One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 238



Sesuai dengan yang kak Anna katakan tadi,berangkar yang diatasnya terbaring sosok yang baru saja berpulang dibawa keluar dari dalam ruang rawat dan melewati dua perempuan berbeda usia itu.Setelah berangkar itu berlalu dengan para perawat yang membawanya,Anna segera mengajak adik angkatnya untuk pulang dengan cara memapah gadis itu.


Pagi hari tepat lima belas menit sebelum keberangkatan gadis muda kebandara untuk pulang ke negara asal keluarganya yaitu Indonesia, semua pekerja dikediamannya dikejutkan dengan sang gadis muda yang tiba tiba ambruk dan kehilangan kesadarannya secara tiba tiba.


Anna dan Teo terkhususnya Anna yang memang sejak semalam tak pernah jauh jauh dari gadis muda itu sejak selama segera memberi perintah untuk membawa adik angkatnya kerumah sakit sedangkan Teo menghubungi pihak lain guna menunda keberangkatan pesawat sebisa mungkin,beruntung pesawat yang akan mereka gunakan bukanlah pesawat komersil.


Beberapa waktu kemudian___


Tit...tit...tit...bunyi monitor dari alat pemantau kestabilan fungsi vital pasien terus berbunyi memecah keheningan ruang rawat,diatas tampat tidur rumah sakit terdapat gadis muda yang seharusnya saat ini sudah berada didalam pesawat untuk mengantarkan jenazah kakeknya pulang kenegara asal.


Hah...gadis itu menghela nafas berat dan terdengar sangat putus asa,baru kemarin mendapatkan berita yang membuat dirinya hancur dan sekarang?


gadis muda itu mendapatkan kabar buruk lagi,bukan kabar buruk tentang orang lain melainkan kabar buruk yang berasal dari tubuhnya sendiri.


Kanker Darah


Dua kata yang sejak tadi terus terngiang ngiang dikepala gadis itu,


berulang kali ia memastikan bahwa dirinya tak salah mendengar perkataan dokter tapi ternyata apa yang dirinya dengar itu adalah kebenaran.


Ceklek...Anna masuk kedalam ruangan itu,wanita muda itu menatap sendu sang adik angkat yang tengah menatap kosong kelangit langit ruangan bercat putih itu.


"Zia,are you okay"Anna.


"Does the question still need?"


(Apakah pertanyaan itu masih perlu?)


Saut Zia dengan suara lemah.


kakak juga masih belum memberi kabar tentang batalnya keberangkatanmu" ujar kak Anna kepada Zia saat itu.


Zia menoleh kesamping tepat dimana kakak angkatnya berdiri menghadap sambil menatap kearahnya yang terbaring,kemudian menatap lurus kearah langit langit ruang rawat itu lagi.


"Katakan pada mereka kalau aku tak bisa ikut dengan kakek karena ada ujian dadakan disekolah"ujar Zia kepada kak Anna.


"Apa tidak sebaiknya kamu memberitahu yang sej..."belum selesai kak Anna berbicara namun gadis yang lebih muda darinya itu langsung memotong.


"Tidak!tidak ada yang boleh tahu akan apa yang terjadi padaku,katakan saja hal yang tadi sebagai alasan ketidak ikutanku"ujar Zia.


"Tap..."lagi lagi Zia memotong perkataan kak Anna.


"This command from your boss, not a request from your sister"Zia.


Baiklah saat itu juga Anna memutuskan untuk tak berbicara untuk berusaha membujuk adik angkatnya itu lagi,perkataan Zia yang satu ini sudah bersifat mutlak.Tidak ada yang bisa membatalkan kemutlakan itu jika gadis muda itu sudah menetapkannya,


tidak ada kecuali gadis itu sendiri.


"Good young lady,I'll do it"ucap Anna.


"Then I excuse me to finish everything"lanjut wanita muda itu permisi untuk meninggalkan ruangan itu.


Bertahun tahun berlalu dan selama itu pula Zia terus berusaha melakukan berbagai macam pengobatan untuk kesembuhan dirinya,uang-pun tak pernah menjadi penghalang untuknya berjuang sembuh dari penyakitnya.


Namun entah apa yang tuhan rencanakan untuknya,usaha bertahun tahun itu tak membuat sakitnya sembuh atau berkurang tapi malah tetap semakin bertambah.Bahkan beberapa waktu sebelum Zia akhirnya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya kenegara tempat kelahirannya,ia harus menerima kenyataan kalau jika sakit pada tubuhnya tetap seperti itu maka perkiraan dirinya bisa bertahan hanya satu tahun saja.