
Selain sore atau malam hari,pagi hari merupakan salah satu waktu yang cukup pas untuk menikmati suasana pantai tanpa takut kulit kepanasan karena terkena sengat sinar matahari.Inilah yang dilakukan oleh salah satu keluarga terhormat dinegara ini yaitu keluarga Antara,
pagi ini mereka udah disibukkan dengan bermain ditepi pantai untuk menuruti keinginan anak keempat dilkeluarga siapa lagi kalau bukan Liona Antara.
Semuanya terkecuali dua orang yaitu Lyn dan Zia,saat anggota keluarga mereka yang lain asik bermain bola pantai bersama tapi keduanya malah lebih memilih ngadem dibawah salah satu tempat dipinggir pantai yang dinaungi benda berbentuk payung besar.Alasannya kalau untuk Lyn sih kalian tidak usah tanya,putri ketiga Antara ini paling mager kalau urusan melakukan aktifitas luar ruangan seperti itu kecuali berkaitan dengan kuliahnya.Zia?selain karena sedikit enggan untuk bergabung dalam kegiatan itu karena tatapan tak suka yang dilayangkan oleh saudari perempuan tertuanya sejak mereka sampai disana tadi,gadis itu juga harus menghemat dan berusaha untuk tidak memforsir energinya berlebihan dengan alasan yang hampir kalian semua sudah tahu.
"Kakak sudah membuka hadiah malam tadi"
Ditengah keheningan antara Zia dan kak Lyn,tiba tiba kakak ketiganya itu berbicara kepadanya meski tanpa melihat kearahnya.
"Kenapa kamu memberikan kalung itu pada kakak,itu kalung milik mamamu?"
"Kalau itu kalung milik mendiang mama,memangnya kenapa?"bukannya menjawab tapi Zia malah bertanya balik.
"Seharusnya kamu yang menyimpannya, bukannya malah memberikannya kepada orang lain sebagai hadiah ulang tahun"ujar kak Lyn.
"Tapi kakak bukan orang lain,kakak adalah kakak-ku dan juga putri kesayangannya mama juga"ujar Zia.
Lyn langsung menoleh kearah samping menatap wajah samping sang adik bungsu,sampai akhirnya adiknya itu menoleh dan menatapnya sambil tersenyum kemudian menatap kedepan lagi.
"Mama tulis pada buku diary-nya dan juga nenek yang menyimpankan kalung itu bilang kalau mama ingin mewariskan kalung berliontin kesayangannya itu kepada putrinya kelak"ujar Zia.
"Dan putri yang mama maksud itu adalah kamu bukan kakak"ujar kak Lyn.
"Tidak juga,mama bilang pada diary-nya yaitu akan diberikan kepada putrinya yang bisa menjaganya dengan baik.Dan diantara kita berdua orang itu adalah kakak,bukan aku"saut Zia.
"Kamu juga pasti bisa menjaganya dengan baik,lagi pula kenapa harus kakak saat kamu masih punya dua kakak perempuan lain?"tanya kak Lyn.
"lagi pula jika aku memberikan kalung itu kepada kak Gia,bisa cukup dipastikan kalung itu akan berakhir didalam tong sampah pada kamarnya nantinya.Sedangkan Liona,dia terlalu asing untuk itu"lanjut Zia menjelaskan.
"Dan kenapa tidak kusimpan sendiri?
Itu karena aku tidak yakin bisa menjaganya dengan baik dan dalam waktu yang lama,lagi pula kalung yang ditinggalkan mama ada dua"tuntas gadis itu.
"Ada dua?"tanya kak Lyn.
"Hm benar ada dua,kalung pertama adalah kalung yang aku hadiahkan kepada kakak dan itu adalah kalung kesayangan mama.Kalung kedua masih dengan jenis kalung berliontin dengan model yang hampir serupa, kalung yang kini kusimpan itu bisa dibilang kalung warisan turun temurun dari mendiang nenek dari pihak mama"ujar Zia menjelaskan.
"Jadi kakak tenang saja dan bantu aku menyimpan kalung yang ada pada kakak itu,anggap itu permintaan sekaligus permohonan dariku"ucap Zia kepada Lyn kakak ketiganya itu.
"Baiklah akan kakak simpan dan jaga dengan baik"ujar kak Lyn menyauti.
"Satu hal lagi,yaitu pembangunan rumah sakit.Itu berlebihan"lanjut kakak ketiga Zia itu.
"Tidak berlebihan,kakak bisa anggap aku senangkap dua lalat dalam satu pergerakan"ujar Zia.
"Rumah sakit,mama dulu sudah pernah membuat rencana untuk membangun rumah sakit keluarga.Tentu kakak gak lupkan kalau mama pernah punya cita cita jadi dokter,meski akhirnya itu hanya cita cita semata yang enggak pernah bisa mama gapai.Jadi aku mewujudkan rencana mama itu saat tahu kalau kakak akan menjadi dokter kelak,selain itu aku ingin memberikan hadiah yang berkesan yang dapat kakak ingat meskipun aku tidak ada lagi nanti"jelas Zia panjang lebar.
"Sudah tidak ada lagi nanti?maksud kamu?"tanya kak Lyn tak paham maksud beberapa kata terakhir pada penjelasan adiknya itu.
"ZIA!"
suara Liona terdengar memanggil Zia sambil berlari kearah keduanya duduk,memutus begitu saja percakapan yang belum selesai dari kedua saudari itu.