One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 67



"Em maaf akan pertanyaan saya tadi yang..."belum selesai perkataan pemilik toko bunga itu tapi Zia sudah memotongnya terlebih dahulu.


"Tak apa tidak usah meminta maaf, lagi pula saya setuju dengan pendapat kakak yang mengatakan kombinasi bunga pesanan saya yang terdengar rada aneh"ujar Zia sambil tersenyum.


"Jadi kakak bisa menyiapkannya kan?"tanya Zia.


"Tentu saja,saya akan membuatkan buket bunga paling istimewa untuk adik"jawab perempuan muda pemilik toko bunga itu.


"Baguslah"ucap Zia.


"Dan soal pembayarannya,apa bisa saya lakukan bayar sekarang saja?"tanya Zia.


"Oh tentu,mari ikut saya"jawab pemilik toko bunga itu mengiyakan, kemudian membawa pelanggan tokonya itu menuju kemeja kasir untuk melakukan pembayaran.


"Pemesanan atas nama?"tanya pemilik toko itu kepada pelanggannya itu.


"Zia H."jawab Zia menyebutkan namanya dan sengaja menyingkat nama keluarganya,ia rasa tak semua orang harus tau kalau dirinya salah satu penyandang gelar nama salah satu keluarga terhormat itu.


"Ini kartu kredit saya"ujar Zia menyerahkan kartu kreditnya kepada pemilik toko itu untuk melakukan pembayaran buket bunga pesanannya.


Setelah selesai melakukan pembayaran perempuan pemilik toko itu mnyerahkan kembali kartu kredit milik Zia serta memberikan bukti pembayaran dan juga bukti pemesanan buket bunga kepada pelanggannya itu,


Zia menyimpan kartu kredit dan bukti pemesanan serta pembayaran kedalam dompetnya.


"Kalau begitu saya permisi"ujar Zia pamit meninggalkan toko bunga itu.


"Baiklah terimakasih atas kunjungannya"ucap perempuan pemilik toko itu.


Kring...kring...lonceng yang tergantung diatas pintu toko bunga itu kembali berbunyi disaat Zia membuka pintu toko dan pergi keluar meninggalkan toko itu.


Perempuan pemilik toko itu menatap punggung pelanggan remajanya itu yang sudah menghilang meninggalkan tokonya itu.


"Anak yang malang,bagaimana dia terlihat begitu tenang?"gumam perempuan itu mengingat bagaimana tenangnya pelanggan mudanya itu saat mengatakan hari kelahiran atau ulang tahunnya sama dengan hari kematian ibunya.


"Tapi gadis itu anak yang tenang dan kuat serta pemilik bila mata yang jernih dan bercahaya"gumam perempuan muda itu kembali,setelah itu ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sekeluar dari toko bunga itu Zia langsung masuk kedalam mobilnya yang ia parkirkan tepat didepan toko, gadis itu tersenyum senang.


"Oke urusan buket bunga sudah selesai,sekarang tinggal minta  alamat tempat mama dimakamin ke papa"gumam Zia.


Ia mengambil ponselnya yang ia simpan disaku yang terdapat dibagian dalam jaketnya,kemudian membuka sebuah aplikas WA miliknya dan mulai mengetik pesan untuk dikirim ke no.papanya itu.


ZIA H.;


Papa bisakah Zia meminta alamat tempat mama dimakamkan?


Zia selesai mengirim pesan untuk papanya,gadis itu berharap semoga papanya segera membaca pesan darinya dan segera membalasnya.Zia menyimpan ponsel genggamnya kembali kemudian mulai menyalakan dan menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu dan kembali kekediaman utama keluarganya.


Mobil milik sekaligus sedang dikendarai oleh putra sulung keluarga Antara terlihat memasuki gerbang kawasan mewah kediaman utama keluarga Antara,mobil itu berjalan pelan memasuki garasi mobil yang luas kemudian terhenti disana.Arga kemudian langsung keluar dari dalam mobilnya,putra sulung Renal itu terlihat sangat berwibawa menggunakan setelan kemeja dan jas formal.


