One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 106



Zia menatap miris nasib mie instan yang capek capek ia buat dengan sepenuh hati itu berakhir diwastefel dapur tanpa sempat untuk ia cicipi sedikitpun,raut mukanya langsung berubah cemberut dan matanya langsung berkaca kaca menahan tangis.Ayolah Zia biasanya tak secengeng itu tapi melihat makanan yang berakhir cuma cuma disaat perutnya yang sudah sangat keroncongan sangat mempengaruhi emosinya,perutnya terakhir kali ia isi dengan makanan saat istirahat jam sebelas tadi disekolah itupun tak banyak.


"Jangan makan mie instan,akan ku buatkan makanan yang lain"ujar kak Lyn datar,setelah melihat adiknya itu seperti hendak menangis.


Zia yang tadi sudah hampir menangis langsung mendongakkan kepalanya menatap sang kakak keempatnya itu,Ia melihat kak Lyn berbalik menuju kearah kulkas dan mengambil telur ayam dan sosis dari dalam kulkas.


Lyn memakai celemek kemudian berdiri didepan kompor,ia menaruh teflon diatas kompor dan menyalakan kompor tersebut.Tangannya bergerak menaruh mentega keatas permukaan teflon yang mulai memanas dengan spatula,ia memecahkan dua butir telur untuk membuat telur mata sapi dan tak lupa menaruh sosis disisi teflon yang kosong.Gadis itu terlihat cukup lihai dan tak menemukan masalah apapun dalam menggunakan alat alat dapur,diantara saudari saudarinya Lyn memang anak perempuan Renal yang paling mahir dalam urusan memasak.


Tapi meski begitu entah kenapa Lyn jarang sekali terlihat memegang peralatan masak,mungkin karena gadis itu sangat sibuk menjadi mahasiswa makanya begitu.


Disisi meja dapur terlihat Zia yang memperhatikan sang kakak yang sibuk memasak sambil membatin dalam hati


*Ini gue dapet hoki dari mana sampai sampai kak Lyn ngomong sama gue,mana sepuluh kata lagi.Udah gitu perhatiin makanan gue,trus sampai mau masakin gur makanan.Moga moga kejadian emejing ini gak ngabisin stok keberuntungan gue tahun ini,masih butuh banyak keberuntungan gue soalnya*Zia mengoceh dalam hatinya.Kenapa dalam hati?ya gak mungkinlah dia ngoceh deket kak Lyn, bisa bisa kena semprot dia karena terlalu banyak ngoceh.


"Ini makan"ujar kak Lyn menaruh sepiring nasi lengkap dengan lauk telur mata sapi dan sosis goreng yang dimasak tadi.


"Eh,makasih kak"ucap Zia kepada kakaknya.


"Hm"saut kak Lyn berdehem.


Zia menatap makanan didepannya itu dengan mata yang sangat berbinar


*Akhirnya,gue gak jadi mati kelaparan*batin Zia.


Tanpa basa basi gadis itu langsung memasukkan suapan pertama kedalam mulutnya disusul suapan suapan selanjutnya,Zia makan dengan lahap sampai sampai ia lupa kalau masih ada sang kakak disana.


Lyn tanpa sadar tersenyum tipis saking tipisnya mungkin gak disadarin orang lain,entah kenapa ia merasa sedikit hangat melihat wajah berbinar saudarinya itu saat menikmati makanan yang ia buat. Walaupun makanan yang ia buat itu terbilang sederhana tapi Zia memakannya dengan lahap,sambil mengukir senyum dibibirnya.


"Kakak tadi mau ngapain kedapur?" tanya Zia membuatnya mengubah ekspresinya kembali datar,Lyn tetaplah Lyn jadi dia tak mau menunjukkan ekspresi apapun kepada orang lain.


"Ooh"saut Zia ber-oh.


"Ngomong-ngomong makasih kak makanannya,aku jadi gak perlu makan mie instan"ucap Zia dengan tulus.


"Hm,lain kali jangan lewatkan makan malam.Itu akan membuat dirimu repot, dan juga tak baik jika menjadi kebiasaan"ujar Lyn dengan nada datar dan terdengar sedikit dingin,tapi entah kenapa gadis itu berbicara panjang seperti tadi.


Bukannya takut atau gimana setelah sang kakak berbicara dengan nada datar dan dingin,Zia malah tersenyum senang.


"Iya kak,Zia bakal selalu ingat nasehat kakak"ujar gadis itu tersenyum hangat.


"Habiskan makananmu cepat,aku ingin tidur"ujar Lyn datar,ia duduk dibangku sebelah tempat Zia duduk.


"Baik kak"jawab Zia sambil mengangguk,ia melanjutkan kegiatan makannya karena tahu maksud dari perkataan kakaknya itu.Zia tahu kalau kak Lyn akan menunggu sekaligus menemaninya sampai selesai makan.


Sepuluh menit kemudian Zia sudah selesai makan,kak Lyn segera meraih piring dan gelas gadis itu kemudian mencucinya diwastafel.


"Tidur"ujar kak Lyn setelah selesai mencuci peralatan makan Zia,setelah itu berjalan duluan meninggalkan area dapur.Sedangkan Zia bejalan mengikuti dari belakang sambil tak berhenti tersenyum,kelihatannya ia akan tidur nyenyak malam ini karena mendapat perhatian tak terduga dari sang kakak.Zia akan mengingat kejadian ini selalu dan tak akan melupakannya,ini termasuk kejadian langka yang bisa ia dapatkan dari kakak dinginnya itu.


Zia sudah ada didepan kamarnya hendak masuk kedalam begitu juga dengan Lyn kakaknya.


"Selamat tidur kak,mimpi yang indah"ucap Zia sesaat sebelum gadis itu masuk kedalam kamarnya.


Lyn yang mendengar itu berbalik menatap pintu kamar yang baru saja ditutup oleh pemiliknya itu,gadis itu tersenyum sedikit lebih jelas dari yang tadi saat didapur.


*Selamat malam dan mimpi indah juga* batin Lyn,ia tak belum bisa mengucapkan kalimat itu secara langsung sekarang.Iapun masuk kedalam kamarnya sendiri untuk istirahat malam ini,sepertinya Lyn akan bisa tidur lebih lega malam ini.