
~Flaskback on~
Zia saat ini sedang duduk diruangan milik dokter yang menanganinya,ia baru saja menyelesaikan berbagai tahap pemeriksaan rutin yang ia lalui tiap minggu ini.Kini gadis itu tengah menunggu kedatangan dokternya yaitu dokter Linda untuk mengetahui hasil pemeriksaannya kali ini,Zia melihat sekeliling ruangan yang tampak sunyi itu karena dia memang hanya dia saja yang ada diruangan itu.Sedangkan dokter pemilik ruangan itu belum datang,tik tak tik tak suara pergerakan jarum jam dinding bahkan terdengar nyaring memasuki indra pendengaran Zia saking sunyinya ruangan itu saat ini.
Kriet...Zia menoleh kebelakang mendengar suara pintu yang dibuka
"Maaf menunggu lama Zia,hasilnya baru saja keluar"ujar dokter Linda memasuki ruangan itu sambil membawa sebuah amplop coklat ditangannya,Zia bisa langsung menebak kalau itu adalah hasil pemeriksaan dirinya.
"Tidak masalah dokter"saut Zia.
Dokter Linda berjalan mendekat dan duduk dikursi kerjanya yang tepat dihadapan Zia,keduanya duduk berhadapan dengan meja kerja sebagai pembatasnya.Wanita yang tengah memakai jas putih sebagai salah satu atribut wajib dan kebesaran seorang dokter itu terlihat mulai membuka amplop coklat yang dibawa tadi dan membaca isinya,dokter itu terlihat menghela nafas beberapa kali saat membaca apa yang tertera didalam kertas putih itu.Setelah selesai membaca semua yang tertera pada kertas itu,dokter Linda melepas kaca matanya dan meletakkannya diatas meja kemudian beralih menatap Zia yang sejak tadi menunggu.
Semua kegiatan dokter itu tak luput dari penglihatan Zia.
"Hasilnya pasti tak baguskan dokter?"tanya Zia kepada dokter Linda,senyuman tak pernah lepas dari bibir gadis remaja itu.
"Bukan begitu Zia,hanya..."baru saja mulai dokter Linda menjelaskan namun Zia sudah bicara memotong perkataan dokternya itu.
"Dokter tidak usah menjelaskan,aku bisa langsung memahami hasil pemeriksaanku itu saat melihat raut wajah dokter saat membaca kertas itu"ujar Zia.
"Seperti biasa amplop itu biar saya saja yang membacanya dokter nanti kalau aku sedang sendiri,dokter tak perlu repot repot menjelaskannya" pinta Zia.
"Baiklah ini,jangan baca sendirian. Pinta Neta untuk menemanimu"ujar dokter Linda,wanita berjas putih itu langsung memberikan hasil pemeriksaan itu kepada Zia.Ia sudah sangat paham kebiasaan dari pasien mudanya itu.
"Zia,hasil pemeriksaan kali ini memang tak seperti yang kita harapkan.Tapi pemeriksaan berikutnya pasti akan lebih baik"ujar dokter Linda.
Zia hanya tersenyum mendengar perkataan dokternya itu
"Tentu ku harap juga begitu dokter,
meskipun kita semua sama sama tahu kalau itu hampir tidak mungkin terjadi bukan?"ujar gadis itu.
"Zia,bukankah sudah sering bunda katakan kepadamu.Kalau harapan pasti selalu ada jika akhirnya belum terjadi,meski sedikit tapi kita tentu tak boleh putus asa"ujar dokter Linda kepada pasien mudanya itu.
Zia menoleh kesamping,melihat kearah jendela ruangan,meski tertutup namun jendela itu tempat dimana terlihat cahaya dari matahari memasuki lapangan itu.
"Bunda benar akan hal itu,tapi bukankah akhirku sudah mulai terlihat jelas.Zia tak masalah akan hal itu dan tentu bukan karena aku sudah merasa putus asa bunda,belum" ujar remaja berseragam SMA itu.
Dokter Linda memperhatikan pasien muda yang duduk dihadapannya itu, gadis itu hampir selalu menampilkan senyuman dibibir namun ia tahu itu semua dilakukan gadis itu untuk menyembunyikan sebuah kesedihan dan keputus asaan besar didalamnya.
"Ngomong-ngomong Zia datang sendiri kesini?"tanyanya kepada sang pasien.
"Ya"jawab Zia kembali menoleh kearah dokternya kembali.
"Kenapa datang sendiri?Bunda perhatikan biasanya Neta sahabat kamu selalu nemenin"tanya dokter Linda.
"Hari ini aku tak memperbolehkan Neta untuk menemaniku dokter"jawab Zia.
