One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 244



Bik muti kini baru kembali dari berbelanja persediaan kebutuhan dapur serta keperluan lain untuk semua penghuni kediaman majikannya ini,wanita tua paruh baya itu nampak memasuki area dapur yang biasa menjadi tempatnya bergelut hari hari selama puluhan tahun bekerja.


Meskipun tentu masih ada pelayan lain selain dirinya dikediaman Antara itu,namun sampai kini bik Muti adalah yang paling dipercaya turun tangan dalam urusan dapur.


Sedangkan pelayan lain yang tentunya usianya lebih muda darinya hanya sekedar membantu bantu saja didapur dan akan lebih fokus melakukan pekerjaan rumah tangga lain seperti membersihkan keseluruhan bangunan megah kediaman keluarga Antara itu.


Namun ada hal yang berbeda saat wanita tua itu memasuki area dapur,


pelayan paling senior dikeluarga Antara itu menemukan salah satu anak perempuan majikannya tengah duduk disalah satu bangku didekat meja dapur.Itu adalah anak ketiga dari majikannya yaitu nona Lyn Antara, gadis yang berstatus sebagai mahasiswa itu bik Muti lihat tengah termenung memikirkan sesuatu.


Bik Muti awalnya memilih untuk diam saja membiarkan anak tuan dan nyonya -nya itu duduk disana,sedangkan bik Muti melanjutkan pekerjaannya untuk memasukkan sayuran serta buah buahan segar yang baru dibeli kedalam kulkas disana.Jika kalian tanya apakah Lyn sendiri sadar akan kehadiran pelayan senior dikediaman keluarganya itu atau tidak?jawabannya gadis itu sadar kok, malahan kini Lyn memperhatikan bagaimana uletnya bik Muti memasukkan dan menyusun sayuran serta buah buahan segar itu kedalam kulkas dengan sangat rapi.


Bik Muti melirik dengan sudut matanya kearah sang nona,kini mata anak majikannya itu terfokus pada pekerjaannya namun bisa jelas terlihat kalau pikiran gadis itu tidak begitu.Bik Muti terus melanjutkan pekerjaannya sampai akhirnya selesai,wanita tua itu mencuci tangan setelahnya lalu dengan perlahan mulai melangkah menghampiri meja dapur tempat putri majikannya itu duduk dibangku dekat meja itu.


"Bik"tanpa diduga ternyata Lyn-lah yang pertama bersuara menyapa bik Muti.


"Boleh saya duduk non?"tanya bik Muti tentu dengan kalimat hormat dan sopan,Lyn mengangguk singkat tanda mengizinkan bik Muti duduk pada bangku disebelahnya.


"Sudah selesai bik?"tanya Lyn


"Sudah non"jawab Bik Muti yang langsung paham kalau nona majikannya itu tengah bertanya tentang kegiatannya tadi dengan sayuran dan buah buahan.


"Ada apa non,bibik perhatikan sedari tadi nampaknya non Lyn sedang banyak pikiran?"tanya bik Muti bertanya dengan lembut kepada sang anak majikan.


Lyn tak langsung menjawab,ia melirik kesekitar seolah memastikan tidak ada yang memperhatikan atau mengawasi dirinya dengan bik Muti saat ini.


"Semuanya belum pulang non,dan para pelayan lain juga sedang sibuk pada pekerjaan masing masing"ujar bik Muti yang paham dengan pergerakan nonanya ini.


Lyn nampak menghela nafas lega mendengar perkataan bik Muti tersebut


"Akhir akhir ini,Lyn selalu merasa gelisah bik"Lyn mulai bersuara menceritakan keluh kesahnya kepada pelayan senior dikeluarganya ini.


"Gelisah karena apa non,kalau bokeh tahu?"tanya bik Muti


"Entahlah bik,tapi tak jauh dari adik bungsuku""jawab Lyn.


"Nona Zia?"bik Muti.


"Iya bik,Zia.Keluarga ini terlalu tenang bagiku akhir akhir ini"Lyn


"Bukannya itu petanda bagus non,kenapa non Lyn harus gelisah?"


"Iya bik petanda bagus tapi bukan tenang seperti ini,lihatlah Zia yang hampir tak pernah terlihat berselesih dengan saudari tertuaku,


Liona dan Zia yang semakin akrab.


