
"Tertukar gimana?"tanya Neta
"Kak Lyn sih seperti yang sering gue ceritain ke lo,sifat kakak gue yang satu itu kayak care sama udah gak terlalu dingin lagi sama gue.Ya meski itu terjadi pas gak ada anggota keluarga yang lain disekitar kita,tapi gue bisa maklumin"ujar Zia menjelaskan tentang sikap kakak ketiganya itu padanya.
"Kalau kak Arga gimana?"tanya Neta
"Kalau kak Arga entahlah,kakak tertua gue itu makin hari sifatnya makin acuh tau gak sama gue.Iya sih kalau didepan mami sama papa gue dia masih rada bersikap kayak biasa aja, tapi kalau gak ada papa mama baru kayak acuh banget.Kak Arga gak jarang juga ngelibatin emosi kalau ngomong sama gue,heran gue jadinya.
Padahal sejak dulu,kak Arga gak kayak gitu sama gue"jelas Zia panjang lebar.
"Menurut gue sih diantara keempat kakak lo itu,perubahan sikap kakak pertama lo deh yang paling bahaya kalau bener bener keterusan kedepannya"ujar Neta.
"Kenapa gitu?"tanya Zia.
"Alasannya sih karena kita khususnya lo sendiri akhirnya jadi gak tau dan bingung gimana mengambil sikap buat ngeladenin kakak tertua lo itu,beda sama kakak Gia.Kalau kak Gia kan secara terang terangan udah jelas banget kalau dia gak suka sama keberadaan lo,sikapnya masih konstan sehingga lo mudah buat cari cara bersikap ke kak Gia"ujar Neta menjelaskan pendapatnya.
Zia terdiam sejenak memikirkan perkataan sang sahabat yang menurutnya memang benar adanya itu.
"Ah au Ah,pusing gue"ujar gadis itu.
"Yaudah kalau gitu gak usah pikirin dulu,jangan sampai lo stres mikirin itu.Bahaya buat kesehatan lo"ujar Neta.
"Hm,balik yuk Ta.Udah lama juga kita disini"ujar Zia mengajak sahabatnya pulang.
"Yuklah,gue juga udah mulai laper nih pengen makan siang"ujar Neta.
"Lah dari tadikan kita makan"ujar Zia heran saat Neta mengatakan lapar,padahal dari tadi mereka sibuk makan sambil bercerita.
"Ye itu mah masuk itungan ngemil Zi, belum masuk makanan berat itu"jawab Neta.
"Dasar,trus lo langsung balik rumah?"tanya Zia.
"Iyalah kemana lagi"jawab Neta.
"Dirumah lo ada orang?"tanya Zia.
"Ada kayak biasa,pembantu sama pak keamanan,sama tukang kebun"jawab Neta.
"Lo ikut balik rumah gue aja yuk, dari pada gak ada temen lo disana"ajak Zia yang sudah menyandang tasnya.
"Seriusan gue boleh ikut,lo emang gak kekeperusahaan dulu?"tanya Neta.
"Enggak,gue meliburkan diri hari ini"ujar Zia.
"Oke deh yuk gue ikut,bosen juga gue ngomong sama tembok kamar"ujar Neta langsung terlihat semangat.
Keduanya pun langsung bergerak meninggalkan area perpustakaan, meski begitu mereka tidak lupa membawa sampah makanan dan minuman mereka tadi untuk dibuang ke tong sampah yang ada didepan perpustakaan.
~Skip~
Liona sedang duduk diSofa didaerah ruang tamu gadis itu sedang belajar sambil mendengar musik yang diputar melalui hpnya dengan volume pelan.
Sela tersenyum melihat putrinya yang tangah sibuk belajar itu,wanita itu meletakkan sepiring biskuit dan satu gelas es lemon diatas meja kemudian duduk diatas sofa disebelah putrinya itu
"Makasih ma"ucap Liona mendongak kearah sang mama.
Hera melihat kearah jalan pintu keluar
"Adik kamu mana Lio,kok belum pulang?"tanya mamanya Liona.
"Lio gak tau ma,tadi terakhir ketemu disekolah sih katanya pengen ngobrol dulu diperpustakaan dulu sama Neta" jawab Lio.