Saat hendak melangkah meninggalkan garasi untuk masuk keadalam rumah,bunyi ponsel genggam pemuda itu terdengar berbunyi.Arga menunda langkahnya dan langsung menerima panggilan telepon itu saat melihat nama kontak yang tertera dilayar ponsel pintarnya itu,itu adalah nomor hp milik papanya.


"Halo pa"ujar Arga


"Arga dan adik adik yang lain baik pa,kabar papa sama mama gimana?"tanya Arga.


"Kabar papa dan mama disini juga juga baik"Jawab sang papa.


"Ada apa nelpon Arga?"tanya Arga


"Papa nelpon kamu karena mau bilang sesuatu soal adik bungsu kamu"Jawab Renal papanya Arga.


"Zia,ada apa dengan Zia?"tanya Arga.


"Papa baru ingat kalau lusa adalah hari ulang tahun Zia yang ke 17tahun"ujar Renal kepada putra sulungnya itu.


"Ah iya Arga juga baru ingat saat papa mengatakannya"ujar Arga menepuk keningnya sendiri,bagaimana ia lupa akan hal itu.


"Jadi apa yang papa ingin Arga lakukan?"tanya Arga.


"Papa ingin kamu dan saudari saudarimu yang lain merayakan ulang tahunnya Zia,papa dan mama kalian gak bisa pulang jadi papa harap kalian bisa melakukannya"Ujar Renal.


"Tentu saja pa,Arga akan menyiapkan semuanya"ujar Arga.


"Baiklah kalau begitu,papa percayakan padamu"ucap papanya Arga itu.


"Papa bisa percaya kepada Arga"ujar Arga.


"Kalau begitu papa sudahi dulu,papa masih punya banyak kerjaan yang harus diselesaikan"ujar Renal mengakhiri pembicaraan lewat teleponnya dengan sang putra.


"Baik pa"ucap Arga,setelah itu pembicaraan mereka berakhir dan Arga mematikan hpnya kemudian menyimpannya kedalam sakunya.


Arga berjalan meninggalkan garasi mobil kemudian berjalan masuk kedalam kediaman keluarga besarnya,


Anak sulung keluarga Antara itu langsung menaiki anak tangga dan kemudian masuk kedalam kamarnya.


Mari kita kembali ketempat dimana Zia berada saat ini,gadis itu saat ini sedang berada disebuah toko kue.


Ia seperti membicarakan sesuatu dengan pelayan toko kue yang ia kunjungi itu.


"Jadi semua kue pesanan mbak ini akan dikirim kealamat panti asuhan dan yayasan anak yang anda berikan?" tanya pelayan toko kue itu kepada Zia.


"Iya mbak,dikirimnya lusa ya mbak"ujar Zia.


"Baiklah kalau begitu silahkan lakukan pembayaran dpnya terlebih dahulu dan pelunasannya pada hari H ya mbak"ujar pelayan toko itu kepada pelanggan mudanya itu.


"Baik kak"ujar Zia,gadis itu langsung menyerahkan kartu kredit miliknya untuk melakukan pembayaran dp untuk kue yang ingin dia pesan ditoko itu.


"Huf...masalah kue sudah selesai, akhirnya pekerjaan gue selesai"ujar Zia setelah menghela nafas pelan, kemudian melangkah memasuki dalam mobilnya.Gadis itu membenamkan dan menaruh kepalanya diatas kemudi sebentar,menetralisir nafasnya yang tiba tiba terasa sedikit sesak.


Zia mengangkat kepalanya dan memperbaiki posisi duduknya dikursi pengemudi setelah merasa nafasnya sudah stabil dan tidak sesak lagi, senyum tiba tiba terukir dibibir gadis itu.


"Gejalanya makin sering muncul aja,gak kayak sebelum sebelumnya" gumam gadis itu pelan.


Zia menyalakan mesin mobilnya dan mulai menjalankan mobil meninggalkan parkiran dan melaju memasuki jalan raya yang terbilang cukup padat dan ramai akibat saat ini sudah masuk jam orang orang selesai bekerja dan pulang kerumah masing,sama halnya dengan Zia yang tidak akan mengunjungi ketempat lain lagi hari ini dan memilih untuk langsung pulang saja.