One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 152



"Tau apa emang kak?"tanya balik Zia, ia tak sadar dengan apa yang ia katakan tadi karena terlalu fokus sarapan.


"Itu loh yang tadi kamu bilang,kamu tau dari mana kalau kak Lyn nginep diapartemennya kak Callie.Padahal kak Arga aja gak tau?"jelas Liona.


*Aduh pake keceplosan lagi ini mulut*batin Zia setelah mengingatnya.


"Kok gak dijawab?"ujar kak Arga menunggu jawaban dari Zia.


"Ooh itu anu,kemarin malam kak Lyn ngirim pesan buat kasih tau soal itu.Kak Lyn sebenernya nyuruh Zia buat kasih tau kak Arga,tapi akunya lupa"jawab Zia setenang mungkin.


"Gitu ya,bilang dong"ujar kak Arga.


"Kok kak Lyn milih ngubungin lo sih dek,biasanya palingan yang dikasih kabar cuma kak Arga aja kalau kak Lyn gak pulang?"tanya Liona menatap Zia curiga.


"Mana saya tau,sayakan ikan"jawab Zia acuh.


~Skip~


Suasana dikoridor sekolah sangat ramai,terutama pada beberapa titik dimana mading sekolah berada.


Pagi hari pertama ujian UTS di SMA Hantara memang biasa dimulai dengan kebisingan para murid yang akan sibuk menemukan nama mereka dikertas yang ditempel dipapan mading,murid murid itu tengah ingin mencaritahu diruang ujian nomor mereka akan ditempatkan selama hari ujian.


Tak jauh dari posisi murid yang bergerombolan dan saling pepet bahkan saling dorong itu,terdapat beberapa murid yang sengaja menunggu kerumunan bubar atau setidaknya berkurang terlebih dahulu.Alasannya karena mereka tidak mau menghabiskan tenaga untuk bergelut didalam kerumunan depan mading itu,salah satu diantara murid murid yang menunggu itu ada Zia.


Awalnya Zia heran kenapa sekolah sebagus milik keluarganya ini tak memiliki inisiatif untuk menyebarkan daftar pembagian kelas itu melalui akun grup sekolah saja,supaya tidak perlu melakukan apa yang ia lihat didepannya ini.Namun saat ia bertanya kepada Neta,sahabatnya itu bilang kalau hal itu termasuk tradisi hari pertama ujian disekolah ini.Sahabatnya itu juga mengatakan kalau pihak sekolah memang sengaja melakukan hal itu,supaya setidaknya murid murid bisa mengetahui dan merasakan sedikit rasa kerasnya tenaga yang digunakan supaya bisa menjadi murid yang sukses.Zia yang mendengar penjelasan sahabatnya itu dalam hati sedikit menyetujui pemikiran dari pihak sekolah dan guru gurunya,lagi pula menonton pertunjukan didepannya cukup seru.


Dan jika kalian tanya dimana sahabat Zia berada sekarang,jawabannya menjadi salah satu murid yang terlibat kerumunan itu.Zia sempat meminta sahabatnya itu untuk sabar menunggu sebentar dan tak perlu masuk kedalam kerumunan itu,tapi Neta mengatakan kalau hal itu sangat menyenangkan dilakukan.Gadis itu menyuruh Zia untuk menunggu disini dan Neta sendiri yang akan memeriksa dimana ruangan ujian mereka berada, Zia yang sejak awal tidak mau masuk kerumunan itu tentu saja langsung setuju.Lagi pula masuk kedalam kerumunan yang berdesak desakan itu bisa membuatnya kelelahan,dan jika tubuhnya kelelahan itu akan sangat berbahaya bagi kondisi tubuhnya.


Puk...


"Eh!"Zia terlonjak kaget karena ada yang menepuk pundaknya dari belakang,ia sontak langsung berbalik kebelakang.


"Ini gue Juna"ujar seorang siswa yang cukup Zia kenal.


Zia langsung refleks melihat ke sekeliling Juna,memastikan kalau cowok itu hanya sendiri.


"Ken belum datang kok"ujar Juna seperti mengetahui apa yang ada dipikirannya.


"Baguslah kalau gitu"ujar Zia penuh syukur.


"Segitu gak sukanya lo sama temen gue,padahal temen gue banyak yang naksir loh?"tanya Juna kepada Zia.


