
Zia menghabiskan makanannya secepat mungkin,suasana makan sangat hening kini.
"Amu sudah selesai kak"ujar Zia yang buru buru bangkit dari tempat duduknya kembali.
"Cepat"suruh kak Lyn yang langsung ikut berdiri kemudian melangkah pergi duluan.
"Zia berangkat dulu semuanya"pamit Zia menundukkan kepalanya singkat kemudian pergi dari sana demgan cepat menyusul kakak ketiganya.
Suasana meja makan itu tetap hening setelah dua penghuninya pergi
"Ayo anak anak cepat habiskan sarapan kalian,Liona ayo cepat nanti telat ujiannya lo.Gia juga katanya dijemput sama Jevan"Sela berbicara memecah keheningan.
"Iya ma"saut mereka.
"Arga,Papa"Sela juga menyadarkan putranya dan juga suaminya.
Renal memejam bukakan matanya beberapa kali untuk menyadarkan dirinya sendiri dari lamunannya, kepala keluarga Antara itu diam melanjutkan sarapannya sebelum berangkat kekantor nantinya.
~Mobil Lyn~
Lyn benar benar mengantar saudari bungsunya kesekolah,terbukti saat ini saudarinya itu duduk dikursi disebelahnya.Lima menit berlalu sudah mereka didalam mobil yang melaju ini namun belum ada yang berniat membuka pembicaraan,akhirnya Zia mengalah.
"Kakak seharusnya tidak memanggilku seperti tadi"ujar gadis itu tanpa menoleh kesamping,ia tetap menatap lurus kedepan.
"Maaf,tapi itu salahmu terlalu keras kepala"ucap Lyn yang menyadari kesalahannya itu.
"Dan kakak juga seharusnya tak bersikap seperti tadi kepadaku dihadapan mereka"lanjut Zia.
"Kenapa tidak boleh,kau adalah adikku.Apa salahnya melakukan hal itu?"tanya kak Lyn,ia merasa kesal mendengar perkataan adiknya itu.
"Mungkin dikeluarga lain itu wajar,tapi tidak diAntara.Kakak tahu pasti kalau masih ada diantara anggota keluarga kita yang tak menyukai keberadaanku,dan kak Gia lah yang paling kentara untuk itu.
Aku tidak mau kakak ikut dalam perselisihan hanya karena terlihat menerimaku"terang Zia kepada kakaknya.
"Posisi yang aman dirumah kita hanya Lio"lanjut Zia.
"Baiklah kalau itu mau-mu,lain kali kakak akan mencoba bersikap tak peduli seperti biasanya"ujar kak Lyn,mahasiswi kedokteran itu mencengkram setir dengan tangannya.
Huf...Zia membuang nafasnya pelan dan menyandarkan punggung serta kepalanya kebelakang,kemudian memejamkan matanya.Nampaknya gadis itu baru ingat atau mungkin sadar kalau kondisinya pagi ini tidak begitu baik,kak Lyn melirik Zia.
"Jangan paksakan dirimu untuk menjawab soal nanti jika kepalamu masih pusing,nilai tidak jauh lebih penting dari kondisimu"ujar kak Lyn berpesan pada adiknya.
"Kamu sudah jadi pengusaha sukses tanda melihat tinggi rendahnya nilai"lanjut gadis dingin itu.
Setelah itu keadaan dalam mobil itu kembali hening,Zia yang memilih diam tak mengoceh untuk menghemat energi agar bisa digunakan disekolah nanti.Sedangkan kak Lyn memilih fokus menyetir mobilnya dan membiarkan sang adik untuk istirahat,namun sesekali gadis bertampang dingin itu melirik dengan sudut matanya kearah Zia.
Sekitaran Lima belas menit berlalu_
"Kita sampai"ujar kak Lyn yang sudah menghentikan mobilnya ditengah parkiran SMA Hantara.
"Oh benarkah"saut Zia yang langsung membuka matanya dan mengintip keluar jendela mobil,ternyata memang benar.
Zia segera melepas sabuk pengaman mobil kemudian ia menoleh kearah sang kakak yang tengah memperhatikannya dengan raut wajah dingin nan khas,gadis itu tersenyum.
"Maaf sudah mengajak kakak berdebat pagi pagi"ucap Zia kepada kak Lyn.
Kak Lyn diam mendengar permintaan maaf adiknya itu,ia tak pernah menyalahkan hal itu.Lagi pula gadis itu tahu pasti kalau kondisi kesehatan seseorang dapat mempengaruhi emosi seseorang itu pula,dan ia hanya diam karena kak Lyn melihat kalau adiknya belum selesai bicara.
"Kakak tahu,diluar yang tadi.Jujur Zia suka kakak yang mempedulikan dan memperhatikanku"lanjut Zia.
CUP...
"Aku Menyayangimu"ucap Zia sebelum akhirnya ia kabur dengan cepat keluar dari dalam mobil kak Lyn, setelah mencuri sebuah kecupan dipipi kiri sang kakak.
Lyn menatap Zia yang tengah setengah berlari menjauh dari area parkiran sekolah,setelah gadis muda itu tak terlihat lagi barulah Lyn menyentuh pipi kirinya sendiri.Gadis itu tersenyum,bukan karena pipinya yang dikecup oleh sang adik melainkan karena sang adik yang mengatakan menyayanginya.
*Kakak juga menyayangimu, sangat* batin Lyn membalas.
Lyn kembali menyalakan mobilnya berniat untuk meninggalkan sekolah itu untuk pergi kekampusnya,ia ada kelas setengah jam lagi.
Ping...sesaat sebelum ia menginjak gas,sebuah notifikasi aplikasi pesan masuk ke Hpnya.
Sibungsu Mami Celine:
Kak,kalau kakak sibuk kakak tidak usah repot menjemputku nanti.Aku paham bagaimana sibuknya anak kedokteran,aku bisa pulang bersama Neta atau dijemput sopir perusahaan.
Berhati-hati dijalan🥰❤️.
Lagi lagi adik bungsunya itu bisa membuatnya dengan mudah tersenyum, padahal hanya dengan sebuah pesan saja.Lyn mulai menggerakkan jemarinya dilayar hp-nya untuk membalas pesan tersebut.
Lyn:
Kakak akan tetap menjemputmu❤️.
Seorang gadis yang tengah berjalan dilorong sekolahpun tersenyum membaca jawaban pesan yang ia kirim.