One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 296



Lyn menatap adik bungsunya yang terbaring lemah diatas brangkar rumah sakit,wajah Zia terlihat sangat pucat.Zia tertidur karena efek obat yang baru diberikan oleh dokter kepadanya.Ia terus menatap kearah adiknya itu sambil duduk dikursi didekat tempat tidur rumah sakit yang ditempati adiknya itu,tangan kanannya dia gunakan menggenggam tangan adiknya yang terpasang selang infus tanpa mempedulikan kalau kedua orang tuanya tengah menatap sikap anehnya sejak tadi.


"Mama belum pernah melihat Lyn bersikap sekhawatir ini kepada seseorang"ujar nyonya Sela kepada suaminya sedikit berbisik.


"Papa juga sama ma.Tapi papa jadi terharu karena ternyata Lyn sangat peduli dengan Zia"ujar tuan Renal menyauti perkataan istrinya itu dengan suara yang pelan.


Sepasang suami istri itu duduk disofa yang terletak tak jauh dari posisi kedua putri mereka itu.


Sekolah___


Raka sejak tadi tiba dikantin terus memperhatikan gerak gerik gelisah Neta yang duduk berhadapan dengannya dimeja kantin,cewek itu sejak tadi terus berulang kali menghembuskan nafas berat dan berulang kali pula menoleh melihat kearah jam dinding besar yang dipasang disalah satu sisi dinding kantin bagian dalam. Tanpa bertanya kenapa,Raka sudah tau kenapa Neta bisa segelisah itu.Itu karena kabar dari pacar eh bukan tapi pacar bohongannya yaitu Zia, yang dikabarkan sakit dan harus dibawa kerumah sakit pada pagi tadi.


"Makanan lo cepat dimakan Ta,jam istirahat sebentar lagi berakhir" ujar Raka kepada Neta,cewek itu menurut namun tetap dengan gelagat gelisah yang sama.


Raka menoleh kearah lain dan kini tatapannya jatuh pada penghuni meja tak jauh dari meja yang dirinya tempati dengan Neta,meja yang ditempati oleh saudari perempuan Zia.Raka menatap Liona dan Neta bergantian,lalu merasa heran.


Bukankah seharusnya sekarang yang paling khawatir mengenai Zia yang sakit adalah Liona?tapi kelihatannya tak ada raut wajah sedih atau khawatir sedikitpun yang tercetak pada wajah saudari Zia itu,yang ada Liona malah sibuk ketawa ketiwi sambil bermesraan dengan kekasih barunya.Tak mempedulikan raut wajah Rena dan Juna yang nampak muak menjadi nyamuk karena duduk semeja dengan mereka.


"Rak"


Raka menoleh kearah Neta kembali setelah cewek itu memanggilnya


"Nanti pulang sekolah,temenin gue ke RS ya jenguk Zia"pinta Neta padanya,


Raka langsung menganggukkan kepalanya pelan


"Oke.Gue juga mau jenguk itu anak"


Skip___


Zia sudah bangun,efek obat yang sempat membuatnya tertidur tadi sudah hilang.Kini mami dan papanya tengah berusaha membujuknya makan,


karena sejak tadi gadis ini menolak untuk menerima suapan bubur rumah sakit.Jangankan ingin makan,Zia terasa ingin muntah melihat bubur rumah sakit itu dan juga bisa ia pastikan rasanya tak akan enak malahan hambar.


"Ayolah sayang,makan buburnya.Mami suapin nih"bujuk sang mami


"Atau mau papa yang suapin?"papanya mengambil alih mencoba menyuapi Zia,


namun Zia tetap menolak.


Zia membisu mengunci mulutnya rapat rapat.Disana gadis itu memang ditemani oleh kedua orang tuanya,Lyn kakaknya sendiri tengah pergi kekantin untuk makan disuruh oleh kedua orang tua mereka.


Kriet...Ditengah tengah usaha tuan Renal dan nyonya Sela membujuk si bungsu keluarga Antara itu untuk makan,pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan dua remaja SMA yang masuk kedalam.


