One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 155



"Akhirnya lo datang juga dek"ujar Liona melihat kedatangan Zia.


"Pesawat yang papa dan mami udah sampai?"tanya Zia kepada para kakaknya itu.


"Udah kok dek,palingan sebentar lagi papa dan mama datang kesini"jawab kak Arga.


"Sini,kamu duduk dulu disebelah kakak kamu Lyn"pinta kak Arga.


"Oke"saut Zia,gadis itupun tanpa ragu langsung duduk disebelah Lyn kakaknya.


Lyn yang tadinya sibuk sendiri dengan ponselnya,melirik dengan ujung matanya kesampingnya dimana Zia saudarinya duduk disana.


Gadis itu terlihat tersenyum manis kearahnya seakan sadar kalau Lyn melirik gadis itu,sudut bibir Lyn sedikit terangkat melihat senyuman manis adiknya itu.Ia kemudian kembali fokus pada ponselnya setelah adiknya itu sudah tak tersenyum kearahnya dan tampak mulai terfokus pada ponsel sama seperti dirinya,Lyn dan Zia terlihat tak berniat terlibat dengan obrolan dari ketiga saudara dan saudari mereka yang lain.


"Papa!Mama"suara Liona terdengar nyaring membuat Zia dan Lyn yang sejak tadi fokus pada ponsel mereka masing masing langsung mendongakkan kepala mereka.


"Halo anak anak papa"suara berat penuh wibawa dari tuan Renal Antara menyapa kelima anak anaknya.


"Halo sayang"suara lembut dari ibu dari lima anak juga terdengar.


"Mama,Lio kangen"ujar Liona langsung masuk kedalam pelukan sang papa dan sang mama,disusul oleh Arga dan Gia.


"Papa sama mama juga kangen sama kalian"ucap Renal balas memeluk anak anaknya itu bersama sang istri.


Lyn dan Zia sendiri?kedua gadis itu memilih untuk tidak bergabung dalam sesi pelukan bersama itu dan hanya berdiri tak jauh dari posisi keluarga mereka yang tengah berpelukan itu.


Renal yang tengah memeluk ketiga anaknya itu melihat kedepan,ia menemukan kedua anak anaknya yang lain yang berdiri tak jauh berbeda dari tempatnya.Laki laki dewasa itu melepas pelukannya disusul dengan sang istri,kemudian menatap kedua putrinya itu.


"Lyn dan Zia gak mau meluk papa sama mama gitu?"tanya Renal kepada kedua putrinya itu.


"Nah iya,ayo sini mama pengen meluk kalian juga.Masa cuma Arga,Gia,sama Lio aja yang mama peluk"ujar Sela ikut bicara.


Liona memutar bola matanya malas melihat respon lambat kakak dan adiknya itu,ia melangkah dan langsung menarik lengan kedua saudarinya itu sampai didepan kedua orang tua mereka.


"Ayo peluk adik dan kakakku,jangan anti skinship untuk saat ini"ujar Liona kepada kak Lyn dan Zia.


Renal dan Sela pun langsung membawa kedua anak gadis mereka itu kedalam pelukan mereka,tubuh Lyn dan Zia seketika menegang dan sedikit tersentak saat kedua orang tua mereka memeluk keduanya dengan sangat erat.


Arga,Gia,dan Liona terlihat sedikit merasa lucu dengan persamaan respon kedua saudari mereka itu.Jika dilihat keduanya terlihat sangat canggung berpelukan dengan orang tua sendiri,tapi jika dilihat dari posisi keempatnya itu tidak bisa dikatakan sebagai pelukan.


Hal ini karena hanya kedua orang tua merekalah yang dalam posisi memeluk, sedangkan kedua saudari mereka itu terlihat tidak ada yang mengangkat tangan untuk membalas memeluk kedua orang tua mereka.


"Pa,mi,kalian tidak ada niatan buat ngelepasin pelukannya?"tanya Zia yang masih didalam pelukan kedua orang tuanya itu.


Renal dan Sela langsung melepaskan pelukan mereka mendengar perkataan putri bungsu mereka itu,sepertinya putri mereka itu mulai merasa tak nyaman pikir keduanya.


