One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 149



Zia menoleh kearah Raka yang asik menyetir,cowok itu menoleh kearahnya.


"Kenapa?"tanya Raka padanya.


"Lo anterin gue sampai kafe deket perumahan aja ya"ujar Zia.


"Lah kenapa?"tanya Raka heran.


"Kakak gue sama pacarnya bakal nunggu gue disana,gue pulang sama mereka"ujar Zia.


"Okelah,terserah lo mah itu"ujar Raka.


Selama diperjalanan,tidak ada lagi pembicaraan antara Ariel dan Raka kecuali yang tadi.Entahlah,kedua remaja itu sepertinya sama sama tengah sibuk memikirkan sesuatu didalam pikiran mereka.Zia yang melamun sambil menatap kearah luar kaca jendela mobil sedangkan Raka yang memfokuskan pada jalanan didepan meskipun otaknya sedang memikirkan hal lain,tak ada yang satupun yang berniat untuk mengajak berbicara.


"Kita sudah sampai"suara Raka akhirnya terdengar untuk memecahkan keheningan didalam mobil itu.


Zia tersadar dari lamunannya dan menoleh kearah Raka kemudian melihat keluar mobil,ternyata benar mereka sudah sampai.


"Apa kakak dan pacar kakak lo sudah sampai?"tanya Raka kepada Zia.


"Kelihatannya belum,gue belum melihat mobil milik pacar kakak gue soalnya"jawab Zia,setelah memperhatikan isi parkiran kafe yang tak terlalu luas itu.


"Kalau begitu ayo turun,gue bakal temenin lo sampai kakak lo datang.Gue mau sekalian beli minum didalam soalnya"ujar Raka,setelah itu cowok itu langsung bergerak keluar dari dalam mobil terlebih dahulu.


Zia tak menjawab melainkan bergerak ikut keluar dari dalam mobil itu, mengikuti Raka yang sudah berjalan masuk kedalam kafe terlebih dahulu.


Sesampai didalam kafe,dari jauh Zia bisa melihat pemuda itu sedang berdiri didepan meja kasir seperti sedang memesan sesuatu.


Zia sendiri tak terlalu menghiraukan hal itu,ia lebih memilih untuk duduk disalah satu tempat didekat jendela kafe.Tujuannya memilih duduk disana adalah supaya ia bisa mudah melihat kedatangan kak Gia dan kak Jevan, saat asik melihat keluar kaca ia merasakan sebuah pergerakan didepan tempatnya duduk.Zia menoleh kembali kearah depan dan ia sudah dapat menemukan Raka duduk disana,cowok itu menyodorkan satu cup thai tea kepadanya.


"Gue gak mesan apapun"ujar Zia melihat hal itu.


"Lo emang gak mesen,itu gue beliin buat lo.Anggap aja traktiran"ujar Raka,cowok itu dengan cuek terlihat meminum thai tea ditangan.


"Terima kasih kalau begitu,tapi seharusnya gue yang ngetraktir lo karena lo udah kasih gue tebengan tadi"ucap Zia,gadis itu menerima minuman pemberian Raka itu.


"Soal tadi gue ikhlas dan gak perlu imbalan apapun dari lo"ujar Raka.


"Tapi kalau gue dipikir pikir seingat gue setiap kita ketemu,itu pasti lo selalu dalam keadaan bantuin gue.Hutang budi gue nambah mulu sama lo"ujar Zia,ia mulai meminum thai tea dihadapannya.


"Maka dari itu,usahain dipertemuan selanjutnya lo jangan ada didalam keadaan yang bisa gue tolong.And gue gak pernah anggap lo punya hutang budi sama gue"saut Raka.


"Oke,gue usahain hal itu.Tapi gue jadi gak enak selalu nyusahin orang tanpa gue kasih balasan"jawab Zia.


"Kalau gitu,lo cukup rahasiain apa yang lo denger dari perkataan gue pas dimakam tadi.Itu udah cukup"ujar Raka kepada Zia.


"Tak masalah,lagi pula gue gak punya hak buat nyebarin hal itu ke orang lain dan gue gak sekurang kerjaan itu"ujar Zia


"Bagus kalau begitu"ucap Raka.


Keduanya kembali hening.


"Kakak gue dan pacarnya udah dateng"ujar Zia memecah keheningan yang sempat terjadi dimeja itu.


