
"Lihatlah ma,kenapa ketiga orang ini memiliki gestur yang kaku sekali saat berfoto"ujar Liona menunjukkan hasil foto yang diambil saat dikampus kedua kakak kembarnya.
Nyonya Sela mendekat memiringkan posisinya supaya lebih dekat dengan putri keempatnya dan melihat hasil foto yang dipegang oleh putrinya itu.
"Maklumi saja sayang.kakakmu Lyn dan adikmu Zia memang cetakan papamu sekali kalau sudah berhubungan dengan kamera"ujar sang mama kepada Liona.
"Papa gak sekaku itu kok,lihat"sang papa terdengar membela diri.
"Berhentilah,makanan sudah datang"ujar Lyn dingin kepada ketiga anggota keluarganya itu saat pelayan datang untuk mengantarkan makanan pesanan mereka semua.Yap keluarga Antara kini memang sedang berada disebuah restoran berbintang untuk merayakan hari wisuda dua anggota keluarga mereka yaitu sekembar Arga dan Gia.
"Lo jangan ngomong dingin gitu ke keluarga sendiri kali Lyn"Gia menegur Lyn yang berbicara dengan nada dingin ke mama mereka.
Lyn tak menghiraukan perkataan kakak perempuannya itu,gadis berwajah dingin dan minim ekpresi itu mulai menyantap makanan miliknya.Membuat sang kakak mendengus kesal padanya,
beruntung sang mama langsung mengelus pundak kak Gia sehingga kakaknya itu tak bersuara lagi.
Berbeda dari yang lain yang setidaknya sempat berbicara sepatah kata setiba direstoran itu,sisulung Arga dan sibungsu Zia malah diam membisu sejak tadi.
"Ga,lo kenapa diam aja sejak tadi hm?"tanya Gia kepada Arga,saat sadar kembarannya itu belum terdengar suaranya sejak sampai direstoran.
"Lagi gak mood ngomong aja,btw gimana pacar lo?ngasih ucapan selamat gak?"ujar Arga ke Gia.
"Nah iya papa baru inget,nak Jevan kekasih putri papa kenapa gak hadir diacara tadi?gak Gia undang?"tanya tuan Renal setelah mendengar percakaan anak kembarnya itu.
"Gia undang kok pa,tapi Jadwalnya bentrok sama jadwal Jevan ada kerjaan keluar kota.Jadi ya gitu,Gia suruh Jevan buat fokus selesain kerjaannya dulu aja"terang Gia kepada papanya.
Setelah itu semuanyapun fokus untuk menikmati hidangan didepan mereka tanpa banyak bersuara lagi.
Ping...ping...ping...
Hampir serentak tiga tangan langsung meraih tiga ponsel dari atas meja yang sama dengan posisi duduk ketiga orang itu berbeda,tiga orang pemilik 3 ponsel yang berbunyi itu adalah tuan Renal,Gia,dan juga Zia.
Nyonya Sela,Arga,Lyn,dan Liona menjeda kegiatan makan mereka beralih memperhatikan ketiga orang anggota keluarga mereka yang kini tatapannya fokus kepada ponsel masing masing dengan ekpresi yang berbeda beda.
Entahlah apa yang ketiganya lihat diponsel masing masing tapi yang jelas kini tuan Renal nampak mengkerutkan kening,Gia dengan senyuman mirip seringaian dibibirnya dan baik tuan Renal maupun Gia sama sama terlihat sempat melirik sibungsu dengan sudut mata mereka.
Sedang sibungsu Zia terlihat memasang wajah hampir tak berekpresi.
Kriet...tiba tiba Zia berdiri dari kursinya menatap seluruh anggota keluarganya
"Loh sayang mau kemana?"tanya nyonya Sela kepada anak bungsunya itu.
Zia melihat kearah sang mami sebentar lalu berkata
"Maaf semuanya,tapi aku ada urusan mendadak"
Setelah mengatakan hal itu Zia langsung bergegas meraih tasnya lalu beranjak meninggalkan meja itu dengan cepat,bahkan gadis itu tak menunggu sampai mendapat respon dari keluarganya itu.Entah apa urusan penting itu.
"Kok Zia pergi sih,buru buru juga keliatannya?"ujar Liona yang nampak kecewa saat sang adik pergi begitu dari sana.
"Ada urusan mendadak Lio,kamu kan denger sendiri tadi"ujar Gia yang nampak tak peduli.
Sedangkan tuan Renal hanya diam menatap saat punggung anak bungsunya itu menjauh dari sana,pikiran laki laki ayah dari lima anak itu masih tertuju pada pesan yang baru dirinya dapatkan diponselnya.