One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 197



"Malam putri kecil papa"sambut tuan Renal saat melihat kedatangan sang bungsu dimeja makan.


"Malam Pa,malam semuanya"balas Zia tak lupa memasang sebuah senyuman.


"Bukankah panggilan putri kecil tidak cocok pada Zia pa,aku sudah SMA"lanjut Zia mengomentari cara sang papa memanggilnya.


"Apa yang salah dek,elo kan emang putri papa yang paling kecil.Bener tidak pa"saut Liona dari tempatnya.


"Bener apa yang dibilang Lio kakak kamu,Zia-kan memang putri papa yang paling kecil"ujar tuan Renal menyauti perkataan kedua putri termudanya itu.


"Tapikan..."


"Duduk dan makan"


Baru saja Zia hendak melanjutkan protesannya lagi,namun sang kakak ketiga yaitu kak Lyn langsung membuatnya kicep.


"Baiklah"ujar Zia pasrah,anggota keluarga termuda dirumah itu segera duduk dikursi yang biasa ditempati saat makan dimeja makan.


Tuan Renal dan Liona sontak langsung menahan tawa melihat raut wajah Zia yang langsung berubah pasrah dan kicep setelah sang putri es dirumah itu bicara,Zia hanya bisa menggeram kesal tertahan saat menyadari kalau papa dan saudarinya itu tengah menertawakannya dalam diam.


Sedangkan Sela sendiri hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah suami dan putri putrinya itu,yah sikap jahil dikeluarga ini selain diturunkan darinya tapi juga dari suaminya.Jadi jangan heran sebagaimanapun sifat masing masing anggota keluarga ini,tapi pasti ada sifat jahil yang tersimpan meskipun jarang ditunjukkan.


"Ayo mulai makan malamnya"ujar wanita paruh baya itu memberi intrupsi kepada anggota keluarganya yang ada disana.


"Kakak kembar?"tanya Liona pada sang mama.


"Kakak kalian Arga ada urusan mendadak  keluar kota dan berangkat tadi siang,sedangkan kakak kalian Gia menghadiri undangan makan malam oleh orang tua calon kakak ipar kalian"jelas sang mama menjawab pertanyaan Liona.


"Ooh"Liona membulatkan mulutnya beroh-ria setelah mendapatkan jawaban.


Semuanyapun memulai makan malam dengan hikmat,tidak ada yang bersuara sampai makan malam benar benar selesai.


"UTS kalian berdua sudah berakhirkan?"tanya tuan Antara kepada kedua putrinya yaitu Liona dan Zia selepas makan malam.


Kedua gadis yang dimaksud oleh papa mereka itupun langsung mengangguk kompak sebagai jawaban.


"Kapan hasilnya akan keluar?"tanya tuan Antara.


"Seperti biasa,palingan minggu depan udah keluar hasilnya pa"ujar Liona mewakili menjawab.


"Semoga nilai kalian bagus"ucap tuan Antara penuh harapan.


"Ya semoga pa,meski Lio yakin nilai Lio pasti tinggi sih"jawab Liona penuh keyakinan.


"Bagus kalau kamu yakin,Zia sendiri bagaimana nak?punya keyakinan nilaimu akan bagus?"tanya Renal kepada putri bungsunya yang terlihat diam saja.


"Entahlah,Zia gak begitu yakin kali ini"jawab Zia,terdengar dari nada bicaranya sepertinya gadis itu tak begitu tertarik dalam pembicaraan ini.


"Loh kenapa?ah papa tahu,pasti karena kondisi kamu yang gak terlalu baik saat beberapa hari ujian berlangsungkan?baiklah"ujar Renal menebak penyebab jawaban putri bungsunya itu.


"Hm ya begitulah,aku hanya menjawab yang tertera diotak-ku saja saat beberapa hari itu karena tak belajar"ujar Zia membenarkan tebakan papanya.


"Ya,lain kali masih bisa ditingkatkan"ujar Zia.


*Jika masih ada kesempatan untuk lain kali*lanjutnya namun dalam hati.


"Kalau Lyn bagaimana sayang, bagaimana kuliahmu?berjalan lancar?ada hal yang terjadi atau menarik?tanya Renal kini pada anak ketiganya.


"Hm,tak ada yg menarik"jawab Lyn singkat dan tak lupa dingin,gadis itu bahkan tak menatap sang papa yang mengajaknya bicara.


Renal menggeleng pelan melihat respon yang didapatkan dari putrinya itu,ini sudah sangat biasa dan juga sudah sangat dimaklumi olehnya.


"Ekhem baiklah,karena kalian sudah selesai ujian.Punya rencana setelah masa ujian?"tanya Renal kembali bertanya kepada dua anak termudanya.


"Liburan Keluarga!"jawab Liona dengan cepat dan semangat.


"Liburan?hm baiklah akan papa pikirkan rencananya"ujar Renal ssetelah mendengar permintaan dari anak keempatnya.


"YEY"ujar Liona semangat saat papanya mengatakan akan memikirkan permintaannya.


"Bagimana Zia,setuju dengan ide saudarimu?"tanya Renal pada sibungsu.


Zia melirik sekilas Liona yang kini menatapnya penuh harap lalu melirik kearah kak Lyn yang hanya diam tak berekspresi apapun.


"Aku setuju setuju saja,aku juga bisa meminta kak Anna memberiku waktu kosong yang cukup untuk liburan.Tapi..."Zia menjeda sebentar jawabannya.


"Tapi apa sih dek?"tanya Liona yang tak senang mendengar kata tapi yang diucapkan Zia.


"Tapi selain merencanakan liburan, bukankah kita seharusnya merencanakan hal lain jug?"lanjut Zia yang membuat kedua orang tua dan saudarinya kebingungan.


"Acara lain apa?kamu punya rencana untuk mengadakan pesta nak?"tanya sang papa kepada Zia.


Kini Zia yang menatap heran sekaligus bingung kepada keluarganya,lalu menatap kak Lyn yang masih sama saja yaitu tak berekspresi sama sekali.


"Bukan,bukan pesta untukku atau aku tidak berniat mengadakan pesta.


Kalian benar benar lupa satu hal?"tanya Zia lagi.


"Lupa apa?"Kini sang mami yang bertanya.


"Baiklah,mereka benar benar lupa*batin Zia sekarang.


"Bukankah beberapa hari lagi adalah ulang tahunnya kak Lyn?kalian lupa?"ujar Zia kepada kedua orang tuanya dan Liona saudarinya.


Hening


Seketika meja makan menjadi hening mendengar perkataan yang termuda itu,kini Liona dan juga kedua orang tua dikeluarga itu kompak menatap sang anak ketiga dikeluarga dengan tatapan meminta maaf.


Lyn sebagai yang menjadi objek tatapan tak enak dan memohon maaf dari keluarganya itu tentunya sadar akan hal itu,namun gadis itu bersikap seolah olah tak peduli sama sekali.


*Aku tak peduli,ini bukan pertama kali*batin gadis itu kira kira.