
"Papa tenang aja,Zia tau kok"ujar Zia.
Liona memiringkan sedikit kepalanya tidak mengerti sama sekali tidak paham dengan topik pembahasan adiknya dengan papa dan abangnya.
"Aku gak paham deh,tadi Lio denger Zia katanya ke perusahaan.Perusahaan siapa?papa?"tanya Liona pada ketiganya,sedangkan tangannya meraih toples berisi brownis kecil rasa coklat dan langsung melahapnya ke mulut.
"Bukan,bukan perusahaan papa"jawab Arga pada Liona.
"Trus perusahaan siapa dong?"tanya Liona.
"Perusahaan dialah siapa lagi"ujar Arga santai.
Uhuk..Liona tersedak bukan karena kaget ya guys tapi itu akibat terlalu banyak memasukkan brownis ke mulutnya,jadilah ia akhirnya tersedak gitu.
"Hati hati"ujar Zia langsung memberikan minum kepada Liona dan tangannya menepuk nepuk pelan punggung kakaknya itu.
"Huh Makasih"ucap Liona menghela nafas lega.
"Lio makanya pelan pelan makannya,
liat kamu sampai tersedak gitu"tegur Sela pada putrinya.
"Iya ma"ujar Liona pada sang mama.
Kemudian Liona langsung beralih menatap Zia yang ada didepannya
"Lo serius punya perusahan Zia?"tanya Liona dengan penasaran pada Zia.
"Iya"jawab Zia sekenanya
"Sejak kapan?"tanya Liona lagi
"Sejak kapan?hm udah cukup lama sih,emangnya lo gak tau ya?"saut Zia kemudian bertanya balik pada Liona.
"Enggak,gue baru tau sekarang"jawab Liona.
"Wah lo hebat banget zi,kalau gitu lo sama dong kayak bang Arga sama kak Gia.Masih sekolah udah kerja ngurus perusahaan aja"sambung Liona memuji sekaligus kagum dengan adiknya itu.
"Mana ada Lio,lebih hebat Zia malahan.Sialnya abang sama Gia cuma bantuin ngurus perusahaan milik papa sedangkan Zia yang dia urus kan perusahaannya sendiri"ujar Arga.
"Bang Arga sama Liona gak usah berlebihan gitu,lagian bang Arga juga hebat kok"ucap Zia sedikit malu mendapatkan pujian untuknya yang menurutnya sedikit berlebihan.
"Iya gak usah berlebihan,lagian itu juga perusahaan warisan ibunya.Kalau ibunya gak mati juga dia gak bakal bisa punya perusahaan"komen Gia dengan sarkas.
"Kak jangan gitu ngomongnya"tegur Sela langsung menegur perkataan putri sulungnya dan Arga juga langsung menyenggol tangan kembarannya untuk meminta Gia diam.
Sedangkan Zia hanya diam mendengar perkataan sang saudari sulungnya itu tanpa berniat membalas ataupun mengomentari,lagi pula menurutnya yang dibilang Gia itu memang benar.
"Ekhem,Zia"ujar Renal mulai bersuara guna memecahkan hening yang sempat tercipta akibat ulah Gia tadi.
"Bagaimana dengan perusahaan mu yang ada di Amerika,Siapa yang memantau dan mengurusnya sekarang sejak kamu pindah kesini?"tanya Renal.
"Oh..perusahaan yang ada di Amerika saat ini,Zia suruh kak Anna buat menghandle sementara aku disini"jawab Zia pada papanya.
"Cuma dia yang ngurus?"tanya Renal lagi pada putrinya itu.
"Bagus kalau gitu,tapi kamu sesekali juga harus liat dan mengawasi laporan mereka meski dari sini.Biar gak terjadi kesalahan atau hal hal yang tidak diinginkan"ujar Renal mengingatkan.
"Papa tidak usah khawatir soal itu,Kak Anna itu sangat dapat dipercaya dan gak mungkin berbuat macam macam.Dan hampir sama halnya dengan orang orang ku yang lain,mereka itu dulu juga bekas orang kepercayaan mendiang kakek dan juga mendiang mama"ujar Zia yang mengetahui maksud perkataan papanya tadi,Zia tau kalau sang papa sedikit meragukan kesetiaan orang orang kepercayaan Zia.