"Mana ada orang yang suka kalau ketenangannya selalu diganggu dan dari banyak orang yang naksir sama cowok itu,gue jelas gak termasuk"jawab Zia sengit.


"Ya emang sih,tingkah temen gua itu rada frik kalau lagi berusaha deketin lo"ujar Juna sadar akan hal itu.


"Itu lo tau,tapi lo masih aja bantuin itu orang buat deketin gue dengan susah payah"ujar Zia.


"Mana ada gue segitunya"ujar Juna membantah hal itu.


"Terus itu yang setiap pagi pagi buta lo datang kesekolah cuma buat naroh coklat titipan temen lo itu,gimana?"tanya Zia dengan nada sedikit menyindir.


"Kok lo tau sih?"tanya Juna terlihat kaget.


"Lo lupa gue siapa?gue bisa dengan mudah minta akses ruang cctv"ujar Zia.


Zia melihat eksresi kaget Juna,gadis itu tersenyum miring.Ia mengeluarkan dompet miliknya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam sana,ia langsung menyodorkan uang itu kepada Juna.


Juna tentu menatap kaget dan sedikit bingung kenapa Zia menyodorkan uang itu kepadanya


"Ini uang traktiran yang gue janjiin hari sabtu kemarin"ujar Zia menjawab rasa bingung Juna.


"Gak kebanyakan nih?"tanya Juna,tapi tangannya masih tetap menerima uang itu.


"Enggak,emang sengaja gue siapin buat lo"ujar Zia.


"Makasih kalau gitu"ucap Juna.


"Sama sama,tapi kalau lo mau yang lebih banyak?gue bisa kasih sama lo"ujar Zia menatap Juna dengan penuh arti.


"Maksud lo?"tanya Juna sedikit was was dengan tatapan anak pemilik sekolahnya itu.


"Gue denger jabatan ayah lo disalah satu perusahaan saat ini terancam, padahal papa lo udah banyak bekerja keras buat besarin perusahaan itu sampai sekarang"ujar Zia dengan suara pelan,suapaya hanya dia dan Juna saja yang dapat mendengarnya.


Juna langsung kaget bagaimana Zia bisa tahu,tentang salah satu masalah besar pekerjaan ayahnya saat ini yang memang terancam diphk oleh bos sang ayah yang tidak kenal balas budi itu.


"Gue bisa jamin ayah lo dapat pekerjaan yang lebih bagus dan lebih terjamin dari pekerjaannya sekarang, asal ayah lo mau bekerja dengan baik"lanjut Zia.


Gadis itu mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya dan menyerahkannya langsung ketangan Juna.


"Kalau lo mau ayah lo dapat pekerjaan yang gue maksud tadi,nanti jam empat sore lo datang kealamat itu sendirian.Ingat sendirian dan gak ada yang boleh tau termasuk Ken sekalipun"ujar Zia,setelah mengatakan hal itu ia langsung berjalan kedepan untuk menghampiri Neta yang terlihat keluar dari dalam kerumunan.


"Zi,ru-ruangan sembilan sama sepuluh.Ruang ujian kita sebelahan" ujar Neta kepada Zia.


"Gue yang sembilan atau yang sepuluh?"tanya Zia.


"Lo yang sepuluh dan gue yang sembilan"jawab Neta.


"Ooh,berarti kita gak seruangan ya"ujar Zia


"Iya,sedih aku tuh.Padahal tadi berharapnya kita seruangan tau"ujar Neta tampak wajahnya sedikit ditekuk.


"Biar apa coba kalau kita seruangan?"tanya Zia.


"Biar gue bisa minta bantuan lo lah kalau ada soal yang gak gue bisa kerjain"ujar Neta.


"Cks tuh kan udah gue duga"saut Zia yang sudah paham jalan pikiran sahabatnya itu.


"Hehehe itu alasan kedua,tapi yang pertama biar asik aja gitu satu ruangan sama besti.Jangan ngambek lo"ujar Neta.


"Emang gue lo,ngambekan.Lagian gak papa gak seruangan asal ruangannya sebelahan,jadi gak jauh"ujar Zia yang diangguki Neta.


"Yuklah keruangan kita,bentar lagi bel masuk udah bunyi"ajak Neta.


"Kuy"saut Zia setuju.


Kedua bersahabat itupun pergi dari sana untuk menuju keruang ujian yang sudah ditentukan.