Tapi entah kenapa bukannya merasa tenang tapi Lyn malah merasakan sebuah bom waktu bik"ujar Lyn kepada bik Muti,gadis yang terkenal dengan sifat dinginnya itu terdengar tak segan mengungkapkan segala kegelisahaannya kepada bik Muti.


Bik Muti terdiam sejenak menatap wajah nona nya ini,wanita tua itu tentu melihat jelas kekhatiran dan rasa was was yang dirasakan oleh sang anak majikan melalui raut wajahnya.Wanita tua itu berfikir sejenak kemudian mulai bicara


"Nona tenang saja,bisa jadi itu kekhawatiran nona belaka"ujarnya mencoba menenangkan sang anak majikan.


"Tapi bik..."perkataan Lyn terhenti seolah tertahan.


"Saya paham kekhawatiran nona yang besar tentang keluarga ini,namun itu bisa saja terjadi karena nona menyimpan cerita masa lalu itu sendirian.Cerita itu nona satu satunya yang tahu diantara saudara seibu nona yang lain"ujar bik Muti.


Lyn menatap pelayan senior dikeluarganya ini,entah bagaimana tapi bik Muti memang selalu bisa  memahami isi pikiran dan hatinya.Hal yang bahkan keluarganya sendiri sangat sulit lakukan hingga kini,Lyn jadi bersyukur bik Muti masih setia bekerja dikeluarganya meski dengan usia yang semakin senja.Huh....Lyn menghela nafas nafas lagi


"Lyn sendiri heran dengan jalan pikiran papa maupun mama bik, terkhususnya sekali papa.Sampai kapan mereka menyimpan rapat rapat cerita itu dari adik dan kedua kakakku,padahal mereka tahu apa yang hampir menjadi sumber masalah dikeluarga ini"ujar Lyn.


"Mungkin tuan dan nyonya belum siap non,pasti ada waktunya nanti"bik Muti.


Lyn mendengus sebal mendengar perkataan bik Muti,belum siap apanya


"Kalau kedua orang tuaku itu terus diam saja,sampai kapanpun Lyn gak yakin mereka akan siap.Oke Lyn tau kalau menceritakan kisah itu seutuhnya sama dengan mengungkap aib dari kesalahan besar masa lalu mereka,tapi sampai kapan mereka membiarkan adik bungsuku selalu tersudut?bukankah itu sangat egois?"


Lyn benar benar tak menahan diri sedikitpun,isi pikirannya saat ini ia keluar seluruhnya kepada bik Muti.


"Bibik tau non,bibik juga sama seperti non Lyn yang selalu mengkhatirkan nona muda.Tapi bibik yakin nanti pasti ada waktu dimana tuan dan nyonya mau bercerita atau mungkin,kenapa tidak non saja yang mencoba menceritakannya?"ujar bik Muti.


Mendengar pertanyaan pada akhir perkataan bik Muti itu membuat Lyn lagi lagi mendengus sebal dan mengepalkan tangannya.


"Bagaimana Lyn bisa menceritakan semuanya bik,mami Celine memintaku untuk menyimpan cerita itu sendiri sebisa mungkin.Lagi pula jika mami Celine tak menyuruhku begitupun, sudah seharusnya kedua orang tua kandungku itu sadar apa yang seharusnya mereka lakukan.Bukan hanya diam saja seperti orang bodoh,


disaat sadar salah satu anak mereka sering tersudutkan oleh anak mereka yang lain"ujar Lyn sarat akan emosi dari setiap kata yang terucap melalui mulutnya.


Bik Muti kini memilih diam saja dan tidak berkata apa apa lagi,bertahun tahun ditugaskan khusus untuk mengasuh nona majikannya yang satu ini dahulu saat sang nyonya sibuk mengasuh adik dan kedua kakak kembar dari gadis didepannya ini membuat bik Muti sangat paham kepada Lyn.


Bik Muti paham sekali jika nonanya yang satu ini sudah berbicara panjang lebar seperti ini hanya ada dua hal,pertama gadis itu ssangat sangat tertarik sekaligus senang akan topik pembicaraan atau yang kedua dan paling buruk adalah jika nona-nya ini tengah merasa sangat sangat kesal dan kesulitan mengontrol emosi pada dirinya.Dan harus kita semua pahami pula kalau kedua alasan ini sangat sangat jarang terjadi,itulah kenapa Lyn hampir selalu tampil dengan wajah datar nan dingin.