"Maaf papa bukan bermaksud begitu tapi hanya memintamu waspada terlebih dahulu dari pada kecolongan"ucap Renal yang tau bahwa anaknya itu sedikit tersinggung.
"Hmm tak apa pa"saut Zia pada Renal papanya.
"Tunggu Zia,kak Anna yang kamu maksud itu kakak Anna?"tanya Arga
"Iya bang,kak Anna yang almarhum papanya yang merupakan sahabat mama.Kakak masih ingat?"jawab Zia membenarkan.
"Ooh gue ingat sekarang,jadi dia sekarang jadi yang bantuin kamu di perusahaan toh"ujar Arga mengerti,Arga mengingat kalau adik bungsunya itu pernah bercerita kalau ia memiliki kakak angkat yang merupakan anak dari sahabat baik mendiang mama Celine yang juga sudah berpulang untuk selamanya.
"Mami juga ingat sekarang Zia,
bukankah Anna itu seumuran seumuran dengan kakak kembar kamu?"tanya Sela juga mengingat nama itu.
"Iya Mi,kak Anna memang seumuran dengan bang Arga sama kak Gia"ujar Zia pada mamanya.
Disisi lain terdapat tiga hadis yang nampak bingung dan tidak tau siapa yang sekarang jadi topik pembicaraan keempat anggota keluarga mereka yang lain sambil bergumam didalam hati masing masing.
*Siapa cewek yang Zia panggil kak Anna itu?*Liona bertanya dalam hatinya.
*Kakak angkat,kok gue gak tau itu anak sialan punya kakak angkat*Gia
*Anna,gak kenal*Lyn.
Zia melihat jam tangan yang terpasang melingkar dipergelangan kirinya
"Ma!pa!semuanya!Zia pamit ke kamar duluan ya,udah lumayan malam"ujar Zia pamit kepada semua anggota keluarganya disitu untuk ke kamarnya.
"Yau dah kalau gitu selamat istirahat"ujar Sela
"Meet tidur Zia"ucap Liona
"Good nigh dek"ujar Arga juga.
"To"jawab Zia,ia beranjak dari tempatnya lalu membungkuk sebentar pada orang tua dan keempat Kakaknya kemudian berjalan menuju lift langsung menuju kelantai tempat kamarnya berada.
Sepeninggal Zia,Liona juga ikut beranjak dari tempat duduknya
"Kalau gitu Lio juga pamit ke kamar deh,udah lumayan malam waktunya istirahat"ujar Liona pamit dan langsung dibalas anggukan oleh yang lain,gadis itu mencium pipi kedua orang tuanya dan juga Abang serta kakak kakaknya kemudian pergi dari sana.
Di kamarnya Zia saat ini sedang berada didepan kaca wastafel didalam kamar mandi miliknya,ia membasuh mukanya hingga bersih sekaligus menggosok giginya sebelum tidur dan tak lupa ia juga mengeringkan muka dan tangannya yang basah terkena air dengan handuk kecil kering.Keluar dari sana Zia duduk di kursi belajarnya,gadis itu memutar kunci dan membuka laci meja belajarnya secara perlahan lalu mengeluarkan sebuah botol plastik berukuran kecil dari sana.
Zia membuka tutup botol itu kemudian mengeluarkan beberapa butir pil dari dalam sana dan langsung menegak nya disusul dengan meminum segelas air putih.Setelah selesai ia menutup kembali botol itu dengan rapat dan menyimpannya kembali ke laci meja belajarnya,tak lupa ia memutar kuncinya kembali.
"Huf..semoga tidur gue malam ini nyenyak gak ada gangguan"gumam Zia menghela nafas pelan langsung beranjak dari kursi meja belajarnya dan langsung menaiki kasurnya.
Setelah mendapatkan posisi berbaring yang nyaman gadis itu menarik selimut miliknya keatas hingga sampai menutupi lehernya kemudian mulai menutup kedua kelopak matanya,tak menunggu lama ia sudah terlelap dalam tidur dan mungkin sudah sampai ke alam mimpi.