"Neta?emang adik kamu itu deket banget ya sama sahabatnya yang namanya Neta itu?"tanya Hera kepada putrinya itu.
"Kayaknya sih deket banget sih ma,soalnya Zia kayaknya kalau ada apa apa pasti bakal cerita sama Neta"jawab Liona.
"Deket banget dong berarti"ujar sang mama,Liona mengangguk mengiyakan.
"Neta murid baik baik kok ma,latar belakang keluarganya juga"ujar Liona menjawab pertanyaan sang mama.
"Baguslah"ucap Sela pelan,wanita itu merasa lega putri bungsunya itu memiliki sahabat yang baik.
Tap...tap...tap...suara langkah terdengar,dua orang gadis yang menjadi topik pembahasan ibu dan anak itu datang.
"Halo mi,hai Lio"sapa Zia kepada mami dan saudarinya.
"Halo sayang,udah pulang?"tanya Sela basa basi kepada putri bungsunya itu.
"Iya mi"saut Zia.
Kini Sela beralih kearah siswi perempuan yang berdiri disebelah putrinya itu
"Eh ini siapa?temen kamu?"tanya sang mami kepada Zia.
"Oh kenalin ini Neta mi,sahabatnya Zia"ujar Zia memperkenalkan sang sahabat kepada maminya.
"Halo tante,perkenalkan nama saya Neta.Sahabat,temen satu bangku plus sekelas sama Zia juga"ucap Neta memperkenalkan dirinya kepada mami dari sahabatnya itu,gadis itu juga sedikit membungkuk untuk memberikan hormat.
"Jadi kamu yang namanya Neta sahabatnya putri bungsu tante"ujar Sela kepada sahabatnya anak bungsu tante,Wanita itu berbicara dengan sangat ramah.
"Iya tante"jawab Neta sopan.
"Mi,ada makanan gak.Aku sama Neta laper belum makan siang?"tanya Zia kepada maminya.
"Loh kalian berdua belum makan siang?"tanya sang mami.
"Belum Mi/Tan"jawab Zia dan Neta hampir bersamaan.
"Pasti lo berdua keasikan ngobrol diperpuskan?makanya sampai lupa waktu"tebak Liona,kedua gadis yang masih menggunakan seragam lengkap itu mengangguk.
"Kalian ini,bisa bisanya belum makan siang jam segini"ujar sang mami menggeleng gelengkan kepalanya.
"Yaudah Zia,kamu ajak sahabat kamu ganti baju dulu sana.Sambil nunggu mami siapin makanan buat kalian" suruh Sela kepada putri bungsunya.
"Nak Neta pinjam pakaiannya anak tante aja ya"ujar Sela beralih berbicara kepada Neta sahabat putri bungsunya itu.
"Iya tante,maaf ngerepotin"ucap Neta yang merasa sedikit kurang enak pada maminya Zia.
"Gak ngerepotin kok,yaudah sana kalian ganti baju dulu"ujar maminya Zia.
"Oke,yuk Ta"Zia langsung menarik lengan sahabatnya itu untuk menuju kearah tangga.
Sela melihat kedua gadis yang sudah mulai menaiki anak tangga itu, setelah itu ia mulai melangkah tapi baru dua langkah panggilan dari putri ketiganya menghentikannya.
"Ma"panggil Liona kepada mamanya.
"Kenapa Lio?"saut sang mama.
"Mama mau kemana?"tanya Liona
"Mama mau kebelakang dulu,minta bibi buat siapin makanan buat adik kamu sama sahabatnya"ujar Sela menjawab pertanyaan putrinya itu.
"Lio juga mau ma"ujar Liona
"Mau apa?mau makan juga?"tanya sang mama.
"Iya,Lio tiba tiba laper hehehe" jawab Liona sambil cengengesan.
"Kalau gitu kamu nyusul ke meja makan nanti"ujar Sela kepada putrinya itu.
"Siap ma"saut Liona.
Setelah berbicara dengan putri ketiganya itu,Sela kembali melanjutkan langkahnya kembali menuju kearah dapur untuk segera menemui pelayannya disana.