One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 117



"Kakak sudah menyelesaikan membaca semuanya?"tanya Zia kepada kak Lyn.


"Sudah"jawab Lyn singkat.


"Mama pasti dulu orang yang rajin,sehingga mau repot repot menulis buku itu untuk diberikan kepada kita berdua putri kesayangannya"ujar Zia


"Putri kesayannya hanya kau bukan aku"saut Lyn datar melihat kearah Zia.


Zia menggelengkan kepalanya pelan kemudian berkata


"Enggak,kakak itu putri kesayangan mama yang pertama"ujar Zia kepada Lyn kakaknya.


"Mama tulis itu dibuku harian yang ada padaku"lanjut Zia.


Melihat kakaknya tak memberi respon, Zia memutuskan untuk lanjut bicara.


"Kakak tahu,dulu aku selalu merasa iri kepada kakak setiap membaca buku itu.kakak ingin tahu mengapa?"tanya Zia,kak Lyn tanpa sadar mengangguk mendengar pertanyaan adiknya itu.


"Itu karena sepanjang aku membaca semua tulisan mama pada buku itu, mama sangat sering menulis nama kakak dan menceritakan betapa bahagia serta bangganya dia karena kakak selalu menjadi yang paling dekat dengan mama dibanding kakak kakak yang lain.Mama juga menulis penuh keyakinan kalau kakak akan menjadi salah satu putrinya yang akan tumbuh menjadi gadis yang paling membanggakan,aku sangat iri pada kakak saat membaca semua kata kata yang ditulis mama"ujar Zia sambil menatap kakak ketiganya itu.


Lyn tertegun mendengar perkataan adik bungsunya itu,ia menatap buku yang ada ditangannya itu dengan tatapan yang dalam.Isi tulisan yang terdapat dibuku yang ia pegang sedikit berbeda dengan buku catatan mendiang maminya berikan kepada Zia, gadis itu kemudian balas menatap adiknya dan sebuah senyuman tulus langsung diberikan sang adik padanya.


"Apa isi dari buku catatan yang mama berikan kepada kakak berbeda?"tanya Zia.


"Ya"jawab Lyn singkat.


"Mau kupinjamkan buku yang ada padaku kepada kakak?mama pasti senang jika kakak membacanya"ujar Zia menawarkan kepada kakaknya itu.


"Lain kali saja"jawab Lyn pelan.


"Baiklah lain kali,katakan saja pada Zia jika kakak ingin membacanya.Aku akan senang hati memberikannya"ujar Zia,setelah mengatakan hal itu ia kembali mendongak menatap langit malam.


Keheningan tercipta beberapa saat setelah percakapan itu,Lyn mengeratkan balutan selimut yang hangat pada tubuhnya.Gadis yang berstatus sebagai mahasiswi kedokteran itu diam diam mengamati penampilan sang adik yang duduk disampingnya,Lyn bisa menebak kalau Zia pasti baru pulang dari luar saat menghampirinya kemari.Kenapa Lyn bisa menerka seperti itu,itu karena jaket kulit yang dikenakan Zia.Siapa orang yang memakai jaket kulit seperti itu dirumah,jika memang tak berniat kemana.Sebuah pertanyaan tiba tiba terlintas dipikiran Lyn, pertanyaan yang berhubungan dengan pernyataan adiknya tadi.


"Bagaimana dengan sekarang?"


Zia adiknya langsung menoleh setelah mendengar sebuah pertanyaan meluncur dari mulutnya.


"Maksud kakak?"tanya Zia balik,tanda tak paham dengan pertanyaan yang Lyn ajukan.


"Bagaimana dengan sekarang,apakah kau masih merasa iri pada kakak?"tanya Lyn,entah sadar atau enggak tapi ia kali ini bertanya dengan nada lembut bukan datar lagi seperti tadi.


Entah kenapa tapi Lyn merasa sedikit gugup menanti jawaban yang akan diberikan oleh adiknya itu atas pertanyaannya,apalagi melihat reaksi Zia yang diam saja.Namun semua itu menghilang saat Lyn melihat adiknya itu menggelengkan kepala sambil tersenyum


"Enggak.sejak ketemu kakak dan melihat kakak,Zia udah gak ngerasa iri lagi.Malahan sekarang Zia sadar akan semua yang ditulis mama tentang kakak itu emang benar adanya,kakak tau kenapa aku berfikir begitu?"ujar Zia sedikit memberi menjeda.


