One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 135



~Flasback on~


Pertama kali Zia bertemu kak Jevan_


Zia berjalan menelusuri lorong lorong gedung perusahaan milik sang papa,ia berada disana tentunya bukan untuk bertemu papanya melainkan saudari tertuanya.sepanjang berjalan menuju ruangan sang kakak,gadis itu sering kali tak sengaja berpapasan dengan karyawan karyawan yang bekerja disana.Para karyawan itu selalu membungkuk sebentar dan menyapa dirinya setiap berpapasan, Zia tentunya dengan senang hati membalas semua sapaan itu dengan sederhana dan tidak lupa memberikan sebuah senyuman ramah kepada mereka yang menyapanya itu.


Setelah berjalan beberapa saat dan juga menaiki lift untuk menuju kelantai dua paling atas digedung itu dimana ruangan saudarinya berada,Zia akhirnya sampai didepan ruangan sang kakak.


Tok...tok...tok...


Zia mengetuk beberapa kali pintu ruangan itu meminta izin untuk masuk,ini sesuai dengan peringatan yang diberikan sang kakak agar ia tak masuk sembarangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"MASUK"


sebuah suara berupa teriakan dari dalam mempersilahkan Zia untuk masuk,tentu sudah hampir bisa diastikan kalau pemilik suara itu pasti kakak dari gadis itu.


Zia memutar knop pintu kemudian mendorong pintu itu kearah depan kemudian mulai melangkah masuk kedalam ruangan,saat masuk kedalam mata gadis itu langsung tertuju kepada sang kakak yang duduk dimeja kerja.


"Lo udah datang?"tanya kak Gia langsung kepada Zia.


Zia langsung menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai jawaban kemudian berkata


"Kakak ada apa panggil Zia kesini?"tanya gadis itu.


"Ada orang yang mau ketemu sama lo"jawab kak Gia


"Siapa?"tanya Zia


"Disofa"jawab kak Gia lagi.


Sontak Zia langsung melihat kearah sofa sesuai perkataannya,gadis itu terlihat sedikit kaget sampai reflesk melangkah mundur satu langkah kebelakang.Gadis itu melihat seorang laki laki dewasa yang terlihat hampir seumuran dengan saudarinya,jujur Zia merasa sedikit risih karena orang itu terus menatapnya sambil tersenyum aneh.


Laki laki yang duduk disofa tadi terlihat bangkit dan berdiri dari sana kemudian melangkah maju mendekat ketempat dimana Zia berdiri saat itu,Zia tentunya langsung memasang posisi siaga.


"Tidak usah takut,perkenalkan nama kakak Jevan.Kamu bisa panggil kakak kak Jevan aja,usia kakak hampir sama kayak kakak kembar kamu kok"ujar laki laki itu memperkenalkan dirinya sebagai kak Jevan,ia juga terlihat menjulurkan tangannya hendak bersalaman.


Zia menatap tangan laki laki itu sejenak kemudian mulai menjulurkan tangannya juga untuk membalas salaman itu


"Zia Antara,kakak bisa panggil saya Zia saja"jawab Zia memperkenalkan dirinya kepada kak Jevan.


Setelah bersalaman sejenak,tangan kedua orang itu berpisah.


"Ayo duduk sini disofa sama kakak" ajak kak Jevan kepada Zia.


"Gak usah kak,saya berdiri aja"tolak Zia.


"Kok berdiri sih,disini aja duduk. Jangan sungkan sungkan soalnya inikan ruangan kakak kamu,kakak yang datang sebagai tamu aja gak pernah sungkan"ujar kak Jevan menarik tangan Zia untuk duduk disofa,Zia sendiri memustuskan untuk mengiyakannya saja.


"Iya kak"saut Zia.


"Kakak itu sengaja minta Gia buat manggil kamu kesini,soalnya kakak udah dari kemarin kemarin mau ketemu kamu tapi masih belum sempat berkunjung kekediaman kalian"ujar kak Jevan.


"Kakak tuh mau mengakrabkan diri ke calon adik ipar kakak"lanjut kak Jevan.


"Jevan!jangan bicara macam macam!" seru kak Gia dari meja kerjanya, perempuan itu mendengar jelas sejak tadi pembicaraan Jevan dan Zia saudarinya.


"Udah yang sibuk kerja diam aja,biarkan kita yang senggang ini ngobrol"ujar kak Jevan kepada kak Gia.


"Udah Zia,omongan yang disana gak usah didengerin"ujar kak Jevan kali ini kepada Zia.


"Zia"kak Gia memanggil nama Zia.


"Ya kak,kenapa?"tanya Zia menyauti panggilan saudarinya.


"Kamu dari pada ngegosib disana mendingan lakuin kerjaan lo,jangan mentang mentang ada kak Anna dan kak Teo lo malah leha leha.Jadi bos yang bertanggung jawab"ujar kak Gia kepada Zia.


