One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 115



*Adik adik gue kok,gak ada yang bisa jadi tuan rumah yang baik sih?*batin laki laki itu,lagi dan lagi Arga hanya bisa menggeleng maklum.


"Maaf ya,Lyn memang adik kakak yang paling minim dan hemat kata.Jadi mohon maklumi kalau dia gak ngajak kalian sebagai tamunya ngobrol"ucap kak Arga kepada Ren,Rey,dan Manda. Sedangkan untuk Callie sendiri,ia sudah yakin kalau gadid itu pasti sudah sangat memaklumi sekali sifat adiknya itu.


"Gak papa kok kak,kita udah maklum"ujar Ren mewakili Rey dan Manda.


Kini ketiga orang itu tahu kalau Lyn bukan hanya hemat kata terhadap orang luar saja,tapi juga keluarganya sendiri.


Mereka semua yang ada dimeja makan itu kembali melanjutkan kegiatan mereka untuk menghabiskan semua makanan yang dibeli oleh Zia tadi yang jumlahnya terbilang cukup banyak sambil mengobrol-ngobrol dengan topik pembicaraan yang terbilang ringan,setelah selesai barulah mereka kembali melanjutkan akstivitas masing masing.


Lyn dan teman temannya yang kembali melanjutkan pembuatan tugas kerja kelompok mereka,serta Liona dan Arga yang memutuskan untuk pergi kekamar masing masing.


~Skip~


Sebuah mobil sport berhenti diparkiran didepan sebuah cafe yang terlihat cukup ramai,tak lama seorang gadis terlihat keluar dari dalam mobil itu.Sang gadis tampak menggunakan celana jeans abu abu serta baju kaos putih yang dipadukan dengan jaket kulit hitam,rambut gadid itu terlihat sengaja digerai begitu saja.Gadis yang masih berstatus sebagai siswi SMA itu langsung melangkahkan kakinya untuk memasuki area dalam kafe,ia terlihat menoleh kekiri dan kekanan untuk mencari meja tempat seseorang yang sedang menunggunya sekaligus orang yang sama yang mengajaknya bertemu dikafe itu.


Setelah menemukan apa yang ia cari,gadis itu langsung menuju ke meja tersebut


"Maaf membuat kakak menunggu"ucap gadis itu kepada seorang perempuan yang sudah terlebih dahulu berada dimeja itu.


"Bukankah sudah kubilang untuk tidak terlambat,asal kau tahu ini membuang buang waktu ku.Dasar bocah parasit!" umpat perempuan yang menunggu kedatangan gadis itu.


"Maaf kak Gia"ucap Zia kembali meminta maaf,ya gadid itu adalah Zia dan yang satu lagi adalah Gia yaitu orang yang mengajak Zia bertemu disana.


"Berhenti minta maaf dan dengarkan saja apa yang ingin kukatan ini"suruh kak Gia kepada Zia.


Zia mengangguk mengiyakan ucapan kakaknya itu.


"Tadi pagi aku bilang akan memberimu hadiah ulang tahun bukan?"tanya kak Gia,Zia kembali menganggukkan kepala membenarkan.


"Sebagai hadiah ulang tahunmu,aku akan memberimu kesempatan"ujar kak Gia,Zia sedikit menyergit karena bingung kesempatan apa yang dimaksud saudarinya itu.


Kak Gia menyadari raut bingung Zia langsung melanjutkan penjelasannya


"Aku akan memberimu kesempatan supaya aku bisa menerimamu sebagai adikku dan juga bagian dari keluarga Antara"ujar kak Gia.


Jangan ditanyakan reaksi Zia bagaimana,meski sempat terkejut mendengarnya tapi raut wajah gugup yang tadinya terlihat seketika berubah menjadi senyuman yang berseri dan cerah secerah matahari.Namun Zia segera menetralkan ekspresinya itu menjadi terlihat biasa saja,ia mengangkat wajahnya memberanikan diri untuk menatap saudari yang duduk dihadapannya itu.


*Ini terlalu tiba tiba dan pasti ada sesuatu dibaliknya*batin Zia bersuara.


"Pasti kakak akan memberi syarat untuk aku bisa mendapatkan kesempatan yang kakak maksud bukan?"tanya Zia.


