
"Pulang dari rumah sakit bukannya diem dirumah,eh malah keluyuran ke makam"
Zia yang berdiri didepan makam mendiang mamanya langsung menoleh ke belakang,ia menemukan Raka berdiri dibelakangnya dengan masih menggunakan seragam sekolah.
"Pulang sekolah bukannya pulang ke rumah ganti baju dulu,ini malah keluyuran ke makam"
"Gue hanya rindu dan ingin berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir mendiang kekasihku saja" ujar Raka.
"Gue hanya rindu dan ingin berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir mendiang ibuku saja"
Zia benar benar membalikkan perkataan Raka padanya.
Raka terkekeh pelan,ia lupa kalau gadis didepannya ini saat UTS beberapa waktu yang lalu berhasil menduduki peringkat tepat dibelakangnya,selain itu berhasil menjadi pewaris perusahaan dari mendiang sang ibu.So sudah pasti Zia adalah sosok gadis yang cerdas.
"Tapi kali ini serius,lo seharusnya istirahat dulu sepulang rumah sakit bukannya malah pergi pergi kayak gini.Lo baru pulang siang tadikan?" ujar Raka ke Zia.
"Gue bosen terkurung mulu,trus kangen juga sama mereka yang disini.
Lagian gue harus sering sering ngunjungin tempat ini,anggap aja survei sebelum gue join"ujar Zia dengan nada sedikit bercanda.Namun bagi Raka,dibalik nada bercanda itu terdengar sedikit ke putus asa-an.
"Lo kesini diantar sama siapa?"tanya Raka.
"Pak Hen,supir pribadi gue"jawab Zia.
"Udah lama lo disini?"Raka.
"Udah,nih bentar lagi mau balik"Zia.
"Pulang bareng gue aja yuk,kita mampir ke kafe didekat sini sekalian ngobrol ngobrol bentar"ujar Raka kepada Zia dan gadis itu mengangguk pelan.
"Boleh,pulang sekarang juga nanti bakal bosen dirumah.Kak Lyn hari ini full sibuk sama kuliahannya"ucap Zia yang menyetujui ajakan Rala itu.
Zia dan Raka-pun berjalan beriringan untuk keluar dari area pemakaman menuju ke tempat parkir,Zia menghapiri mobilnya dulu untuk menemui pak Hen untuk meminta supaya supir pribadinya itu pulang duluan dan mengatakan kalau dirinya ada urusan dengan Raka dan akan diantar pulang oleh cowok itu.Kedua anak muda itu kini memasuki mobil Raka lalu meninggalkan tempat itu menuju kafe yang dimaksud oleh Raka tadi.
Sampailah Zia dan Raka di kafe, keduanya memesan minum untuk menemani obrolan mereka nanti.Raka memesan Amerikano sedangkan Zia memilih memesan hot coklat,bukan hanya itu tapi dua potong kue hazelnat juga ikut mereka pesan.
"Sudah memberitahu Neta,kalah lo udah balik dari rumah sakit?"tanya Raka membuka obrolan,Zia menggelengkan kepalanya.
"Belum,hp gue lobat dan belum gue cas.Ini aja gue gak bawa hp"jawab Zia.
"Mau gue aja yang bilang atau lo mau ngasih tau langsung pakai hp gue gak?sahabat lo itu dari awal pertama lo masuk rumah sakit,enggak pernah tenang mulu pembawaannya"ujar Raka.
"Lo aja deh,tapi jangan bilang kalau kita lagi diluar ya.Gue takut diomelin kalau Neta sampai tau kalau gue gak istirahat dulu sepulang dari rumah sakit"pinta Zia.
Raka mengangguk pelan dan langsung mengeluarkan ponselnya untuk memberi kabar tentang kepulangan Zia dari rumah sakit kepada Neta,disaat itu pula-lah pelayan kafe datang membawakan pesanan Raka dan Zia.
"Gue udah kasih tau dan Neta bilang supaya lo ngubungin dia nanti,kalau hp lo udah ada batrai"ujar Raka setelah hening beberapa saat,Zia mengangguk mengerti lalu mulai menyeruput teh pesanannya dengan tenang.
"Gimana kondisi lo yang terbaru?" tanya Raka sesaat setelah gelas teh diletakkan kembali keatas piring tatakannya oleh Zia.
"Buruk,tapi gue gak terkejut sama sekali untuk itu...,"Zia sejenak menatap sekeliling kafe yang terlihat cukup lengang lalu melanjutkan perkataannya"Dokter gue yang dulu aja bilang kalau harapan hidup gue cuma setahun dan mungkin bisa lebih,itu kalau gue tetep ngelanjutin pengobatan ketahap yang lebih.Saat pindah ke negara ini balik,eh gue malah mutusin buat gak lanjutin prosedur pengobatan dan cuma mau ngonsumsi pil pil gak berguna itu.Jadi gue gak heran kalau baru setengah tahun gue disini, kondisi gue udah seburuk ini hehehe"ujar Zia dengan diakhiri sebuah tawa kosong.
"Seburuk itu ya,dan lo belum ada niatan ngasih tau keluarga lo?"Raka.
"Enggak,tapi kakak ketiga gue udah dikasih tau sih"Zia.
"Kenapa cuma kakak ketiga lo?"Raka.
"Karena entah kenapa saat ini gue cuma dia yang nerima gue tanpa sebuah kebohongan atau rahasia dibaliknya,cuma kak Lyn seorang"
Zia menatap Raka sambil tersenyum tipis
"Sesuatu yang bahkan papa kandung gue sendiri belum bisa kayak gitu"
lanjut gadis itu dengan tawa hambar.