"Baik kak"ujar Zia,gadis itu langsung mengeluarkan laptop miliknya dari tas ransel yang dibawa tadi disandang dipunggungnya.


Laptop itu mulai dinyalakan dan hanya berselang beberapa menit saja namun gadis remaja yang duduk disebelahnya itu terlihat sudah fokus dan tenggelam pada isi monitor laptop itu.


Jevan melirik kearah Gia dan Zia bergantian,yang satu fokus pada layar komputer sedangkan yang satu fokus pada layar laptop.Melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya singkat dan menghela nafas saja,ia merasa diabaikan dan tidak diacuhkan.Kedua bersaudari Antara yang ada diruangan yang sama dengannya itu ternyata sama saja,sama sama tipe perempuan yang work holic.


Sudah tiga puluh menit berlalu namun Jevan memperhatikan tidak ada pergerakan yang siknifikat dari Gia dan Zia,keduanya masih sama fokusnya pada pekerjaan masing masing.Harapan Jevan untuk bisa mengobrol dengan kedua gadis itu sepertinya tidak akan terlaksana hari ini,ia menggeram kesal dalam hatinya.


"Ayolah gadis gadis,kenapa kalian berdua malah fokus bekerja.Padahal aku ingin mengajak kalian mengobrol"ujar Jevan,setelah merasa tidak tahan lagi akan suasana ruangan itu.


Zia berhenti memainkan jari jarinya pada keyboart laptop dihadapannya, gadis itu terlihat mematikan perangkat komunikasi itu kemudian menutupnya dan memasukkan kedalam tasnya.Jevan yang melihat hal itu langsung senang karena mengira adik dari Gia itu mau diajak mengobrol kembali,berbeda dengan Gia yang menatap saudarinya itu dengan tatapan tanya.


Zia menyandang tas ransel miliknya dipunggung kemudian berdiri beranjak dari sofa,kak Jevan yang tadinya sudah merasa senang langsung memasang ekspresi tanya kearah gadis remaja itu.


"Loh dek,lo mau kemana?kok berdiri sih?"tanya laki laki itu kepada Zia.


"Kak,Zia pamit pergi dulu ya. Sebentar lagi ada jadwal meeting sama klaen soalnya,kalau ada perlu nanti hubungin aja"ujar Zia berbicara kepada Gia saudarinya.


"Hm sana pergi aja,lagian disini lo juga gak diperluin kok"jawab kak Gia.


"Permisi kak Gia,permisi kak Jevan.


Sampai ketemu dilain kesempatan"ujar Zia sebelum beranjak berjalan menuju pintu keluar.


"Eh Zia,mau kakak antar gak ketempat klaen kamu?"tanya Kak Jevan kepada Zia.


"Gak perlu kak,saya dijemput sama supir perusahaan saya"jawab Zia menolak tawaran dari kak Jevan, setelah itu gadis itu menghilang dibalik pintu.


"Kok Zia kamu bolehin pergi sih Gi?"tanya Jevan atau lebih mirip protesan sebenarnya.


"Dia ada kerjaan,lagian dia disini juga cuma bikin sumpek ruangan tau gak.Jangan brisik lagi,gue mau kerja"jawab Gia judes.


"Trus aku mau ngajak ngobrol siapa dong?"tanya Jevan.


Gia memutar bola matanya malas, mendengar pertanyaan laki laki itu.


"Jev lo itu wakil CEO atau pengangguran sih?"tanya gadis itu.


"Ya wakil CEO lah masa pengangguran, ih amit amit aku jadi pengangguran" jawab Jevan.


"YAUDAH PERGI SANA URUS KERJAAN KAMU,Jangan Gangguin Orang Kerja Mulu!"ujar Gia ngegas.


"Eh iya,gue balik dulu bai Giaku sayang"ucap Jevan langsung sesegera mungkin pergi meninggalkan ruangan itu,takut dia tuh tambah diamuk macan betina.


Setelah pertemuan itu,Zia sering kali bertemu dengan kak Jevan saat pergi keperusahaan keluarganya. Karena kak Jevan bisa dibilang jarang absen tiap minggu pasti ada dua kali atau lebih,datang kesana buat nemuin saudari tertuanya Zia yaitu kak Gia.


Dan sejak saat saat itulah Zia mulai mengetahui tentang usaha kak Jevan untuk mendekati saudarinya itu,Zia bahkan sering ikut membantu aksi pdkt-an itu.Sampai akhirnya sekitaran tiga minggu yang lalu semua usaha kak Jevan akhirnya terbalas,karena kak Gia akhirnya mau menerima ajakan kak Jevan untuk berpacaran.


~Flasback off~