One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 42



"Tahan emosi lo Zia,inget kondisi lo sekarang.Jangan sampai lo kena darah tinggi"ujar Neta meminta Zia mengendalikan emosi dan mengingatkan akan kondisi sahabatnya yang masih belum stabil.


"Jangan sampai dong,udah cukup gue repot sering bolak balik rumah sakit karena penyakit gue.Jangan nambah lagi penyebabnya"saut Zia


"Tapi gue harus gimana sekarang?" tanya Zia ke Neta.


"Menurut gue sih kita liatin dulu sejauh mana itu cowok bertindak deketin lo,kalau keliatannya udah makin makin baru kita bikin rencana buat bikin dia berhenti.Tenang aja ntar gue bakal bantuin lo kok Zi"ujar Neta memberi pendapat kepada sang sahabat.


"Oke deh,gue bakal ikutin saran lo.Tapi gue harap cowok itu cuma main main aja gak serius buat deketin gue,gue risih sekaligus takut tau gak kalau sampai harus berselisih paham sama Lio cuma karena cowok"ujar Zia.


"Eh ngomong ngomong nih Zi,gimana keadaan lo dirumah sakit?ada yang nemenin gak?"tanya Neta mengubah topik pembicaraan mereka.


"Keadaan gue baik baik aja sih cuma gue bosen gak ada temen"jawab Zia


"Yaudah ntar kalau udah pulang sekolah,gue kesana deh buat nemenin lo"ujar Neta setelah mendengar jawaban temannya itu.


"Gak usah deh"saut Zia


"Lah kenapa?bukannya lo bosen gak ada temen disana?"tanya Neta heran kenapa Zia menolak saat ia hendak datang kesana.


"Soalnya gue nanti siang udah dibolehin pulang sama dokter,jadi pas lo datang kesini nanti pasti gue udah gak ada disini"jelas Zia memberi tahu alasananya kepada Neta.


"Lo pulang sendiri?"tanya Neta.


"Enggak kok,gue gak pulang sendiri tapi dianter sama kak Teo"jawab Zia.


"Bagus deh kalau gitu"ucap Neta.


"Eh Zi,VCannya udah dulu ya?bel waktu istirahat berakhir udah bunyi nih,gue mesti balik ke kelas"ujar Neta kepada Zia.


"Oke deh,sampai jumpa besok disekolah"ucap Zia menutup pembicaraan mereka.


"Oke,sampai jumpa besok juga"balas Neta,setelah itu panggilan Vidio keduanya berakhir.


Zia kembali meletakkan ponselnya diatas meja kecil disamping bangsalnya,setelah itu ia langsung berbaring kembali


"Hua gue bosen"keluhnya


"Teo bangsul mana sih,lama banget jemput gue pulang.Gak tau apa gue bosen pengen pulang"dumelnya.


"Ngomong soal si Teo Teo itu,YAAMPUN KAK ANNA!"hebohnya sendiri,mengingat kalau ia belum pernah menghubungi pacar dari Teo sekaligus kakak angkatnya yaitu Anna yang berada diAS,Zia kembali merubah posisinya menjadi duduk lagi menatap hpnya yang berada diatas meja.


"Wah pasti itu orang udah berubah jadi nenek lampir sekarang karena gak pernah gue hubungin,gue telpon atau enggak ya?"Zia mempertimbangkan untuk menghubungi Anna atau tidak,ia berniat meraih hpnya kembali diatas meja tapi akhirnya dia membatalkan niatnya.


"Ah gak usah deh,lagi males kena omel gue"ujarnya.


Kemudian ia kembali berbaring saja menatap langit langit kamar rawatnya yang serba putih,matanya perlahan memberat dan menutup.Zia tiba tiba merasa sangat mengantuk dan akhirnya lelap tertidur.


~skip~


Hari sudah siang dan itu artinya sudah waktunya Zia pulang dari ru.ah sakit,Teo yang akan menjemputnyapun sudah datang membawa baju yang akan dia guanakan untuk pulang menggantikan pakaian pasien rumah sakit yang ia kenakan sebelumnya.


"Udah selesai lo ganti bajunya?" tanya Teo selepas Zia keluar dari kamar mandi yang ada didalam ruang rawatnya.


"Udah"jawab Zia


"Sebelum balik,kita ketemu dokter dulu"ujar Teo.


