
Melihat kedatangan kembarannya itu, Arga mengalihkan pandangannya dari laptop menuju ke sang kembaran yang kini sudah duduk dihadapannya.
"Kenapa datang datang ngedumel sih Gi?"tanya Arga kepada Gia kembarannya.
"Kuping gue panas dengerin para karyawan yang ngegosipin anak sialan itu terus dari pagi,gak dilobi gak disela sela meating"dumel Gia terlihat penuh dengan kekesalan.
"Ngegosipin apa emang mereka?"tanya Arga.
"Anak bungsunya papa-lah siapa lagi,
orang dia yang lagi trending disosmed sekarang"jawab Gia.
Wanita muda itu duduk dikursi yang ada didepan kembarannya dan menyandarkan punggungnya kebelakang, lalu menghela nafas lega.
Arga menggelengkan kepala melihat tingkah kembarannya itu.Entah apa yang dilakukan oleh kembarannya itu sebelum keruangannya ini sehingga kelihatan kelelahan banget.
"Lo habis ngapain,capek banget gue liat liat?"tanya Arga kepada Gia.
"Habis ngerjain rancangan proyek baru,makanya capek banget gini.Dari lusa malam gue ngerjainnya akhirnya baru selesai tadi dan udah dikirim juga"jawab Gia.
"Ooh"ujar Arga,laki laki muda itu mengamati kembarannya sambil mengingat kejadian tadi malam diacara pesta.Arga sedang menimbang nimbang apakah dia tanyain aja ya hal yang membuatnya kepikiran dari tadi kekembarannya ini,Gia yang tak mendengar suara Arga langsung melihat kearah kembarannya itu dan menemukan kembarannya itu bengong sambil melihat kearahnya.
"Apa yang mau lo tanyain?"Gia
"Hah?"
Arga nampak bingung mendengar pertanyaan yang tak terduga dari kembarannya itu,bagaimana Gia bisa menebak kalau dirinya hendak bertanya sesuatu.
"Hah heh hah heh,setiap kali lo bengong liatin gue kayak gitu itu pasti lo lagi ada sesuatu yang mau lo bicarain atau lo tanyain Arga.
Jadi ayo tanyain apa yang pengen lo tanyain"ujar Gia kepada Arga.
"Em gue liat reaksi lo semalam pas papa ngumumin nama nama buat calon penggantinya,kok ekpresi lo kayak orang yang udah tahu isi pengumuman papa yang itu?"
Akhirnya salah satu pertanyaan terbesar Arga yang sejak tadi berputar didalam benaknya tersampaikan juga.
"Oh itu,gue emang udah tau isinya"jawab Gia tanpa pikir panjang.
"Eit tapi itu gue gak tau kalau papa bakal ngumumin secepat itu,gue kira paling cepat nanti pas kita udah resmi wisuda dan Zia juga gak bilang ada nama Liona juga"lanjut Gia.
"Zia?"Arga memasang muka bertanya.
"Ho oh,Zia.Gue tau semua itu dari bocah itu"ujar Gia.
"Trus Zia tau dari mana?"tanya Arga heran.
"Dari papa-lah siapa lagi coba"
"Lo masih ingetkan beberapa waktu yang lalu papa sempat minta Zia untuk datang keperusahaan trus mereka ngobrol dirooftoof perusahaan?"
Arga mengangguk mendengar pertanyaan Gia itu padanya,tentu Arga masih ingat hal itu.
"Zia jawab apa?"Arga
"Itu bocah ngejawab iya,papa bisa ngasih kesepatan yang sama besar kegue"jawab Gia.hal itu yang membuat kepala Arga semakin penuh isinya.
"Lo gak bohongkan?"tanya Arga sambil menatap mata kembarannya guna memastikan kalau Gia tidak mengarang cerita berbohong padanya.
"Dih ngapain gue bohong segala,orang bener"ujar Gia kepada Arga yang nampak tak mempercayainya.
"Tapi kalau bener kayak yang lo bilang tadi,kok waktu kita berdua tanyain ke Zia pas diruangan itu jawabannnya beda.Zia sama sekali gak mengungkit masalah itu,Zia cuma bilang kalau dia sama papa cuma ngobrolin hal biasa aja antara ayah dan anak.Gak mungkinkan? Zia bohong waktu itu"ujar Arga kepada Gia.