Kini gantian kak Gia yang terkejut mendengar pertanyaan gadis itu


*Bocah parasit ini cukup peka juga ternyata*batin kak Gia,wanita itu sedikit terkejut bagaimana bisa bocah didpannya itu bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan.


"Jelas,tentu saja ada syaratnya" jawab kak Gia.


"Apa syaratnya?"tanya Zia langsung to the poin.


"Untuk berapa lama?"tanya Zia lagi.


"Cukup untuk beberapa bulan kedepan"


jawab kak Gia yang membuat Zia langsung mengangguk mengerti.


"Baiklah,aku akan mengambil kesempatan itu"putus Zia saat itu juga.


Mendengar keputusan gadis yang beberapa tahun lebih muda darinya itu,kak Gia langsung tersenyum senang.


"Tentu saja kau harus mengambilnya, ini adalah kesempatan sekali seumur hidup yang bisa kuberikan kepadamu"ujar wanita itu kepada sang adik yang masih belum bisa ia akui sebagai adiknya itu.


"Ya kurasa juga begitu"ujar Zia menyauti perkataan kakaknya itu.


"Baiklah kalau begitu,aku pergi dulu dan jangan lupa habiskan minuman itu.Jangan biarkan sia sia aku memesannya"ujar kak Gia langsung beranjak dari meja kafe itu meninggalkan Zia duduk sendirian disana.


Gia berbalik membelakangi Zia dan berjalan kearah pintu keluar kafe sambil tersenyum atau lebih tepatnya semirik.


*Selamat karena masuk kedalam jebakan menyakitkan dariku bocah parasit!*batin Gia menyeringai.


Zia menatap punggung saudari tertuanya itu yang terlihat sudah keluar dari dalam kafe,Huf gadis itu menghela nafas pelan.


*Padahal lo tahu ada yang gak beres, masih aja lo nekat terima umpan kakak tertua lo itu Zia.Jangan sakit hati ya kalau bener suatu saat nanti hasilnya nambah sakit diri lo sendiri*ujar batin Zia kepada dirinya sendiri.


Srup...srup...srup...Zia menyeruput secara perlahan segelas hot coklat hangat meski sudah tak hangat lagi sesuai dengan namanya


"Ya setidaknya kak lo itu masih berbaik hati mesenin lo minuman yang enak ini"gumam Zia kepada dirinya sendiri.


Setelah gelas tempat minuman hot coklatnya telah kosong,Zia meraih kunci mobil yang tadi ia letkkan diatas meja dihadapannya kemudian melenggang meninggalkan kafe itu setelah memastikan terlebih dahulu apakah minumannya itu sudah dibayar atau tidak dan ternyata sudah dibayar oleh kakaknya tadi.


Zia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang,gadis itu menikmati suasana jalanan kota saat malam hari seperti ini.Gadis itu saat ini tengah membutuhkan teman bercerita, satu nama langsung terlintas dipikiran Zia.Tanpa perlu menunggu lama,Zia dengan cepat meminggirkan dan menghentikan laju mobilnya dipinggir jalan supaya tentunya tak mengganggu aktivitas pengendara lain yang lalu lalang.


Zia mengambil hp miliknya dari saku jaket yang ia kenakan malam ini kemudian dengan cepat menghubungi seseorang.


"Halo Neta,lo ada dimana?sibuk gak?ada waktu gak?"tanya Zia beruntun,ternyata gadis itu sedang menghubungi Neta sahabatnya.


"Heh cil,nanyanya bisa satu satu gak!gue dirumah biasa lagi gabut ngajak ngomong ikan dikolam,sibuk? tentu tidak malah kurang kerjaan.


Waktu?masih banyak kayaknya,ada apa lo nelpon gue?"terdengar suara Neta yang menyaut dari seberang sana.


"Gue lagi butuh temen cerita nih"ujar Zia.


"Datang kerumah gue,gak bawa cemilan gak gue bukain pintu tut...tut..." Setelah mengatakan hal itu Neta langsung menutup panggilan begitu saja secara sepihak.


"Oke tujuan selanjutnya minimarket habis itu langsung cabut kerumah Neta"ujar Zia berbicara kepada dirinya sendiri.


Cewek itu kembali melajukan mobilnya menelusuri jalan raya menuju kedua tempat yang ia sebutkan tadi.