"Loh kenapa?kalian berdua tidak bertengkar bukan?"tanya dokter Linda menatap Zia penuh selidik.
"Mana ada kami bertengkar bunda,aku tak memperbolehkan Neta untuk ikut karena orang tuanya baru pulang dan sedang cuti untuk dua hari kedepan.
Zia tak mau mengganggu waktu kebersamaan Neta dengan orang tuanya,ya meskipun Neta bilang tidak merasa keberatan sedikitpun.
Tapi aku sendiri tak mau karena tau jelas bagaimana Neta selalu menantikan saat dimana ia bisa menghabiskan waktu dengan mereka,itu adalah waktu berharga yang tak boleh Neta lewatkan sedikitpun"jelas Zia.
"Kamu sahabat yang baik untuk Neta,Zia"ujar dokter Linda memuji.
"Neta juga sahabat yang baik untukku bunda,buktinya tadi ia masih kekeh untuk mengantarku kesini sebelum dia pulang"ujar Zia.
Ternyata pulang sekolah langsung datang kesini toh"ujar dokter Linda.
"Hmm,kalau harus pulang dulu itu akan membuang banyak waktu"saut Zia.
"Btw bunda,aku dengar dari kak Teo kalau suami bunda itu pemilik rumah sakit ini ya?"tanya Zia.
"Itu benar"jawab dokter Linda.
"Suami bunda gak ada niatan buat bikin cabang rumah sakit baru gitu?" Tanya Zia
"Kenapa kamu nanya gitu?"dokter Linda bertanya balik,wanita itu heran akan pertanyaan pasien muda itu.
"Jadi gini bunda"ujar Zia,gadis itu memajukan kursi tempat duduknya kedepan supaya lebih mudah bercerita kepada dokter Linda.
"Aku kan pernah bilang kalau kakak ketigaku itu sekarang lagi kuliah kedokteran alis calon dokter,nah bulan ini itu kebetulan kakak ketigaku itu ulang tahu.Zia pengen ngasih hadiah spesial sebagai hadiah ulang tahunnya kak Lyn"jelas Zia.
"Jangan bilang kamu nanya kayak gitu,karena mau kerja sama bangun rumah sakit baru dan nanti bakal dikasih buat kakak ketiga kamu itu sebagai hadiah ulang tahunnya"tebak dokter Linda asal.
Prok...prok...prok...Zia langsung bertepuk tangan
"Ih kok bunda bisa tau sih?"tanya gadis riang.
"Hah!bener?yang bener aja kamu mau kasih hadiah ulang tahun kayak gitu"ujar dokter Linda kaget karena tebakannya benar.
"Beneranlah bunda,makanya bunda tolong tanyain dong sama suami bunda.Ada rencana mau bikin cabang baru atau rumah sakit batu enggak?kalau gak ada tolong bujukin dong biar ada,Zia pengen ngasih hadiah itu soalnya"ujar Zia mulai membujuk dokter yang menanganinya itu.
"Bunda mau mau aja sih bantuin kamu, tapi yang bener aja kamu mau kasih rumah sakit buat kakak kamu.Itu bukan uang yang sedikit loh"ujar dokter Linda kepada Zia.
"Masalah uang mah bukan masalah, bunda lupa Zia siapa?aku itu bos sekaligus pemilik salah satu perusahaan besar perusahaan F'Company"ujar Zia.
"Iya bunda tau mah kalau soal itu"ujar dokter Linda.
"Kalau bunda tau,mau ya bantuin Zia.
Bunda bilang aja sama suami bunda kalau pasien muda bunda ini siap menanam saham sebesar apapun itu,Ya ya ya"bujuk Zia lagi.
"Iya iya,nanti bunda tanyain ke suami bunda deh"ujar dokter Linda akhirnya setuju untuk membantu gadis itu.
"Makasih bunda"ucap Zia terlibat sangat senang akan hal itu.
"Sama sama"saut dokter Linda.
"Kalau begitu Zia pamit dulu ya bunda,mau pulang nih"pamit Zia beranjak berdiri.
"Ya sudah sana.Hati hati dijalan, jaga kesehatan,jangan makan atau minum yang aneh,jangan..."
"Jangan terlalu capek,jangan terlalu banyak pikiran,dan jangan lupa minum obat.Bunda tenang saja,Zia masih ingat semua itu kok"ujar Zia lagi lagi memotong perkataan dokternya itu.
"Bai bunda"pamit Zia sekali lagi, sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu.
"Anak itu"gumam dokter Linda menggelengkan kepalanya pelan.
"Untung hasil pemeriksaan tadi ada salinan untuk dokter"gumamnya lagi pelan,ia masih ingin melihat hasil pemeriksaan pasien mudanya itu soalnya.
~Flasback off~