"Zia gak suka ya kalau papa dan mama peluk?"tanya Sela dengan nada sedih.


"Bukan begitu"bantah Zia menggelengkan kepalanya takut kedua orang tuanya salah paham.


"Lalu kenapa tadi pelukan papa sama mama gak kamu balas,Lyn juga kenapa?"tanya Renal,raut wajah laki laki itu ikut terlihat sedih.


"Bukan gak suka Lio,cuman rasanya aneh aja gitu"jawab Zia.


"Aneh gimana dek?"tanya Arga


"Ya aneh aja,gak biasa mungkin"jawab Zia yang sebenarnya tidak begitu tau dengan jawabannya sendiri.


"Benar"ujar Lyn datar menyetujui perkataan adiknya itu,ia juga merasakan hal yang sama dengan Zia ketika dipeluk oleh kedua orang tuanya itu.


"Kalian berdua ini"ujar sang papa menggelengkan kepala pelan.


"Kalau begitu ayo kita pulang"ajak sang mama.


"Sebelum pulang kita semua mampir makan siang dulu gimana Ma Pa, seingat Gia didekat sini ada restoran"ujar Gia memberi saran.


"Nah,Lio setuju sama idenya kakak. Lio juga laper nih,belum makan siang"ujar Liona menyetujui saran Liona kakaknya itu.


"Kalau begitu ayo,papa sama mama juga lapar"ujar Renal diangguki sang istri.


"Kalau begitu mama sama papa ikut mobil Arga aja,Gia sama Liona,dan Lyn?"ujar Arga.


"Zia kamu bawa mobil dek?kalau bawa kakak kamu Lyn ikut mobil kamu ya?"tanya Arga kepada adik bungsunya itu.


Zia langsung menganggukkan kepalanya kemudian berkata


"Hm gak papa"ujar Zia setuju.


Setelah pembagian kendaraan selesai, keluarga itu memutuskan untuk keluar dari ruang tunggu sedangkan semua koper bawaan Tuan Renal dan Nyonya Sela dibawa oleh semua penjaga.


Sebenarnya awalnya kondisi setelah keluarga itu keluar dari ruang tunggu nampak kondusif kondusif saja,namun semakin mendekati kepintu keluar.Keberadaan salah satu keluarga berpengaruh dinegara ini itu mulai ternotis oleh pengunjung bandara yang lain dan beberapa diantara mereka terlihat mulai mengeluarkan ponsel mereka lalu mulai memotret keluarga itu,dan yang paling sialnya lagi entah dari mana beberapa orang yang tampak dari kalangan wartawan mulai bergerak mendekat.Namun beruntung jumlah penjaga keluarga Antara yang ada disana dan bantuan beberapa petugas keamanan bandara mampu membuat langkah orang orang itu terhenti,dan akhirnya hanya bisa membuat mereka mengambil gambar dari jarak jauh saja.


Cekrek...Cekrek...Cekrek...suara dan cahaya flas kamera mulai terdengar nyaring ditelinga Zia.


"Bukankah itu keluarga Antara ya"


"Untuk apa keluarga berpengaruh itu ada dibandara ini?"


"Mungkin untuk menjemput salah satu keluarga mereka"


"Anggota keluarga itu berapa sih?"


"Tujuh,eh lah iya kok itu ada delapan?"


"Eh mereka masih punya anak bungsu"


"Oh iya,anak dari istri keduanya tuan Renal gak sih"


DEG..detak jantung Zia mulai tak beraturan saat mendengar celetukan celetukan samar pengunjung bandara yang mulai ngeh akan keberadaannya diantara keduanya dan juga mulai membahas tentang istri kedua ayahnya yang merupakan mamanya,gadis itu tanpa sadar mencengkram erat baju Lyn kakaknya dan mulai menundukkan kepalanya.


Lyn sedikit tersentak saat seseorang disebelahnya mencengkram bajunya, namun sepersekian detik kemudian ia tahu itu ulah adik bungsunya.Gadis dingin itu juga peka kalau adiknya itu mulai merasa tak nyaman dengan siatuasi yang semakin tak kondusif ini.