
"Itu karena mereka jauh lebih tua dari gue sedangkan sama lo,kitakan cuma beda beberapa bulan doang gak sampai setahun"jawab Zia dengan tenang sambil menatap mata sang kakak.
"Tapikan tetep aja gue lebih tua dari kamu Zia"ujar Liona.
"Gak nyampe satu tahukan?"tanya Zia
"Enggak sih"jawab Liona pelan tapi masih bisa didengar.
"Nah itu,jadi terima aja lagian gue juga lebih nyaman kayak gini"ujar Zia yang membuat Liona tak tau harus berkata apa lagi.
Disisi lain Rena terdiam dan berfikir sejenak memikirkan penggalan kalimat yang dilontarkan Zia*beda satu tahun ya*pikirnya dan kemudian sebuah senyuman terukir di bibirnya.
"Ren lo ngapain senyum senyum sendiri sambil ngelamun?lo gak ke sambetkan?"tanya Neta yang menyadari tingkah Rena dari tadi yang awalnya diam seperti melamun namun tiba tiba senyum tanpa sebab yang jelas kan dia jadi ngeri sahabat dari kakak sahabatnya itu kesambet.
"Gue gak kenapa napa kok,cuma lagi mikirin sesuatu aja"ujar Rena pada Neta.
"Mikir apaan kalau boleh tau?"tanya Neta sedikit penasaran,bukan sedikit sih tapi banyak soalnya dia orangnya emang mudah penasaran dan kepo abis.
"Zia"bukannya menjawab pertanyaan Neta,Rena malah memanggil nama Zia.
Yang membuat orang yang namanya ia sebut itu melihat ke arahnya sambil menaikkan satu alisnya seolah olah bertanya ada apa.
"Berarti lo bisa panggil gue kakak dong?"tanya Rena sambil tersenyum penuh arti.
"Kenapa gue mesti panggil lo kakak?"tanya balik Zia.
"Gue itu lebih tua tujuh bulan dari Liona yang notabenya lebih tua enam bulan dari lo,itu artinya gue satu tahun lebih tua dari lo"jelas Rena memberi jawaban.
"Trus?"tanya Zia
"Jadi karena gue lebih tua satu tahun dari lo,itu artinya gue boleh dong minta lo panggil gue dengan sebutan kakak dan lo juga mau dong?"ujar Rena.
"Eh mana boleh gitu caranya"bukan Zia yang menyaut tapi malah Liona yang tidak terima.
"Boleh juga,kalau lo mau"ujar Zia,berbeda dari Liona yang tidak terima maka Zia menyetujui perkataan Rena.Mata Liona langsung menatap tajam Zia hendak protes karena merasa tidak adil padahal menurutnya ia lebih berhak mendapat panggilan kakak dari Zia.
"Jadi gue harus panggil lo kakak dari kapan?"tanya Zia tanpa mempedulikan tatapan tajam Liona padanya.
"Mulai sekarang juga boleh"jawab Rena.
"Tapi tetep boleh gue-lo ya"pinta Zia pada Rena.
"Kalau itu mah boleh,soalnya kita mesti harus santai"ujar Rena.
"Oke kak Rena"ucap Zia resmi menggunakan kata 'kak' didepan nama Rena untuk pertama kalinya sambil tersenyum manis.
"Oke juga adikku Zia"balas Rena tersenyum senang,ia langsung berdiri dari tempatnya.
"GUYS,BUAT KALIAN SEMUANYA!KALIAN BOLEH AMBIL APA AJA DI KANTIN.KHUSUS HARI INI GUE YANG TRAKTIR KARENA GUE LAGI SENENG!"teriakan Rena terdengar di seluruh kantin karena kuatnya dan tentunya sontak kantin langsung dipenuhi suara para murid yang merasa bahagia karena dapat traktiran sepuasnya dari salah satu siswi sultan sekolah.
"Alay lo tau gak!"ujar Liona dengan ketus pada Liona padahal mah dia iri.
"Alah bilang aja lo iri kan sama sahabat lo yang satu ini"saut Rena meledek sahabatnya itu.
"Tapi yang di bilang Lio itu bener tau kak,kakak alay banget sampai traktir satu sekolahan cuma gara gara gue mau panggil lo kakak"ujar Zia pada Rena yang membuat Rena cemberut sedangkan Liona tersenyum sumringah karena merasa Zia ada di pihaknya.
"Tuh dengerin Zia bilang apa,jadi jangan alay"ujar Liona pada Rena.
"Ya gimana dong,gue seneng banget tau dipanggil kakak sama Zia.Gue kan anak tunggal jadi berasa punya adik sama jadi kakak gue sekarang"ujar Rena sendu,memang bener sih Rena itu anak tunggal satu satunya di keluarganya.
"Maksud gue itu,seharusnya kakak gak usah traktir satu sekolahan hari ini karena gue padahal udah punya niat duluan tapi malah keduluan kakak"jelas Zia,setelah itu suasana menjadi hening beberapa detik kemudian
HA..HA...HA...suara tawa tiga orang dari empat penghuni meja itu terdengar.
"Hahaha..Gue kira lo satu pihak sama Liona ternyata lo di pihaknya Rena toh Zi hahaha..."ujar Neta diselingi tawanya yang belum bisa berhenti sepenuhnya.
