One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 271



Gia melangkah memasuki sebuah restoran,gaya elegan dan berkarisna khas wanita karir yang dipancarkan putri tertua tuan Renal Antara itu sangat kuat.Perempuan muda itu langsung menemui resepsionis restoran yang didatanginya itu lalu


"Pesanan atas nama Gia Antara"Gia


"Meja privat atas nama nona Gia Antara ada disebelah sini nona,mari saya antar"Resepsionis


Gia mengikuti resepsionis yang mengantarnya menuju sebuah ruangan privat didalam restorant itu.


"Silahkan nona"resepsionis


"Hm"Gia


Setelah itu resepsionis pergi meninggalkan ruangan privat itu, sedangkan Gia duduk disalah satu kursi disana.Putri tuan Renal itu sudah membuat janji untuk bertemu seseorang disana,sembari menunggu seseorang yang akan ditemuinya datang.Gia memesan makanan dan minum untuk dirinya.


"Selamat siang nona Gia,maaf saya sedikit terlambat"


Akhirnya setelah sepuluh menit menunggu,seseorang yang ditunggu oleh Gia datang juga akhirnya.


"Tak masalah,duduklah"Gia


"Baik nona,terima kasih"orang itu langsung duduk disalah satu kursi lain disana.


"Pesan makanan atau minuman yang anda mau,saya yang akan bayar"Gia.


"Kalau boleh saya akan pesan nanti saja nona,setelah saya mendapatkan tugas baru dari nona"seseorang itu.


"Baiklah,langsung saja kalau begitu"


"Saya ingin anda mengawasi salah satu adik saya,laporkan apapun yang dia lakukan selama diluar kediaman keluarga saya.Kirim foto sebagai bukti laporan"


Gia mengeluarkan sebuah foto berukuran 4×6 dari dalam tasnya,lalu menyodorkannya kehadapan lawan bicaranya itu.Seseorang itu mengambil foto yang disodorkan oleh bosnya itu dan melihat siapa yang ada disana.


"Bukankah yang ada didalam foto ini adalah adik bungsu nona yaitu nona Zia Antara?"


"Ada apa sampai nona ingin saya mengawasi adik nona sendiri,ini tak biasa?"ujar seseorang itu.


"Yang ada didalam foto itu memang adik bungsu saya"


"Saya menugaskan anda mengawasinya hanya ingin tahu kegiatan adik saya saja"


"Zia masih terbilang cukup baru tinggal dinegara ini,saya ingin mengetahui sejauh mana dia bergaul dan juga untuk memastikan nona muda Antara tidak berada didalam pergaulan remaja yang salah"Gia.


"Begitu rupanya,anda sungguh kakak yang sangat perhatian terhadap adik bungsu anda nona"


"Saya akan melaksanakan tugas baru saja ini dengan semaksimal mungkin,


nona tunggu saja laporan pertama saya"ujar seseorang itu.


Gia tersenyun tipis mendengar perkataan seseorang yang merupakan orang suruhannya itu.


*Perhatian ya?lebih tepatnya saya ingin menghancurkannya*batin Gia.


"Saya tunggu hasil pertama tugas anda"


Setelah mengatakan hal itu,Gia kembali membuka tasnya lalu perlahan mengeluarkan lembaran merah dengan jumlah yang cukup banyak dari dalam sana lalu meletakkannya dihadapan orang suruhannya itu kemudian beranjak berdiri.


"Gunakan itu untuk membayar pesanan anda nanti,sisanya simpan sebagai uang bensin.Tenang saja,itu tidak dihitung dengan gaji anda ditugas ini"Gia.


Tentunya tanpa ada kata penolakan,


orang suruhan Gia itu langsung saja meraih lembaran2 uang merah pecahan seratus ribu itu dengan semangat.


"Terima kasih banyak nona"ucapnya.


"Hm,dan ya pastikan tidak ada yang mengetahui tugasmu kali ini terutama Zia,saya tidak mau adik bungsu saya merasa risih dan terganggu"ujar Gia.


*Bukan,tapi saya tidak mau rencana saya gagal*tentu saja yang ini Gia katakan didalam hatinya.


"Tidak perlu khawatir nona Gia,saya akan memastikan keberadaan diri saya tidak terdeteksi oleh nona muda Zia"


"Bagus itu yang saya mau,kalau begitu saya pergi duluan"


Gia melenggang meninggalkan ruang privat itu meninggalkan anak buahnya disana.


Sepuluh menit setelah kepergian bosnya itu,seseorang itu menatap hidangan yang tadinya dipesan oleh sang bos belum tersentuh sedikitpun diatas meja dihadapannya.


"Lihat makanan mahal dimeja ini,dipesan tanpa ada niat untuk dimakan"


"Dari pada uangku berkurang untuk membeli makanan mahal direstoran ini,lebih baik kuhabiskan saja yang ini.Biar tak mubazir"anak buah Gia itu mulai menikmati makanan yang tadi Gia pesan.