
Kring...kring...kring...
Tap...tap...tap...Neta berlari dengan cepat memasuki perpustakaan, ia langsung menuju kebagian paling sudut tersembunyi perpustakaan dimana ia dan sahabat nya biasa nongkrong disana.
Neta sudah janjian akan bertemu sang sahabat disana selepas ujian selesai,tapi sebelum itu ia menyempatkan diri mampir dikantin untuk membeli cemilan.
Huh...huh..huh...nafas gadis itu terengah engah didepan pintu masuk perpustakaan.
"Nafas kamu kenapa gitu Neta,habis dikejar warga?"tanya guru penjaga perpus.
Gadis itu menoleh kearah penjaga perpustakaan itu
"Ibuk bisa aja jokesnya,masa cewek secantik saya dikejar warga sih buk.
Ibuk kira saya maling apa,lagian ini disekolah buk"ujar Neta.
"Ya siapa tau gitukan,kamu kesini ngapain itu bawa makanan masuk?itu papan aturan kurang gede apa tulisannya?"ujar penjaga perpustakaan.
"Oh ini pesenan bu bos ini buk,tuh udah nungguin dia tuh didalam"jawab Neta santai.
"Ooh,sana masuk pergi cepet.Keburu murid lain liat,bisa kena tegor saya"suruh penjaga perpustakaan itu.
"Kalau pak kepsek tau siapa biang keroknya mah,gak bakal berani dia mah buat negor ibuk sama saya. Apalagi sahabat saya"ujar Neta.
"Benar juga sih kamu"gumam penjaga perpustakaan itu.
"Ya jelas benerlah buk,btw buk saya kedalam dulu ya.Nih buat ibuk,bukan sogokan tapi anggap aja saling berbagi rezeki"ujar Neta meletakkan dua bungkus roti serta satu botol air mineral kecil diatas meja penjaga perpus,setelah itu ia beranjak masuk kedalam area rak rak buku.
"Dih,dikira saya pengemis apa.Tapi gak papa sih anggap aja rezeki anak soleh,lagian bocah itu pasti ditraktir sama nona muda"gumam penjaga perpus itu setelah muridnya itu beranjak dari sana.
~sudut perpustakaan~
"Lama lo Ta"ujar Zia yang tengah duduk dengan santai dilantai perpustakaan yang telah dialasi dengan koran.
"Basa basi dulu sama bu perpus"ujar Neta yang langsung mengambil posisi duduk disebelah sang sahabat dan meletakkan bungkusan jajanan dan camilan yang ia beli tadi dikantin.
"Gimana kondisi lo,masih lemes sama pusing kepala lo?"tanya Neta kepada Zia.
Zia menggelengkan kepalanya pelan
"Udah mendingan dibanding tadi"jawab Zia.
"Pulang sekolah,mau gue anter ketemu sama tante Linda gak?"tanya Neta lagi.
"Gak usah kerumah sakit segala, lagian ini gejala umum yang udah gue biasa rasain"tolak Zia.
"Mendingan sekarang kita bahas rencana buat ngatasin masalah yang bakal dateng dihari terakhir ujian aja"lanjut Zia.
"Yaudah kalau itu mau lo,tapi emang itu informasi dari ordal lo valid dan bisa dipercaya emang?"tanya Neta.
"Gak tau sih,tapi tetep aja gue harus punya rencana buat ngadepin hari itu kalau memang iya"jawab Zia.
"Jadi gimana?kemarin malamkan lo bilang udah punya rencana?tanya Zia kepada Neta.
"Ah iya,gue emang udah punya rencana dan udah tersusun detailnya malah.
Tapi mengingat prinsip lo soal percintaan sih,gue gak yakin lo mau dan kita juga butuh seseorang yang tepat buat terlibat sebagai salah satu tokoh utama dalam rencana ini"ujar Neta.
"Emang rencana apaan,trus kok kayaknya perasaan gue gak enak deh?"tanya Zia mulai curiga kalau rencana sahabatnya ini pasti akan menyusahkannya dimasa depan.
"Jadi gini...."
~Skip~
Sebuah mobil mewah memasuki area halaman kawasan kediaman megah keluarga Antara.Itu adalah mobil sang anak ketiga tuan Renal Antara, didalam mobil itu ada Lyn dan Zia sang adik.Lyn benar benar menepati perkataannya untuk menjemput Zia disekolahnya tadi.
Brak...kedua pintu mobil bagian depan ditutup bersamaan dari dua sisi yang berbeda,kak Lyn dan Zia melangkah memasuki bangunan utama kediaman keluarga mereka.
