One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 177



Glup...Zia menelan ludahnya sendiri dengan susah payah saat dirinya kini sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita berjas putih,wanita itu adalah kak Ilen yang merupakan seorang psikolog yang direkomendasi- kan oleh Neta kepadanya.


Suhu ruangan tempat mereka berada saat ini terasa mendingin saking besarnya rasa gugup yang Zia rasakan saat ini,Kalian penasaran dimana Neta sekarang?sahabatnya itu kini malah terlihat asik main game dengan telinga disumpal oleh AirPods duduk disofa yang tak jauh posisinya dari kursi tempat Zia duduk saat ini.


Sebenarnya tadi Neta berniat duduk dikursi sebelahnya Zia guna menemani sang sahabat untuk konsul pertamanya,tapi kak Ilen malah menuruh Neta untuk melakukan aktivitas gadis itu yang sekarang. Untuk tujuannya sih,katanya itu supaya kak Ilen bisa dengan mudah berbicara dengan Zia dengan tenang, dan kak Ilen bisa dengan mudah memahami kondisi yang Zia alami.


Neta ya mau tak mau tentu harus nurut sama psikolog yang sudah menanganinya selama bertahun tahun itu,Neta yakin kak Ilen pasti melakukannya bukan tanpa sebab dan alasan yang tidak masuk akal.


"Baiklah,jadi nama kamu Zia?"tanya kak Ilen dengan ramah disertai sebuah senyuman hangat,tapi entah kenapa Zia masih tetap saja merasa gugup.


"Ah,i-iya kak.Nama saya Zia, sahabatnya Neya"jawab Zia gugup.


Psikolog Ilen langsung tersenyum paham kalau calon pasien em atau mungkin pasien barunya ini sedang merasa gugup,hal ini biasa terlihat pada orang orang yang baru pertama kali konsul dengannya.


"Zia jangan gugup dan tegang seperti itu,kamu rileks saja.Ayo tarik nafas dan buang perlahan beberapa kali,untuk membantumu bisa merasa rileks dengan cepat"pintanya kepada Zia.


Gadis muda yang duduk dihadapannya itu langsung mengangguk pelan dan menuruti apa yang dia minta lakukan,


Hup...Huf...Zia menghirup dan membuang nafasnya secara perlahan beberapa kali.Dan kelihatannya cara itu berhasil,terbukti dari sigadis yang tampak bisa duduk dengan rileks dan tenang.


"Sudah merasa rileks sekarang?"tanya kak Ilen,Zia menganggukkan kepalanya pelan beberapa kali.


"Baguslah,sekarang ayo coba ceritakan apa yang kamu rasakan. Sepertinya Zia punya banyak beban yang disimpan dan dipikul sendirian" ujar kak Ilen.


"Ayo ceritakan pada kakak,kakak akan jadi pendengar yang baik.Jangan takut,kakak ini penjaga dari ribuan rahasia"lanjut kak Ilen.


Zia menatap mata kak Ilen sejenak mencoba mencari jawaban apakah ia dapat mempercayai psikolog didepannya ini dengan baik,setelah merasa yakin barulah ia mulai bercerita.


"Kakak benar,aku punya banyak sekali beban yang harus ku tanggung sekligus kuselesaikan"ujar Zia.


Kak Ilen.


"Keduanya"jawab Zia


"Mau menceritakan yang keluarga atau yang diluar keluarga dulu?"tanya kak Ilen memberikan pilihan.


"Mungkin diluar keluarga dulu"pilih Zia.


"Mulailah,perlahan saja"pinta kak Ilen.


"Kakak tau,diusia-ku yang sudah menginjak 17 tahun ini.Aku sudah harus memimpin sebuah perusahaan yang cukup besar,warisan dari mendiang ibu-ku"Zia


"Wah,pasti kamu seorang pimpinan yang hebat"puji kak Ilen.


"Terimakasih,tapi itu cukup melelahkan serta memusingkan meski aku punya orang orang yang sedia membantuku"ujar Zia.


"Belum lagi masalah lain yang tiba tiba datang sejak beberapa tahun lalu,membuat-ku sedikit frustasi pada diriku sendiri"lanjut Zia.


"Masalah lain?"kak Ilen.


"Iya masalah lain,tepat saat hari dimana kakek-ku dinyatakan pergi untuk selama lamanya.Kondisiku tiba tiba drop dan sampai jatuh pingsan,


dokter mendiaknosis ternyata aku punya penyakit kanker darah kronis.


Dan parahnya baru diketahui saat sudah mencapai stadium dua"ujar Zia.