"Selamat siang om,tante"ucap kedua remaja itu bersamaan,mereka adalah Neta dan Raka.


"Eh ada kalian,ayo sini.Silahkan masuk"sambut nyonya Sela kepada dua remaja yang dirinya ketahui sebagai sahabat dan juga kekasih putri bungsunya yang tengah sakit ini.


Setelah dipersilahkan masuk,Neta dan Raka langsung berjalan mendekat ketempat Zia dan kedua orang tuanya berada.


"Zia lagi makan ya tante?"tanya Neta kepada nyonya Sela.


"Nak Raka,coba suapin putri bungsunya om ya.Siapa tau sama pacarnya dia nurut"ujar tuan Renal beranjak dari tempat duduk,dan meminta Raka untuk menggantikan posisinya.


"Baik om"Raka langsung duduk ditempat tuan Renal tadi dan menerima mangkuk bubur dari papanya Zia itu.


"Zia ayo makan ya buburnya,aku yang suapin"ujar Raka dengan lembut,namun lagi lagi Zia menolak dengan menggelengkan kepalanya.


"Zia ayo aak.."


Si pemilik nama tetap menolak untuk memakan bubur rumah sakit itu.


Neta yang sejak tadi memperhatikan Raka yang berusaha membujuk sahabatnya mulai merasa geram,ia menarik kerah belakang seragam Raka meminta cowok itu menyingkir dari sana


"Minggir lo Rak,biar gue aja"ujar Neta tanpa basa basi langsung mengambil alih mangkuk dan juga sendok dari tangan Raka lalu duduk.


Tak...


"Aduh..."Zia langsung mengerluarkan suara mengaduh kesakitan karena Neta dengan tak punya hatinya menyentil keningnya dengan kencang.Kedua orang tua Zia dan juga Raka langsung kaget dengan tindakan bar bar Neta itu.


"Ta,inget Zia lagi sakit"ujar Raka mengingatkan Neta,kalau kalau gadis itu lupa.


"Diem lo!"sergah Neta kepada Raka, membuat Raka otomatis langsung diam


"Lo mau bunuh gue Ta?"ujar Zia dengan suara lemah khas orang sakit,


ia mengusap ngusap keningnya


"Emang?mau apa lo?!"tantang Neta,Zia menggembungkan pipinya cemberut.


"Ayo makan cepet.Kalau lo gak mau makan nih bubur,lo gue black list dari daftar sahabat gue.Mau lo?"tanya Neta dan tentunya Zia dengan cepat langsung menggeleng tanda tak mau kalau hal itu sampai terjadi.


"Enggak mau.Iya gue makan,cepet suapin"ujar Zia.


"Nah gitu kek dari tadi"ujar Neta yang langsung memasukkan suapan pertama kedalam mulut sahabatnya itu.


*Setengah jam hampir,aku ngebujuk Zia tapi gak berhasil.Sekali dapat ancaman dari sahabatnya langsung berhasil*batin tuan Renal yang menyaksikan kejadian didepannya.


Melihat putri bungsunya sudah mau makan disuapi sang sahabat,tuan Renal dan istrinyapun pamitan untuk keluar sebentar menuju kekantin rumah sakit untuk mengisi perut.


Mereka menitipkan Zia kepada Raka dan Neta sebentar,setidaknya sampai Lyn anak ketiga mereka kembali.


"Ortu lo belum tahukan?"tanya Neta langsung kepada Zia setelah beberapa saat setelah kedua orang tua sahabatnya itu meninggalkan ruangan itu.


"Belumlah,mereka taunya kalau gue cuma sakit kelelahan doang dari Dokter"jawab Zia yang paham maksud pertanyaan sahabatnya.


"Mamanya kak Ren yang periksa lo tadi?"tanya Neta lagi.


"Enggak,dokter lain.Gak mungkin mamanya kak Ren,yang ada semuanya langsung curiga sama kondisi gue"jawab Zia.