Lyn menggelengkan kepala petanda dirinya tak tahu alasannya


"Alasannya karena kakak memang bakal menjadi satu satunya putri mama yang akan bisa sangat diandalkan dan diharapkan untuk ngewujutin keinginan mama"jawab Zia sedikit terkesan aneh menurut Lyn yang mendengarnya.


"Apa alasannya,sampai kamu berpendapat begitu?Kenapa cuma kakak yang bisa jika kamu ada?"tanya Lyn beruntun.


"Bukankah sudah mulai terlihat sekarang dari salah harapan mama yang paling sederhana,mama sejak kecil selalu pengen jadi dokter tapi malah gak bisa karena suatu hal dalam diri mama yang gak mendukung untuk itu.Lihat kakak sekarang,kakak bakal jadi dokter suatu saat nanti sama seperti cita cita mama dan aku sudah jelas tidak akan bisa melakukan hal itu karena takdirku adalah memegang perusahaan keluarga mama"jawab Zia


"Mampu memegang dan menjaga perusahaan dengan baik,itu juga salah satu harapan mami padamu.Kamu sudah bisa mewujudkan hal itu Zia"ujar kak Lyn kepada Zia.


"Kakak memang benar soal itu,aku memang sudah terlatih baik untuk menjaga perusahaan keluarga mama. Perusahaan yang dimana mama perlu mengeluarkan banyak keringat dan waktu untuk menjadikannya besar,sampai diwariskan kepadaku seperti saat ini.Tapi itu hanya berlaku untuk sekarang belum tentu nanti dapat begitu"ujar Zia


"Belum tentu nanti?maksudmu?"tanya Lyn


"Kakak kuliah udah semester berapa?" bukannya menjawab pertanyaan kakaknya itu,Zia malah bertanya tentang topik lain atau mungkin memang sengaja mengalihkan topik.


"Baru masuk semester 4"jawab kak Lyn.


"Hm,masih lama dong jadi dokternya" ujar Zia.


"Ya,masih butuh beberapa tahun lagi.


Kenapa?"tanya Lyn kepada adiknya itu.


"Gak papa,aku harap kakak bisa jadi dokter yang hebat suatu saat nanti" ujar Zia.


"Amin,saat itu tiba pastikan kamu hadir untuk menyaksikan itu terjadi suatu saat nanti"ujar kak Lyn sambil menatap kearah Zia.


Zia hanya tersenyum sebagai respon, kemudian remaja SMA itu bangkit berdiri dari tempatnya duduk.


"Jam dua belas,ini sudah sangat larut malam"ujar Zia melihat tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.


"Sebaiknya kakak tidur sekarang,


lain kali kalau insomnia kakak datang.kakak bisa mendengar musik yang ringan atau minum teh herbal terlebih dahulu sebelum tidur,itu akan membantu"lanjut Zia


Cup...


"Selamat malam dan mimpi indah kak"ucap Zia kemudian langsung pergi dari sana setelah mencuri kecupan dipipi kanan kakak ketiganya itu.


"Adik yang lancang"gumam Lyn pelan sambil mengusap pelan pipi kanannya yang tadi disosor oleh adik bungsunya itu sambil tersenyum tipis.


Lyn kembali mendongak menatap langit


"Putri kesayangan mami ya?Lyn senang mengetahui itu"gumam gadis itu sambil menatap salah satu bintang yang bersinar sangat cerah dibanding bintang disekitarnya.


Perempuan berusia sembilan belas tahun itu mengeratkan selimut yang dipakainya,ia berdiri dari bangku taman kemudian mulai beranjak meninggalkan taman yang berada dibagian belakang bangunan utama keluarganya itu sambil membawa buku catatan yang sejak tadi dipegang erat ditangannya.Lyn melangkah masuk kedalam kediaman keluarganya itu,ia menuruti perkataan adiknya tadi untuk segera tidur.