One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 66



Sekeluarnya dari kamar Liona,Zia langsung memasuki kamarnya segera meraih jaket dan kunci mobil kemudian memakai sepatu sneekers miliknya,setelah itu bergegas kembali keluar dari dalam kamarnya menuju kearah tangga.


Tap...tap...tap...derap langkah Zia terdengar jelas menggema diseluruh mansion saat tapak sepatu gadis itu baradu dengan permukaan anak tangga,


Setelah Zia menuruni tangga,ia berlari bergegas hendak keluar dari rumah.


Bruk...aduh...suara rintihan terdengar.


*Sial*Zia mengumpat dirinya sendiri dalam hati.karena terlalu terburu menuju pintu keluar,Zia tak sengaja menabrak seseorang sampai terjatuh.


"Maaf kak"ucap Zia sedikit takut saat menyadari yang dia tabrak tadi adalah saudari tertuanya.


Zia membungkuk dan segera mengulurkan tangannya hendak membantu kakaknya itu berdiri namun tangannya langsung ditepis keras oleh Gia kakaknya.


"GAK USAH!"tolak saudarinya itu dengan nada sedikit membentak, membuat Zia langsung terkesiap dan langsung berdiri tegak.


Gia mendengus kesal bangkit dari lantai kemudian berdiri kembali,ia manatap tajam gadis yang lebih muda darinya itu dengan tatapan tajam.


"Maaf kak,tadi gue buru buru"ucap gadis yang tengah ditatapnya tajam itu.


"ANAK PARASIT,GUE GAK PEDULI LO BURU BURU TAPI JAGA SIKAP LO DIRUMAH ORANG"Bentak Gie yang terlihat sangat emosi.


"MINGGIR SIALAN"ujar gadis itu lagi langsung pergi dari sana dengan menabrakkan bahunya ke bahu Zia.


"Padahal gue bener bener gak sengaja"Zia bergumam dengan sendu.


Setelah itu ia mengingat kembali tujuannya bergegas gegas tadi,Zia memilih tak memikirkan kejadian barusan dan langsung berlari cepat menuju garasi untuk mengambil mobil miliknya.Tak lama kemudian gadis itu terlihat mengendarai mobilnya keluar dari kawasan kediaman ANTARA dan melaju cepat menelusuri jalanan.


Gia memasuki kamarnya dengan perasaan yang sangat kesal sekarang,ia kesal karena hari ini banyak kejadian yang membuat emosinya terkuras.


"Kenapa semua orang kutemui hari ini selalu membuatku naik pitam"keluhnya langsung menghempaskan dirinya keatas tempat tidur.


Mulai dari tadi pagi saat dikampus, ia harus menerima omelan dosen yang sangat arogan memintanya untuk merevisi hampir sepertiga bagian isi skripsinya hanya karena sebuah kesalahan kcik,berlanjut saat dia berada dikantor dimana ia harus kembali dibuat emosi saat salah satu karyawan divisiny yang tak becus membuat laporan.Dan yang terakhir saat ia pulang kerumah niat hati untuk mengistirahatkan diri,tapi saat hendak masuk kedalam rumah ia malah ditabrak oleh seseorang yang paling tak ia sukai dan benci didunia ini.Siapa lagi kalau bukan Zia,anak dari istri kedua papanya.


Ngomong-ngomong soal gadis parasit itu,Gia sudah menyiapkan rencana untuk membuat gadis itu tak nyaman dan akhirnya pasti akan memilih pergi dari keluarganya.


"Jadi gak sabar"gumam Gia sambil tersenyum licik sambil melihat kearah sebuah kalender dimejanya.


Kemudian ia bangkit dari tempat tidurnya lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket oleh keringat karena beraktivitas seharian ini.


Kring...kring...suara bel berbunyi saat Zia mendorong pintu dan memasuki sebuah toko bunga,gadis itu tersenyum saat melihat berbagai jenis bunga yang dipajang didalam toko itu.


"Permisi,ada yang bisa saya bantu dek?"ujar seseorang menghampiri Zia.


Zia berbalik dan melihat orang yang menghampirinya,seorang perempuan muda tersenyum ramah kepadanya dan tentu saja Zia membalas senyuman itu.