"Kok kalian gitu sama gue"ujar Liona cemberut,padahal tadi ia sudah melayang karena mengira Zia ada di pihaknya tapi ternyata malah sebaliknya.
"Zia"
"Trus gue apa lo dong?"tanya Neta yang kali ini menanyakan ikut bertanya.
"Pake nanya lagi,lo kan sahabat terbaik gue,bisa dibilang kita itu patner in crime.Mau gak?"jawab Zia pada Neta.
"Mau dan setuju tentunya,ayolah kapan kapan kita bikin masalah bareng"saut Neta dengan semangat.
"Boleh tuh,tapi bikin masalahnya mulai yang ringan ringan dulu aja ya biar ada proses gitu"balas Zia.
"Siap itu mah,bisa dibicarakan"saut Neta.
"Gila lo berdua,bikin masalah kok direncanain"komen Rena pada keduanya.
"Tapi bolehlah ajak sesekali"lanjut
nya sambil menaik turunkan alisnya.
"Sama aja lo berarti"ujar Zia dan Neta bersamaan kemudian ketiganya langsung tertawa kembali.
Sedangkan Liona yang juga berada disana tiba tiba merasa terasingkan dan tidak diacuhkan oleh ketiganya,
ia menekuk mukanya tanda kesal pada tiga orang yang duduk satu meja dengannya terutama Zia,cewek yang jelas jelas statusnya adalah adik kandungnya walaupun beda ibu itu malah mau mau saja memanggil orang lain kakak sedangkan padanya tidak,Neta juga disebut sahabat terbaik alias patner in crime olehnya sedangkan dia yang jelas jelas punya hubungan darah dengannya tapi malahan merasa tidak dapat panggilan istimewa apapun adi cewek yang lebih muda enam bulan darinya itu.
"Kring...kring...kring...jam istirahat selesai"suara bel berbunyi menanda jam istirahat sudah selesai.
Liona langsung beranjak dari kursinya pergi begitu saja tanpa bicara apapun pada tiga orang yang satu meja dengannya itu,tidak peduli ketiganya yang cengo melihat tingkahnya itu.
"Lio kenapa?"tanya Zia pada Rena dan Neta.
"Gue gak tau,lo tau kak?"tanya Neta pada Rena.
"Palingan tuh bocah ngambek karena kita ledekin trus kita kacangin dari tadi"jawab Rena
"Btw kenapa lo ikut ikutan manggil gue kakak?"lanjutnya yang baru sadar kalau Neta memanggilnya kakak.
"Biarin aja ngapa,lagian gue seumuran sama Zia beda hampir sebulan doang.Lagian gue gak punya kakak,jadi bolehin aja gue ikut panggil lo kakak"ujar Neta pada Rena.
"Boleh lah,lagian bagus juga gue punya dua adik angkat"saut Rena.
"Eh tapi itu Liona ngambek gak sampe marah kan,nanti kita malah di keluarin dari sekolah nanti karena abis bikin anak pemilik sekolah marah"ujar Neta khawatir,ia baru sadar siswi yang mereka buat kesal tadi anak pemilik sekolah tempat mereka bersekolah saat ini.
"Gak bakal,lagian kita masih punya Zia"jawab Rena dengan tenang,lagian kalau menurut Rena mah kalaupun gak ada Zia mana mungkin Liona mau menguarkan sahabatnya sendiri dari sekolah.
"Tenang gue yang jamin"ujar Zia.
"Bagus deh"saut Neta lega.
"Yau dah yuk balik ke kelas masing masing,nih kantin juga udah mulai kosong sama murid lain"ajak Rena pada Zia dan Neta.
"Yuk lah"balas keduanya.
Ketiganya pun beranjak dari meja mereka pergi meninggalkan area kantin,Zia dan Neta pergi ke kelas mereka sedangkan Rena pergi ke kelasnya sendiri menyusul Liona yang sudah pergi sendiri tadi lebih dulu.
Kalian tenang aja,Rena gak lupa kok bayarin semua makanan kantin yang udah dimakan sama temen satu sekolahnya.Tapi dia memilih buat bayar nanti aja pas udah pulang sekolah alasannya biar sekalian semuanya siapa tau masih ada yang mau jajan di kantin sehabis jam istirahat,dia juga udah bilang sama semua penjaga kantin kok soal itu.
Zia saat ini berjalan mengikuti saudari ketiganya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh,sedangkan yang ia ikuti dari tadi berjalan dengan memasang wajah masam memasuki kediaman keluarga Antara.
"Kamu udah pulang sayang?adik kamu mana?"tanya sang Sela menyambut putrinya itu diruang tamu.
"Hmm"saut Liona singkat pada sang mama kemudian langsung berlalu pergi begitu saja menaiki tangga.Sementara Sela menautkan alisnya bingung apa yang terjadi dengan putrinya yang tampak sedang berwajah masam itu.
"Aku pulang"ujar Zia datang menghampirinya kemudian menyalami tangannya.
"Zia,itu kakak kamu kenapa?mukanya masam gitu"tanya Sela pada putri bungsunya yang baru datang itu.
"Bukan masalah besar kok mi,cuma Lio tadi ngambek aja sama Zia sama temen temen yang lain.Trus kelanjutan deh ngambeknya sampai pulang sekolah"jawab Zia pada maminya.