One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 80



Zia dan Neta yang mendengar kalau semua anak anak kelasnya seperti dihina oleh Ken pun mulai mengepalkan tangan mereka,Liona sendiri memilih tak ikut campur saat menyadari emosi dua gadis didepannya itu mulai mendidih.


*Gue emang bulol sama Ken,tapi masalah menghina orang emang susah ditoleransi manusia sehat*batin Liona.


"Lo tadi bilang apa?"tanya Zia sambil memasang fake smile.


"Itu anak anak 12 IPS 1 itu isi pada kekurangan otak sama prik semua"jawab Ken dengan santainya.


"Ta"ujar Zia.


"Oke"saut Neta.


"DANIL!"teriak Neta dengan kencang memanggil nama ketua kelasnya,tak mempedulikan penghuni kantin yang lain langsung menjadikannya pusat perhatian karena berteriak didalam kantin yang masih ramai pengunjungnya.


"APA SIH NETA MANGGIL MANGGIL?"saut Danil dari meja kantin tempatnya diduduk dengan berteriak juga.


"SINI LO ADA YANG HARUS DIURUS"ujar Neta.


"JANGAN TERIK TERIAK WOI GUE GAK BUDEK"ujar Danil.


"MAKANYA LO CEPET SINI,BOS KELAS KITA MARAH TAU RASA LO"ujar Neta.


"WOI LO BERDUA JANGAN TERIAK TERIAK PEAK,INI KANTIN BUKAN PUNYA BAPAK LO BERDUA"tiba tiba Rena datang sambil ikut berteriak juga.


"LO JUGA SAMA PEAK"ujar Neta dan Danil bersamaan,membuat langsung diam.


"DANIL BURUAN!"panggil Neta lagi.


"IYA IYA"saut Danil lagi,tak lama kemudian terlihat pak ketu itu langsung datang dengan setengah berlari mendekat ke meja tempat Neta memanggilnya.


"Apa sih lo manggil manggil,gak tau apa gue lagi enak enaknya makan"ujar Danil kepada Neta.


Ken yang berdiri disebelah tempat Zia duduk langsung menyergitkan keningnya bingung,kenapa Neta terlihat sangat akrab dengan ketua dari kelas yang baru ia hina itu.


"Itu bos manggil"ujar Neta pada Danil sambil menunjuk kearah Zia.


"Eh bu bosnya kita,ada apanih manggil manggil?"tanya Danil ke Zia terlihat sangat ramah,berbanding terbalik dengan ke Neta yang sangat ketus.


"Apa yang bakal lo lakuin sebagai ketua kelas,kalau seandainya ada yang berani ngerendahin atau menghina kelas kita?"tanya Zia kepada Danil.


*What kelas kita?jangan bilang*batin Ken,glup cowok itu langsung menelan ludahnya tapi ia tak mau kelihatan lemah langsung berusaha bersikap pede.


"HAH!siapa yang berani hina atau ngerendahin kelas gue sama anggota gue?!kasih tau gue bos,biar gue kasih pelajaran itu orang!"ujar Danil langsung berubah serius dan mulai menggulung lengan almamaternya.


"Emang lo berani?"tanya Zia pada Danil sambil melirik kearah Ken.


"Beranilah,ini saatnya sabuk hitam karate gue difungsikan"jawab Danil serius.


"Nih orangnya"ujar Zia tanpa ragu langsung menunjuk Ken yang berada disampingnya.


"Masa nih ya pak Ketu,kelas kita dibilang kekurangan otak sama prik sih"ujar Neta.


"Apa!heh!siapa lo berani mengomentari anggota kelas gue hah?!"ujar Danil menatap tajam Ken.


"Gue kapten basket sekolah ini,ngapa emang.Apa yang gue bilang itu bener kok,kelas kalian emang pada prik gak level sama gue.Dan gue yakin anak anak yang lain juga setuju"ujar Ken terlihat sangat arogan.


"Maksud lo?!"bentak Danil mulai emosi,pak Ketu itu langsung menggenggam kerah seragam Ken dan mengangkatnya keatas bahkan membuat Ken yang tinggi sedikit berinjit.


"Wah ada yang mau ribut woi"


"Lerai lerai"


"Jangan elah,seru pasti"


"Siapa yang mulai?"


