One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 231



Glup...glup...glup...Zia meminum isi minuman kaleng itu sampai setengahnya,ia sudah menahan haus sejak tadi.


"Kakak mau minum gak?"tanya Zia lada kakaknya setelah ia selesai menuntaskan rasa hausnya.


"Hm"


Mendengar deheman dari kakaknya itu,


Zia segera mengambil satu minuman kaleng bersoda lagi untuk Gia kakaknya.Minuman itu diterima oleh sang kakak dan segera dibuka dan diminum sedikit,kemudian terlihat minuman kaleng itu diletakkan diatas meja didepan sofa.


"Gue kira maniak kesehatan kayak lo gak bakal mau minum,minuman kaleng apalagi yang bersoda kayak gitu"ujar kak Gia pada Zia.


"Pasti Lio nih yang kasih tahu istilah maniak kesehatan itu sama kakak,padahal gue cuma menjaga diri untuk tetap hidup lebih lama aja"ujar Zia.


"Dan lagi gue masih minum,minuman kayak gini kok meski cuma sesekali.


Gue juga pengen menikmati hidup sesekali"lanjut gadis itu,Zia membuang kaleng minumannya yang telah kosong kedalam tong sampah disana kemudian mulai mengotak atik tumpukan map diatas meja kerjanya seperti sedang mencari sesuatu.


Sedangkan kak Gia sendiri hanya menyergitkan kening tak begitu paham perkataan gadis yang lebih muda darinya itu,namun ia memilih tak memusingkan hal itu.


"Ah ini dia"Zia berujar setelah menemukan sebuah map yang dicarinya sejak tadi dalam tumpukan map dimeja kerjanya,gadis remaja itu segera berjalan mendekat kearah sofa dimana kakaknya berada sambil membawa map itu ditangannya.


"Ini,kakak ambil"ujar Zia sambil menyodorkan map itu kepada kak Gia,


meski bingung namun kakaknya itu tetap meraihnya.


"Ini map apa?trus apa isinya"tanya kak Gia pada adik tak dianggapnya itu.


"Itu map yang isinya semacam sebuah jenis proposal kerja sama,itu dikirim salah satu kakak kelas sekolah gue waktu di US dulu.Dia awalnya mau ngajak gue kerja sama tapi gua bilang gak bisa karena proyek perusahaannya yang dia ajuin kerja samanya keperusahaan gue itu agak sedikit berbeda dari sektor yang perusahaan gue handle,jadi gue gak bisa terima permintaan kerja samanya meskipun kalau proyek itu sukses keuntungan- nya lumayan"Zia menjelaskan tentang isi map yang baru dirinya berikan kepada sang kakak.


"Proyek ini memang agak berbeda dari sektor yang perusahaan gue bisa hendle,tapi proyek ini cocok banget buat perusahaan keluarga alias perusahaannya papa.Meski gue udah nolak kerja sama itu tapi mantan kakak kelas gue itu minta tolong sama gue buat cariin perusahaan diIndo yang pas dan cocok buat ngerjain proyek dari perusahaan keluarganya itu,makanya gue ngajuin berencana ngajuin nama perusahaannya papa"jawab Zia panjang lebar.


"Maksud lo gue bisa ngajuin diri buat jadi orang yang menghandel proyek yang lo bilang tadi?"tanya kak Gia,Zia pun mengangguk.


"Kalau kakak setuju,gue bisa langsung hubungin mantan kakak kelas gue itu.Tugas kakak tinggal nyusun berkas materi presentasi supaya kakak bisa kepilih dan ya kalau sampai kerjasama ini deal,kakak juga harus berusaha sekuat tenaga supaya proyek ini berhasil.Dalam proyek ini,bukan cuma nama baik perusahaan papa aja yang dipertaruhkan tapi gue juga"ujar Zia pada kakaknya.


"Oke gue setuju,gue bakal langsung bicarain ini dulu sama papa"ujar kak Gia langsung beranjak dari sofa.


"Lah kakak langsung pergi sekarang?


gak jadi belajar kayak yang kakak bilang tadi pagi?"tanya Zia heran saat melihatnya berkemas hendak pergi.


"Lain kali aja,ini lebih penting.


Nanti kalau proyek ini deal,disaat itu lo bisa ngajarin gue.Gua harus ketemu papa secepatnya sekarang"ujar sang kakak tanpak sangat bersemangat dan penuh ambisi.


"Dih,ambisi lo ngeluap luap banget kak.Gak sabar ya ditunjuk jadi penggantinya papa?"ujar Zia sedikit meledek.


"Iyalah,gue bakal buktiin kalau gue bisa dimata papa"saut kak Gia.


"Udah gue pergi dulu,bai"setelah itu kakaknya Zia itu langsung mepenggang pergi meninggalkan ruangan Zia.


Meninggalkan Zia sendiri didalam ruangannya dengan sebuah pemikiran yang mengganggu dikepalanya, sejujurnya Zia merasa bersalah pada Arga kakaknya karena dirinya sekarang banyak membantu Gia kakaknya.Hal ini membuatnya secara otomatis berpihak pada kak Gia untuk menang dalam persaingan memperebutkan hak pewaris utama Antara.Tapi apa boleh buat,Zia kali ini ingin egois untuk tujuannya sendiri karena sudah cukup ia terus mengalah akan banyak hal.


*Semoga gue gak salah langkah*Zia membatin penuh harap.


Gadis remaja itupun menuju ke meja kerjanya dan duduk disana,tak lama Zia sudah terlihat sibuk dan fokus pada pekerjaannya yang bisa dibilang sedang menumpuk cukup banyak.