
Sela langsung meletakkan punggung telapak tangannya kepada kening sibungsu untuk memastikan perkataan putri ketiganya benar.
"Yaampun sayang,badan kamu panas banget.Gak usah masuk sekolah ya, istirahat dirumah dulu"wanita itu.
Zia langsung spontan menggelengkan kepalanya dengan cepat mendengar perkataan sang mami
"No mami,Zia mau sekolah buat ujian.
Zia gak papa kok,itu cuma panas mungkin karena kecapeaan gara gara Zia bergadang tadi malam"ujar Zia dengan cepat menolak.
"Libur saja Zia,jangan keras kepala"ujar kak Arga bersuara.
"No"bantah Zia.
"Jangan keras kepala dek"ujar kak Arga lagi.
"Ada apa ini?"tanya kak Gia yang datang berbarengan dengan kak Lyn juga.
"Ini loh kak,adek kalian Zia lagi sakit demam tapi tetep kekeh pengen sekolah"jawab Sela sang mama.
"Ooh yaudah sih biarin aja dia kesekolah,itukan urusan dia.Lagian yang ngerasain sakit juga dia"ujar Gia tak begitu peduli,setelah mengatakan itu ia langsung mengambil posisi duduk untuk memulai sarapannya.
"Gak bisa gitu dong kak,Zia lagi demam mana panas banget lagi.Nanti kalau kenapa kenapa gimana,lo libur aja dek trus ikut ujian susulan nanti kalau dah sembuh"ujar Liona memberi saran.
"No,I will still leave for school"
Saut Zia.
"Dek,jangan keras kepala kali ini.
Ikuti saran mami sama kakak kakak kamu,kalau tetep dipaksain nanti takutnya kamu gak bisa ngerjain ujian dengan baik"ujar Renal Akhirnya angkat bicara untuk meminta putri bungsunya itu agar tidak usah masuk sekolah dulu.
Huh...Zia mendengus sebal,ayolah kenapa dengan keluarganya ini.Meski disatu sisi ia senang jika mereka peduli dirinya sakit tapi ayolah ini hanya demam,mana kepalanya pusing lagi karena harus debat dulu.
"Zia will remain daddy's school,and stop calling me stubbornly.Also this is just a normal hot fever,I often often die"ujar Zia mengeluarkan Englist accentnya dan mungkin sedikit keceplosan.
"Apa maksud perkataan-mu diakhir tadi sayang?sering hampir mati?"tanya sang papa langsung, begitu juga yang lain yang sedikit kaget mendengar perkataan yang termuda itu barusan.
"Tidak ada"jawab Zia singkat.
*Mulut lo kenapa asal ceplos gini sih Zia*batin Zi.
"Zia sayang,jelaskan"suara sang papa kembali terdengar.
"Loh mau kemana dek,sarapannya belum habis loh"ujar sang mami.
"Sekolah mi,sarapannya enak kayak biasa tapi maaf Zia lagi gak selera"ujar Zia yang sudah menyandang tas sekolahnya,ia mulai beranjak meninggalkan meja makan.
"Zia Antara"suara dingin memanggil namanya membuat Zia langsung terkesiap dan berbalik menghadap meja makan kembali,bukan cuma Zia saja tapi seluruh keluarga juga ikut terkesiap menyadari siapa yang bicara.
Glup..Zia menelan ludahnya sendiri dengan berat menyadari kakak ketiganya tengah menatapnya datar dan dingin.
"Iya kak,ada apa?"tanya Zia sebiasa mungkin.
"Pergi naik mobil?"tanya kak Lyn datar,Zia langsung otomatis mengangguk.
"kunci mobil"ujar kak Lyn mengangkat tangannya seolah meminta kunci mobil Zia.
Zia tanpa pikir panjang dan bertanya untuk apa langsung dengan polosnya menyerahkan kunci mobilnya kepada kakak ketiganya itu.
"Ini kak,untuk apa emang?"barulah ia bertanya setelah kunci mobilnya sudah pindah tangan.
Kak Lyn menggenggam kunci mobil Zia itu dan memasukkannya kedalam saku blazer yang ia kenakan.
"Sit! Spend your breakfast,no driving for today"ujar gadis dingin itu.
"What? Can't drive?Why? Then how will I go to school.I don't want to use a family driver Sis"protes Zia.
"I will take you"saut kak Lyn.
Kedua gadis itu tanpa sadar berdebat,tanpa sadar keluarga mereka terlihat sedikit heran melihat interaksi mereka.Terutama saat melihat kak Lyn yang rela banyak bicara untuk mengurus Zia,ini sangat mengherankan.Putri ketiga Antara itu tak pernah sepeduli itu kepada orang lain,bahkan orang tuanya sendiri.
"Don't want to, why should I be like that.Pile my car's key back, I want to go to school now"ujar Zia yang sedang menggunakan mode keras kepalanya.
"ZIA FRANSISKA"ujar Lyn dengan lantang.
Semua anggota keluarganya terkejut akan apa yang baru diucapkan gadis itu bahkan bik Muti yang tadinya hendak melewati ruang makan keluarga majikannya itu ikut terkejut dengan apa yang didengar.
"Kak"Renal langsung menegur anak ketiganya itu saat sang putri baru saja menyebutkan nama belakang istri keduanya yang tak lain adalah mendiang mama kandung dari putri bungsunya,laki laki itu khawatir putri bungsunya merasa sedih.
"Okay Fine,sister wins"ujar Zia langsung segera kembali ketempat duduknya dan mulai melanjutkan memakan sarapannya yang tadi.
Suasana hening seketika langsung tercipta,Sela sang nyonya Antara itu bisa mengamati raut wajah suaminya yang tampak berubah itu kini tengah menatap putri bungsu mereka dengan seksama dan terlihat sebuah guratan yang membuat sebuah perasaan yang jauh tersimpan dilubuk hatinya kembali mencuat seketika.