"Buat apa lagi ketemu dokter,kan gue udah diperiksa tadi trus udah boleh pulang juga?"tanya Zia kepada Teo.


"Kita mau ketemu dokter yang bakal jadi dokter pribadi lo,nanti pas setiap lo kerumah sakit ini dokter itu yang bakal nanganin lo"terang Teo membuat Zia mengangguk mengerti.


Zia mengikuti Teo yang membawanya masuk kesebuah ruangan salah seorang dokter yang bekerja dirumah sakit tempatnya dirawat.


"Selamat siang dokter"sapa Teo menyapa dokter pemilik ruangan itu.


"Selamat siang pak Teo,akhirnya kalian datang juga.Ayo silahkan duduk"sambut dokter itu langsung mempersilahkan Teo dan Zia duduk dikursi didepannya.


"Bu dokter,perkenalkan ini Zia yang akan menjadi pasien anda.Seperti yang saya bilang saat pertemuan terakhir kita"ujar Teo memperkenalkan Zia yang duduk disebelahnya.


"Halo dokter,saya Zia"ucap Zia memperkenalkan dirinya sendiri.


"Halo Zia,perkenalkan nama saya dokter Linda.Saya yang akan menjadi dokter kamu mulai saat ini"ucap dokter Linda dengan ramah memperkenalkan dirinya,ia mengulurkan tangannya untuk mengajak pasien mudanya itu bersalaman.


Zia menyambut jabat tangan itu dengan sedikit gugup.


"Baik dokter,hari ini saya hanya akan memperkenalkan Zia saja.Agar kedepannya dokter maupun Zia sudah saling mengenal saat jadwal cek upnya Zia tiba"ujar Teo.


"Baiklah pak Teo dan untuk Zia mulai hari ini sampai seterusnya,jika ada keluhan atau masalah tentang sakit yang kamu alamai jangan sungkan sungkan untuk menghubungi atau menemui saya.Nomor telepon saya juga sudah saya berikan kepada pak Teo,jadi kamu bisa meminta padanya"ujar dokter Linda kepada Teo.


"Baik dokter,saya akan ingat itu"jawab Zia.


"Dan dokter soal kerahasiaan penyakit saya..."lanjut Zia


"Pak Teo sudah menjelaskan tentang hal itu,jadi Zia tenang saja karena sebagai dokter saya akan berjanji merahasiakan kondisi pasien jika pasien itu memintanya"saut dokter Linda mengerti akan maksud perkataan Zia.


"Kalau begitu saya dan Zia permisi dulu bu dokter"ujar Teo permisi meninggalkan ruangan itu.


"Permisi dokter"ucap Zia juga.


"Silahkan"ujar dokter Linda.


Zia dan Teo keluar dari ruangan dokter Linda kemudian langsung berjalan menuju kearah lobi rumah sakit hendak pulang.


"Dek Lo mau gue antar pulang langsung atau punya tempat lain yang pengen lo datangin dulu?"tanya Teo sesampainya mereka dimobil.


"Langsung pulang aja deh kak"jawab Zia meminta untuk langsung diantar pulang kerumahnya saja.


"Oke deh,udah pakai sabuk pengamankan?"tanya Teo memastikan apakah bocah itu sudah memakai sabuk pengamannya.


"Udah"jawab Zia yang duduk disebelahnya.


"Oke ayo kita berangkat"Teo mulai menjalankan Mobilnya bergerak meninggalkan parkiran rumah sakit.


"Kak"panggil Zia ke Teo.


"Apaan?"tanya Teo yang sibuk menyetir.


"Lo bilang gak bilangkan kepacar lo kalau gue masuk rumah sakit?"tanya Zia.


"Enggak tenang aja,gue tau kok lo pasti gak mau Anna tau"jawab Teo


"Bagus deh,biarin kak Anna fokus dulu ngurus perusahaan gue yang disana.Pasti banyak kerjaan dia sekarang,apalagi dalam waktu dekat jugakan dia bakal nyusul gue kesini"ujar Zia kepada Teo.


"Bukan mau nyusulin lo aja tapi mau nyusulin gue pacarnya juga kali"ucap Teo.


"Tapi tetep aja tujuan utamanya buat nyusulin gue kak"ujar Zia.


"Iyain aja deh biar lo seneng,lagi malas debat gue"balas Teo.