"Halo kak,saya kesini mau memesan buket bunga"ujar Zia membelas sapaan perempuan muda yang sepertinya adalah pemilik ditoko bunga yang ia kunjungi itu.


"Benarkah,kalau begitu adek mau pesan buket bunga seperti apa?"tanya perempuan pemilik toko bunga itu terlihat sangat ramah.


"Tapi kak sebelum saya jawab,saya boleh nanya dulu gak?"tanya Zia.


"Kalau misalnya saya pesan hari ini tapi diambilnya lusa gak papakan, soalnya saya mau perlu bunganya lusa?"tanya Zia.


"Tentu saja boleh"jawab pemilik toko bunga itu sambil tersenyum.


"Bagus kalau gitu,saya pesan buket bunganya disini"putus Zia terlihat semangat dan lega bersamaan karena itu artinya ia tak harus mencari toko bunga yang lain.


"Kalau begitu buket bunganya mau dibuat pakai bunga apa dek,adek yang nentuin atau bebas?"tanya pemilik toko bunga itu.


"Saya yang nentuin kak,saya udah pilih beberapa jenis bunga yang akan dijadiin buket bunga pesanan saya nanti "jawab Zia.


"Adek mau pakai bunga apa aja?"tanya pemilik toko.


"Saya pengen buket bunga dari bunga lily,bunga anyelir putih,dan bunga mawar"ujar Zia menyebutkan bunga yang ingin ia kombinasikan dalam buket bunga pesanannya kepada perempuan pemilik toko bunga.


Perempuan muda pemilik toko bunga yang didatangi Zia itu terlihat sedikit menyergit,raut wajahnya memancarkan sedikit kebingungan dan tanda tanya.


"Ada apa kak,apa kakak tak bisa membuat buket bunga dari bunga yang saya sebutkan tadi?"tanya Zia.


"Tentu saja saya bisa,tapi saya sedikit bingung dengan kombinasi bunga yang adik pilih dalam buket bunga pesanan"saut pemilik toko bunga itu.


"Bingung kenapa kak?"tanya Zia.


"Kombinasinya sedikit agak lain"jawab pemilik toko bunga itu.


"Ooh saya paham,saya memang sengaja memilih bunga bunga itu kak.Karena semuanya ada makna menurut saja"ujar Zia.


"Makna?"


"Hm makna,kakak pasti tau kalau bunga liliy identik dengan kesucian dan kemurnian bak kasih sayang seorang ibu kepada anaknya"ujar Zia mulai menjelaskan kenapa ia memilih bunga bunga tersebut.


"Bunga anyelir putih mewakili rasa duka dan hormat kepada orang yang sudah meninggal dan bunga mawar melambangkan untuk seseorang yang lahir dibulan juni"lanjut Zia.


"Saya tau makanya saya sedikit heran,bunga mawar yang bisa disebut melambangkan kelahiran disatukan dengan bunga anyelir putih yang mewakili rasa duka,bukankah jadi bertolak belakang?kalau boleh tau untuk adek mau memesan buket bunga itu?"tanya perempuan muda pemilik toko bunga itu kepada pelanggan mudanya,bukannya apa ia hanya ingin tau dan tak apa jika gadis itu tak mau memberitahunya.


"Lusa adalah hari ulang tahun saya kak dan sekaligus hari peringatan kematian mama saya kak"jawab Zia terlihat sangat tenang mengatakan hal itu, berbeda dengan pemilik toko bunga itu yang langsung tertegun mendengar alasan gadis muda itu.


"Saya ingin membawa buket bunga pesanan saya kemakam mama saya lusa nanti"lanjut Zia.


"Em maaf akan pertanyaan saya tadi yang..."belum selesai perkataan pemilik toko bunga itu tapi Zia sudah memotongnya terlebih dahulu.


"Tak apa tidak usah meminta maaf, lagi pula saya setuju dengan pendapat kakak yang mengatakan kombinasi bunga pesanan saya yang terdengar rada aneh"ujar Zia sambil tersenyum.


"Jadi kakak bisa menyiapkannya kan?"tanya Zia.


"Tentu saja,saya akan membuatkan buket bunga paling istimewa untuk adik"jawab perempuan muda pemilik toko bunga itu.


"Baguslah"ucap Zia.