bawa dari villa ya.


Lyn dari kejauhan memperhatikan keluarganya yang sudah mulai bermain voli lagi,gadis itu mengambil kamera palaroid yang sejak awal ia bawa kesana.Dengan kamera itu dirinya mulai menangkap gambar keluarganya,dengan banyak jepretan.


Kembali ditempat yang bermain voli lagi,enam orang yang merupakan anggota keluarga itu terlihat bermain cukup serius bermain.Nampaknya kedua tim memiliki ambisi masing masing untuk menang dari tim lawan,Zia yang sejujurnya tak terlalu tahu dan main dalam permainan seperti ini juga terlihat bermain cukup baik khususnya dalam pertahan.


Gadis itu memanfaatkan skill lompatan pemain basket miliknya, untuk membendung bola yang datang dari jarak yang cukup tinggi.


Ia memblokir hampir semua serangan yang diberikan oleh tim kakak kakaknya bahkan saat posisi bola masih jauh dari pasir,sedangkan papa dan maminya bertugas dalam penyerangan.


"Bagus dek,blokir terus serangan kakak kakak kamu.Biar yang penyerangan serahkan ke papa dan mami-mu"ujar tuan Renal yang tampak semangat dalam permainan.


"Benar yang dibilang papamu dek,serahkan pada kami.Tim kita harus menang,biar tidak mendapat hukuman"nyonya Sela juga ikut membakar semangat timnya.


"Siap Pa Ma"saut Zia yang tampak lupa akan kekhawatirannya pada dirinya diawal tadi,semangat tanding gadis itu membara sekarang.


Berbeda dengan tim kedua orang tua dan sibungsu,tim lawan yang beranggotakan tiga kakak Zia itu nampak menggeram kesal karena tengah berada diambang kesalahan.Tak mengira mereka bertiga yang muda muda ini bisa kalah dengan adik bungsu mereka dan orang tua mereka yang jelas memiliki kondisi fisik yang kalah dari mereka bertiga.


"Kenapa tim papa jadi OP seperti itu?"ujar kak Arga sedikit tak terima karena tertinggal poin.


"Kakak sih kenapa masukin sibungsu ketim papa coba,Zia kan jago kalau urusan lompat tinggi menghalau bola dari kita"ujar Liona.


"Sory Lio,kakak lupa kalau sibungsu itu dasar fisiknya pemain basket" ucap kak Arga.


"Udah gak usah banyak ngomong,kita harus kalahin mereka"ujar kak Gia ikut bicara,tatapan perempuan muda itu menajam menatap tak suka pemain termuda ditim sebelah dan siapa lagi kalau bukan Zia saudarinya sendiri.


Gia tak suka kalau gadis remaja itu bisa senyum selepas itu ditengah tengah kedua orang tuanya,dirinya juga tak suka sampai kalah dan berada diposisi dibawah Zia.


*Gue gak bakal kalah sama anak parasit kayak bocah itu*batin Gia penuh amarah.