"Baguslah,minum gue juga habis"saut Raka.


"Itu adik kamu"suara kak Jevan terdengar,Zia bisa melihat pacar kakaknya itu menunjuk kearahnya.


"Kakak berdua lama sekali"ujar Zia menghampiri Gia kakaknya dan juga kak Jeva.


"Maafin kita dek,tadi kita mampir ke pom bensin dulu soalnya makanya lama"ucap kak Jevan.


"Gak masalah kak"jawab Zia.


Sedangkan Gia yang berdiri disebelah kekasihnya tak memperhatikan percakaan kedua orang itu,matanya lebih fokus pada sosok cowok yang berdiri dibelakang Zia.Tak lama kak Jevan juga ikut melihat kearah cowok itu,Zia yang awalnya bingung apa yang dilihat oleh keduanya dibelakangnya langsung menepuk jidatnya karena ingat.


Puk..Zia menepuk jidatnya sendiri saat ingat kalau ia sejak awal tidak sendiri,ia cepat cepat langsung berbalik badan dan menghadap Raka.


Raka sendiri jujur merasa sedikit risih ditatap intens oleh dua orang dewasa yang kemungkinan besar adalah kakak sekaligus kekasih kakaknya Zia itu,ia memilih melihat kearah Zia yang menghadapnya.


"Mereka bedua kakak sama pacarnya kakak lo yang lo tungguin sejak tadi?"tanya pemuda itu kepada Zia untuk memastikan.


"Iya"jawab Zia sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Baguslah kalau itu mereka,kalau begitu gue balik dulu"ujar Raka ke Zia.


"Oke,makasih buat hari ini"ucap Zia sambil tersenyum kepada Raka.


"Gue udah bilang gak usah makasih,gue pulang dulu"ujar Raka, setelah itu pemuda itu langsung pergi dari sana menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.Namun sebelum itu ia sempatkan untuk membungkuk sebentar kearah kakaknya Zia dan laki laki disebelah kakaknya Zia itu,guna menyapa keduanya.


Setelah Raka pergi dari sana,Zia langsung berbalik kembali kearah kak Gia dan kak Jevan.


"Ayo pulang kak"ajak remaja perempuan itu,ia langsung berjalan duluan kearah mobil kak Jevan dan langsung masuk kedalam.


Jevan dan Gia langsung mengikuti remaja perempuan itu,meski dalam benak masing masing sedang menyimpan pertanyaan pertanyaan tentang siapa pemuda tadi yang bersama Zia.


Ketiganya saat ini sudah berada didalam mobil milik kak Jevan yang sedang melaju untuk mengantar mereka pulang,sama seperti tadi pagi Zia duduk sendirian dibelakang sedangkan kak Gia dan kak Jevan duduk berdua didepannya.


"Dek,siapa pemuda yang bareng kamu tadi?pacar atau apa?"tanya Jevan melirik kearah Zia melalui melalui kaca spion depan.


"Hanya teman"jawab Zia acuh,gadis itu lebih tertarik melihat keluar kaca jendela dari pada kearah depan dimana orang yang mengajaknya bicara.


"Ada juga cowok yang mau temenan sama lo,gue kira gak ada"ujar kak Gia.


"Banyak cowok yang mau deket sama gue,guenya aja yang gak mau"saut Zia acuh.


"Dia anak keluarga mana?anak baik baik gak?"tanya kak Gia lagi.


Zia menoleh kedepan setelah mendengar pertanyaan kedua yang diajukan kakaknya itu,ia bisa melihat kakaknya itu sedang melihat kearahnya melalui kaca spion depan.


"Tak peduli dia anak baik baik atau bukan,kenapa kakak pengen tau?itukan bukan urusan kakak dan kenapa kakak peduli akan hal itu"bukannya menjawab,Zia malah bertanya balik kepada saudari tertuanya itu.


"Emang bukan urusan gue dan gue juga gak peduli siapa cowok itu,gue cuma peringatin sama lo buat bergaul sama orang yang jelas bukan berandal. Jangan sampai anak parasit kayak lo bikin nama keluarga Antara tercemar"ujar kak Gia sedikit sarkas.


"Sayang,bahasa kamu"tegur kak Jevan.


"Tenang aja soal itu"saut zia lagi lagi dengan acuh,ia kembali menatap kearah luar kaca jendela mobil.