"Eh anak anak mama udah pulang,anak mami juga"suara Sela nyonya Antara menyambut kepulangan keduanya putrinya itu dengan suka hati,wanita itu tadinya duduk disofa ruang tamu sebelum akhirnya beranjak berdiri mendekat kearah dua putrinya itu.
Nyonya Antara langsung meletakkan punggung telapak tangannya kepada kening sang putri bungsu
"Masih panas ternyata,walau gak sepanas tadi"ujar Wanita itu.
"Gimana selama kamu disekolah dek,gak kenapa napakan?"tanya mami kepada Zia.
"Tidak ada masalah kok mi,palingan cuma ngerasa sedikit lemes aja"jawab Zia.
"Kamu mau mami panggilin dokter keluarga buat diperiksa trus biar dikasih obat gak?"tanya nyonya Antara.
"Enggak,gak usah Mi.Zia mau tidur aja habis ini,palingan nanti malam atau besok udah sembuh kok.Gak perlu panggil dokter segala"tolak Zia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Yaudah kalau itu mau kamu,sekarang kamu kekamar habis itu bersih bersih.Tunggu mama anter bubur sama obat buat kamu,habis istirahat Oke"ujar sang mami.
"Oke mi"jawab Zia setuju,kemudian gadis itu langsung berjalan menuju ke lift.
Setelah mastikan putri bungsunya memasuki Lift dengan aman,Sela kini beralih kepada anak ketiganya.
"Kamu sendiri gak masuk kekamar kak?"tanya Sela kepada Lyn putrinya.
"Gak,mau balik kampus.Masih ada kelas"saut Lyn,kemudian langsung berbalik pergi menuju kearah pintu keluar.
Sela hanya bisa menghela nafas sekaligus menggelengkan kepala pelan melihat sikap dingin putrinya sendiri itu,ia sudah sangat memaklumi bagaimana cara anak ketiganya itu selalu bersikap dingin kepada setiap orang bahkan keluarga dan kepada dirinya yang merupakan ibu kandung dari gadis itu.Makanya Sela sedikit kaget melihat sikap Lyn putrinya itu yang nampak sangat perhatian kepada Zia sejak pagi tadi,bahkan ditengah kesibukan jadwal kuliah yang tak bisa diganggu gugatpun.Anak perempuan keduanya itu masih mau menyempatkan diri menjemput sibungsu yang disekolah karena tidak bisa membawa kendaraan sendiri,akibat tak enak badan.
~Kamar Zia~
"Ngapain lo dikamar gue Lio?"tanya zia sesaat setelah ia melangkah masuk kedalam kamarnya,dan menemukan kakak keempatnya yang sudah duduk manis dimeja belajarnya.
"Gak ngapa ngapin sih dek,cuma lagi bosen aja"jawab Liona.
"Btw lo kok baru pulang dek?trus pulang sama siapa?"tanya Liona.
"Tadi ngobrol dulu sama Neta,gue dijemput sama dianterin pulang sama kak Lyn"jawab Zia,gadis itu kemudian melangkah masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti pakaian.
"Dijemput kak Lyn,gak salah tuh?"gumam Liona pelan,dan tentunya Zia tidak bisa mendengar hal itu.
Ceklek...pintu kamar mandi kembali terbuka dan keluarlah Zia yang sudah selesai berganti baju,gadis itu hanya terlihat menggunakan kaos lengan pendek serta celana panjang khas rumahan.Namun ada sesuatu yang membuat Liona terkejut melihat gadis itu.
"Ya ampun dek,itu muka lo kok pucet banget gitu.Udah kek mayat hidup aja,masih sakit lo ya?"tanya Liona terlihat khawatir lebih dari tadi pagi.
Wajah dan bibir Zia memang sangat terlihat pucat,meski tadi pagi memang sudah pucat.Tapi Liona tak menyangka akan sepucat itu,mungkin karena tadi pagi adiknya itu masih menggubakan bedak dan liptin untuk menyamarkan hal itu.
"Bukan sakit,tapi lebih ke gak enak badan aja"saut Zia.
"Sama aja itu,sini baring trus istirahat lo"suruh Liona langsung menarik lengan adiknya itu hingga terduduk diatas kasur.
"Ayo istirahat,cepetan"suruhnya lagi saat melihat Zia tidak kunjung berbaring juga.
"Gue nunggu makanan gue diantar dulu Lio,tadi katanya mama mau nganter bubur kesini"ujar Zia yang sabar menghadapi kebawelan saudarinya itu.
"Ooh bilang dong dari tadi"ujar Liona.
"Lo-nya gak ngasih gue kesempatan ngomong Lio"balas Zia,gadis itu menjulurkan tangannya mengambil laptop kecil miliknya yang terletak diatas nakas.