One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 34



"Gue sih tau kalau Lio masih punya adik dari istri kedua papanya soalnya itukan udah bukan rahasia lagi,cuman gue baru kali ini liat mukanya kayak apa"jawab Juna.


"Juna bener,identitas Zia selama ini memang di sembunyiin  sebelumnya.


Soalnya adik aku yang minta dan lagi sebelumnya dia memang tinggal di AS"jelas Liona ke Ken dan Juna.


Zia berjalan bersama Neta di sebelah nya,keduanya memasuki kelas secara bersamaan lalu duduk di bangku mereka.


"Zi"panggil Neta kepada Zia


"Hm kenapa?"saut Zia.


"Pulang sekolah lo ada jadwal kegiatan lain gak?"tanya Neta


"Enggak sih seingat gue,kenapa emang?"balas Zia.


"Lo bawa mobil?"tanya Neta kembali


"Iya bawa,ada apa sih?"ujar Zia penasaran dengan tujuan sang sahabat bertanya gitu.


"Kalau gitu gue nebeng pulang ya,soalnya mobil gue masuk bengkel kemarin"ujar Neta.


"Lo nanya gitu cuma karena minta tebengan doang?buang buang waktu aja padahal tinggal bilang,iya lo boleh nebeng nanti"saut Zia setuju.


"Ya kan harus ada basa basi nya dulu biar enak hehehe"balas Neta cengengesan.


"Eh tapi kok nanya gue ada jadwal pulang sekolah atau enggak segala?"tanya Zia


"Nah itu dia masalahnya,kebetulan gue hari ini ada acara ngumpul bentar sama anak anak club sastra


dulu bentar gak lama kok"jawab Neta.


"Jadi?"tanya Zia.


"Tungguin ya hehehe"jawab Neta kembali cengengesan tak jelas.


"Iya gue tungguin,puas lo!"ujar Zia setuju menunggu Neta nanti.


"Ih baik banget sih sahabat gue yang satu ini,jadi sayang"ucap Neta memeluk Zia.


"Lepas gak usah meluk meluk lo"ujar Zia melepaskan pelukan Neta darinya.


"Kalau ada maunya baru bilang gue baik,kalau enggak tingkahnya udah kayak mau dibuang ke sungai amazon"cibir Zia kepada sahabatnya itu.


"Biarin"ucap Neta.


~Skip~


Duk...duk...duk...suara pantulan bola basket yang beradu dengan lantai lapangan oleh Zia terdengar cukup nyaring,saat ini sudah lewat jam pulang sekolah tapi karena tadi gadis itu sudah berjanji akan menunggu sekaligus memberi tebengan pulang pada sahabatnya maka Zia akhirnya berakhir di lapangan basket indor sekolahnya sembari menunggu Neta.


Saat tepat melewati area lapangan basket indor SMA Hantara,pandangan Zia menangkap beberapa bola basket yang tergeletak dipinggir lapangan dan entah kenapa ia tertarik untuk mengambil salah satunya dan mulai memainkannya.


Zia terlihat seperti seseorang yang cukup biasa memainkan salah satu cabang olahraga bola besar itu,hal ini terbukti dengan bagaimana mudahnya gadis itu memainkan dan memantulkan bola basket dengan tangannya sambil berjalan bahkan berlari sekalipun dan terlihat ia sangat mahir mencetak poin dengan memasukkan bola basket itu kedalam ring basket.Duk...duk...duk...suara


pantulan masih terdengar,Zia menggiring bola dengan tangannya sambil berjalan menjauh dari salah satu sisi ring setelah itu berhenti dan memegang kedua bola basket dengan kedua tangannya lalu ia mengangkat kepalanya pandangan Zia lurus jatuh ke ring basket yang berada cukup jauh didepannya.


Duk..duk..duk..tap..tap..tap..suara pantulan bola terdengar selaras dengan suara derap langkah kaki Zia yang tengah berlari sambil menggiring bola menuju kearah ring dihadapannya,setelah sampai ke jarak yang diinginkan Zia langsung memasang posisi bersiap melakukan lompatan dengan menggunakan tumpuan salah satu kakinya yang paling kuat ia melakukan lompatan dengan baik dan saat posisi tubuhnya melayang di udara Zia melakukan tembakan bola langsung menuju kearah ring basket.


Ctak...bola berhasil masuk dengan sempurna kedalam ring dan Zia berhasil mendarat dengan sempurna dengan kedua kakinya.


Prok...prok...prok...suara tepuk tangan terdengar memasuki gendang telinga Zia,Zia langsung mengangkat wajahnya menoleh kearah suara tepuk tangan itu.Indra penglihatan gadis itu langsung menangkap sekelompok siswi berseragam basket bertulis dan berlogo sekolah lengkap dengan sepatu olahraga,mereka semua lah yang memberi tepuk tangan akan aksi singkat Zia tadi.


Zia berjalan mendekat kearah kumpulan gadis itu dengan membawa bola yang ia pakai tadi ditangannya.


"Maaf aku memakai bola dan lapangan kalian sebentar,pasti waktu latihan kalian terganggu karena ku"ucap Zia kepada mereka semua sambil tersenyum ramah.


"Tidak masalah lagi pula ini semua fasilitas sekolah jadi semua murid disini berhak menggunakannya"saut salah seorang diantara anggota tim basket itu,terdengar ramah.


"Perkenalkan gue Rindi kapten tim basket putri sekolah"lanjut gadis itu menyodorkan telapak tangannya untuk berjabatan hendak berkenalan dengan Zia.


"Zia,murid pindahan disekolah ini"balas Zia membalas jabat tangan itu.


"Ah lo pasti saudarinya Liona si ratu sekolahkan,gue cukup familiar akan nama lo"ujar Rindi langsung mengenali siswi dihadapannya itu yang tak lain salah satu anak dari pemilik sekolah mereka.


"Kalian pasti mau latihan kan?,jadi silahkan mulai latihan kalian dan gue pamit dulu"ujar Zia menyerahkan bola ditangannya kepada Rindi kemudian melangkah pergi dari sana.


"Tunggu!"pinta Rindi,menghentikan Zia yang hendak pergi dari sana.


"Ya ada perlu apa lagi?"tanya Zia kepada Rindi.


"Gue liat kemampuan lo boleh juga,mau gabung tim basket?"ujar Rindi menawarkan kepada Zia untuk bergabung ke tim basket.


"Makasih banyak tapi gue gak terlalu jago main basket"saut Zia menolak tawaran itu secara halus.


"Gue gak percaya sama kata kata lo itu,soalnya gue udah liat sedikit kemampuan lo tadi mulai dari cara mengiring bola,lari,lompatan,dan tembakan lo semuanya khas pemain basket banget bukan pemula.Anaka anak yang lain juga pasti sependapat dengan gue"ujar Rindi kepada Zia.


"Lo bisa pikir pikir dulu,lain kali waktu kita ketemu lagi gue bakal naya keputusan lo.Tapi gue harap lo mau gabung"lanjut Rindi.


Zia tersenyum kearah Rindi dan para anggota tim basket yang lain kemudian menatap sang kapten tim


"Oke bakal gue pertimbangkan"jawab Zia setelah itu ia kembali berbalik dan meneruskan langkahnya pergi menjauh dari lapangan indor.


"Gue harap lo mau gabung"gumam Rindi menatap punggung Zia yang mulai menjauh.


"Baiklah semuanya ayo mulai pemanasan!"suruh Rindi kepada seluruh anggota timnya untuk memulai pemanasan sebelum melaksanakan kegiatan latihan basket.