One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 221



Zia berdiri menatap bangunan gedung didepannya,gadis itu masih menyandang tas sekolah serta seragam sekolah yang hanya ditutupi hoodie.


Gadis itu saat ini berada tepat didepan gedung pusat perusahaan papanya yaitu ANTARA GROUP,Zia menepati janjinya untuk mengunjungi perusahaan papanya hari ini setelah tadi ia selesai dari perusahaannya sendiri.


Meski bukan pertama kali malah sudah terhitung lumayan sering menginjakkan kaki kegedung perusahaan milik keluarganya ini,Zia tetap merasa sedikit gugup.


"Selamat siang nona muda,Apakah nona ingin keruangan nona Gia?"


Sambut petugas resepsionis.


"Tidak,saya ingin bertemu papa"ujar Zia.


"Papa saya sedang tak ada jadwal keluarkan?"tanya gadis itu kepada resepsionis.


"Tuan tidak ada jadwal di perusahaan untuk hari ini nona,nona muda bisa langsung menemui tuan Antara diruangannya"jawab sang resepsionis.


"Baiklah,kalau begitu permisi"ucap Zia beranjak dari depan meja resepsionis langsung menuju kearah lift.


Rooftoof gedung ANTARA GROUB__


Semilir angin berhembus lumayan kencang membuat rambut panjang yang Zia miliki terbang melayang mengikuti alur hembusan angin,kini gadis SMA itu sedang berada diatas Rooftoof gedung bersama dengan papanya.


Tepat beberapa menit lalu ia memasuki ruangan papanya,papanya langsung mengajaknya untuk pergi ketempat ini.Entah untuk apa Zia tidak tahu,namun yang jelas papanya kini malah asik menatap jauh dari atas rooftoof gedung.


"Bagaimana menurutmu tentang gedung ini nak?"papanya akhirnya membuka suara.


"Gedung yang tinggi dan kokoh,sesuai dengan image ANTARA GROUB yang sangat berwibawa serta patut diperhitungkan dalam dunia bisnis ini"ujar Zia menjawab pertanyaan sang papa.


"Untuk saat ini memang semua itu benar nak,tapi nanti dimasa depan


entah tinggi dan ke kokohan gedung ini masih sesuai dengan penghuninya"ujar tuan Renal.


"Pasti akan sesuai,papa punya calon pewaris yang hebat seperti kak Arga"


ujar Zia yang berdiri tepat disebelah papanya.


"Mari kita lihat kedepannya bagaimana"gumam Tuan Renal pelan nyaris tak terdengar.


"Ngomong ngomong bukankah papa ingin membicarakan sesuatu dengan ku,apa itu?"tanya Zia pada papanya.


"Ini berkaitan dengan kata pewaris yang kamu katakan tadi,papa butuh pendapatmu nak"saut papanya Zia, membuat gadis itu menaikkan sebelah alisnya karena sepertinya akan ada pembicaraan serius.


Disisi lain diruang kerja Gia___


Wanita muda putri tertua tuan Renal Antara itu sedang sibuk mengotak atik laptop dihadapannya,sedangkan Arga sang kembaran sedang duduk bersandar disofa yang letaknya tak jauh dari meja kerjanya.


"Lo gak ada kerjaan emangnya,makanya duduk santai disofa gue?"ujar Gia yang sudah malas melihat Arga sang kembaran yang sejak tadi berdiam diri diruang kerja miliknya.


"Bukan ke lo diang,ke gue juga gitu"komen Gia.


"Trus kalau kerjaan lo banyak, ngapain lo duduk santai disofa gue?" lanjut Gia kali ini bertanya.


"Gue duduk disini buat nungguin sibunggu selesai ketemu sama papa" jawab Arga.


Gia menghentikan pergerakan jari jari tangannya yang bekerja menekan nekan tombol Keyboard sejak tadi saat mendengar jawaban sang kembaran,ia menatap Arga dengan tampang julid.


"Ngapain lo buang buang waktu nungguin bocah itu selesai ngobrol sama papa?buang buang waktu aja"tanya Gia heran melihat kegabutan Arga.


"Gue penasaran papa sama sibungsu ngobrolin apa aja tau gak"jawab Arga.


"Yaelah palingan obrolan biasa,lo kayak gak pernah diajak papa ngobrol diruangannya aja"ujar Gia.


"Papa ngajak Zia ngobrol dirooftoof" ujar Arga yang terlihat langsung membuat Gia terkejut sampai membulatkan mata.


"Keget-kan lo?kalau cuma ngobrol diruang kerja sih its oke,tapi masalahnya tadi sekretarisnya papa bilang kalau papa ngajak sibungsu ngobrol dirooftoof perusahaan"ujar Arga memberi informasi.


"Kapan sekretarisnya papa bilang kayak gitu?"tanya Gia.


"Tadi pas gue keruangan papa,niatnya sih mau nimbrung ngobrol sama papa sama Zia.Eh sekretarisnya papa bilang kalau papa sama Zia dirooftoof,dan papa nitip pesan supaya gak ada yang ganggu"jelas Arga.


"Itu makanya sejak tadi gue penasaran sampai gak bisa konsen kerja,lo tahu pastikan kalau papa pasti lagi ngomongin hal yang serius banget kalau udah ngajak ngobrol dirooftoof perusahaan"lanjut Arga menjelaskan kepada Gia kembarannya.


Gia terdiam mendengar perkataan Arga,kalau benar apa yang dikatakan kembarannya itu maka ia juga penasaran dengan isi pembahasan kedua orang yang tengah berada dirooftoof perusahaan itu.


Kembali keRooftoof___


Zia mengangguk anggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan dicampur dengan curhatan dari papanya sejak sepuluh menit yang lalu,ini tentang kebimbangan papanya dalam menjalankan rencana untuk pemilihan pengganti alias pewaris utama perusahaan.


"Bagaimana menurutmu nak?"tanya sang papa akhirnya padanya.


Zia terdiam sejenak menatap jajaran bangunan kota dan jalanan,sebelum akhirnya berbicara untuk menjawab pertanyaan papanya


"Menurutku tak apa jika papa memang ingin memberikan kak Gia kesempatan yang sama seperti yang kak Arga dapatkan tentang perusahaan,terlepas dari masalah gender.Lagi pula jika kuperhatikan kak Gia cukup mumpuni dibidang ini,kedua kakak kembarku itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing"ujar Zia.


"Kak Gia dengan kelebihannya yang sangat,ambisius,fokus pada tujuan dan tak mudah goyah akan prinsip dan tujuan yang sudah ditetapkan,kelemahannya mungkin terletak pada ketidak stabilan emosi.Kak Arga yang sangat tenang dalam pengaturan emosi disetiap kondisi dan selalu berusaha mencapai hasil maksimal,kekurangannya yaitu masih sering bimbang alias ragu ragu serta fokus yang masih cukup mudah teralihkan"lanjut gadis itu menjabarkan.


"Wah papa tak mengira kamu dengan mudahnya mengetahui banyak hal tentang kedua kakak kembarmu itu"


puji Tuan Renal,papanya Zia.


"Baiklah papa akan segera memulainya"putus tuan Renal.


"Zia akan ada membantu papa"ujar Zia.