Gia mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu lalu berkata
"Entahlah soal itu,tapi bocah itu nyeritain hal itu pas dimobil waktu gue sama dia pulang bareng hari itu"
ujar Gia kepada Arga.
Arga terdiam berfikir,putra sulung dikeluarga Antara itu merasa heran sekaligus bingung kenapa Zia adik bungsunya hanya memberitahu hal itu kepada Liona kembarannya saja kenapa tidak mengatakan padanya juga.
Gia yang melihat kembarannya itu terdiam begitu,tersenyum miring secara diam diam.
"Tapi nih ya Ga,kita seharusnya bersyukur itu anak nolak buat dijadiin salah satu kandidat pewaris sama papa.Karena kalau sampai itu terjadi,wah kayaknya lo sama gue gak bakal punya harapan deh apalagi buat Liona"ujar Gia.
"Kenapa lo bilang gitu,lo yakin banget kayaknya kemampuan Zia lebih baik dari kita kakaknya?"ujar Arga,ia merasa heran dengan kata kata Gia yang mengatakan kalau kemampuan mereka jauh dibawah adik bungsu mereka.
"Lah emang kemampuan dia lebih baik dari kita Ga,bahkan bukannya kemarin malam juga papa mengakui sendiri kalau Zia itu adalah anaknya yang paling mendekati eksprektasi"ujar Gia.
"Tapi..."baru satu kata namun perkataan Arga langsung terpotong oleh celetukan Gia.
"Tapi yah kalau diliat liat emang kemampuan Zia diperusahaan memang bagus dan kompeten banget"ujar Gia terdengar memuji Zia.
"Kuping gue gak salah denger,lo muji Zia adik bungsu kita?"ujar Arga heran.
"Adik bungsu lo doang,adik bungsu gue itu Liona"saut Gia.
"Gue muji sebagai seorang yang profesional Ga,menurut gue Zia bisa gitu karena punya guru lapangan yang sama kayak papa yaitu kakek Antara sendiri.Jadi kalaupun misalnya ada yang bilang kemampuan Zia itu hampir mengejar papa,kayaknya bisa dibenarkan"ujar Gia.
"Oke Zia memang lebih hebat dari kita,tapi kita gak mungkin ketinggalan sejauh itukan.Kita juga dilatih sama papa sejak SMA,apa yang papa ajarin kekita pasti sama dengan apa yang kakek ajarin ke Zia"ujar Arga.Laki laki itu bisa mengakui kehebatan adik bungsunya tapi Arga tak yakin atau mungkin tak rela jika disebut kemampuan adiknya jauh diatas dirinya,itu membuat harga dirinya sebagai yang tertua tergoyahkan.
"Mungkin ya mungkin tidak.Kita berdua tahu banget kalau hubungan papa sama kakek sejak saat itu terutama sejak kepergian mama kandungnya Zia gak baik baik aja,bisa jadi kakek ngajarin Zia sesuatu yang gak pernah diajarin ke papa.Atau kalau bukan itu alasannya,
mungkin apa yang dibicarain karyawan diluar bener"ujar Gia kepada Arga.
"Emang apa yang mereka bicarain?" tanya Arga penasaran.
"Mereka bilang Zia bisa sehebat itu karena mewarisi darah seorang pengusaha sempurna dari kedua belah pihak kekuarga alias orang tuanya,ya meski kalau dipikir pikir ada benarnya juga"ujar Gia
"Meski gue benci banget sama mama kandungnya bocah itu,tapi gue gak bisa gak ngakuin kalau latar belakang wanita pelakor itu emang dari keluarga pebisnis hebat termasuk dirinya.Bayangin aja Zia mewarisin jiwa pebisnis handal dari papa kita dan mamanya,apa gak hebat tuh.Beda sama kita yang jelas jelas cuma mewarisi jiwa pengusaha dari papa aja,mama-kan bukan dari kalangan pengusaha kayak mamanya bocah itu"sambung Gia.