"Yang gue denger sih,kapten basket hina kelasnya si Danil"


"Dia pak Ketunya,ya jelas marahlah"


"Gue pegang Danil sih,anak karate soalnya"


"Jangan sampai wajah tampan Ken lecet"


"Iya kasian"


"Alah ganteng apaan kayak gitu,mukanya pasaran"


Murid murid yang berada didalam kantin itu mulai ribut melibat keributan yang akan segera dimulai itu.


Liona mulai panik,ia takut kalau Ken benar benar dihajar oleh Danil yang statusnya jelas sebagai salah satu anak eskul karate sabuk hitam disekolah mereka itu.


"Dek ayo lerain dong,kakak gak mau Ken kenapa kenapa"pinta Liona pada adiknya.


"Ta tolong bujukin Zia dong"kali ini pada Neta,gadis itu semakin panik tat kala Ken mulai membalas mencekik leher Danil yang masih mengangkat kerah bajunya.


Zia maupun Neta tak mempedulikan perkataan Liona itu sama sekali, keduanya kompak memasang muka datar.


"Woi!le-le-pas"ujar Danil saat Ken mencekik lehernya dengan kuat seakan berniat membuatnya mati kehabisan nafas.


"Udah gue bilang lo gak selevel sama gue bro hahaha"ujar Ken tak peduli Danil akan mati kehabisan nafas,tangannya terus mencekram leher orang berani mengancamnya itu.


Huf...Zia hampir aja ingin turun tangan tapi tak jadi karena kedatangan ketua OSIS bersama para anggotanya.


"APA APAAN INI?KEN TURUNI TANGAN LO ATAU SIAP SIAP DAPET SURAT SKOR"teriak Raka dengan tegas langsung masuk ketengah tengah keributan langsung mengehentikan pertikaian yang akan pecah itu.


"KALIAN JUGA BUBAR!"perintah Raka kepada murid murid yang mulai berkumpul melingkar guna menyaksikan pertikaian itu.


"Yah pak ketos datang,gak jadi gelut"


"Diatas Danil anak karate sama Ken kapten basket,masih ada Raka pak ketos kita"


"Bubar yuk,dari pada terseret"


"Yuk yuk,jangan sampai kita kena juga"


Ujar murid murid lain mengomentari kedatangan Raka.


Setelah semuanya bubar,Raka langsung beralih menatap satu persatu orang orang yang terlibat dalam keributan itu.


"Kalian semua yang terlibat,ikut gue ke BK sekarang!tanpa terkecuali!" Suruh Raka.


"Pak ketu lo gak papa?"tanya Zia pada Danil.


"Gak papa bos,santai"jawab Danil setelah menghirup banyak oksigen lagi.


"Gue gak ditanya juga,Zia?"ujar Ken tanpa tahu malu sedikitpun.


"Siapa lo?"saut Zia tak peduli sama sekali.


"Kalian kenapa pada diam aja?!ayo ikut ke BK sekarang!"ujar Raka lagi.


"Sabar dong pak Ketos"ujar Zia.


"Bel!"panggil gadis itu pada teman sekelasnya yang bernama Bella.


"Kenapa Zia?"saut Bella langsung mendekati Zia.


"Nih,uang buat bayar makanan lo pada tadi"ujar Zia menyerahkan satu amplop berisi banyak sekali lembaran uang kertas berwarna merah.


"Gak kelebihan nih,Zia?"ujar Abel setelah melihat isi amplop itu.


"Lebihnya simpen aja buat lo"jawab Zia ke Abel.


"Serius lo Zia,lebihnya buat gue ya.Jangan malah lo suruh ganti entar"ujar Abel.


"Iya"saut Zia.


"Yuk pak ketos,BK"ujar gadis itu menarik tangan pak ketos berjalan menjauh dari sana.


"Asik dapet duit"ucap Abel senang.


"Eh Bel,kasih gue sebagian ya?"pinta Danil yang masih sempat sempatnya meminta bagian padahal udah mau dibawa keruang BK.


"Karena lo udah keren belain kelas kita,iya nanti gue bagi setengahnya"ujar Abel setuju.


"Udah ayok Nil,ke BK"ajak Neta menyeret Danil menyusul yang lainnya yang sudah keBK duluan.


*Jadi orang kaya gabut yang dibilang Neta tadi itu adik gue*batin Liona mendengar percakapan tadi,ia segera berlari menyusul Ken dan Zia yang dibawa keruang BK bersama yang lainnya.


"Eh bel,bayarin makanan gue tadi juga ya.Tadi Zia bilang mau traktir gue soalnya"ujar Rena ke Abel sebelum menyusul sahabatnya.


"Oke"saut Abel.