
Zia kini tengah berada didalam ruangan miliknya diperusahaan.
Gadis itu tak sendiri karena ada kak Anna kakak angkatnya disana.
"Seharusnya hari ini lo gak usah kesini dek,istirahat dirumah"ujar kak Anna.
Zia mendongak mengalihkan tatapannya dari berkas yang tengah dibaca menjadi menatap sang kakak angkat yang tengah duduk berhadapan dengannya.
"Seharusnya gitu,tapi sejak pulang dari ruma sakit gue gak bisa tenang kalau lagi dirumah"ujar Zia kemudian meraih pulpennya dan menandatangani sesuatu diberkas itu lalu menyerahkannya pada kak Anna.
"Tolong kasihin ya"pintanya.
Kak Anna meraih berkas yang diberikan oleh sang adik angkat padanya lalu menatap berkas itu sejenak kemudian berkata
"Lo udah seratus persen yakin sama keputusan lo?"
"Hm ya,lagi pula kakak juga gak maukan?"
"Gak mau sih gue,yaudah deh nanti gue serahin"ujar Anna.
Setelah itu Zia terlihat beranjak dari tempatnya lalu meraih tas sekolah miliknya kemudian menyandangnya.
"Mau pergi kemana?"tanya kak Anna yang melihat Zia beranjak.
"Entahlah,liat nanti"jawab Zia.
"Lo diantar sama pak Hen-kan,bukan nyetir sendiri?"tanya kak Anna.
"Iya"jawab Zia.
"Bagus deh,yaudah sana.Cari hiburan dikit,biar pikiran lo gak masalah mulu isinya"ujar kak Anna.
"Hm"
Parkiran___
Bruk...Zia menutup pintu mobil,ia duduk dikursi barisan belakang supir.
"Nona muda ingin saya antar kemana untuk selanjutnya?"tanya pak Hendra kepada majikan mudanya itu.
"Toko bunga.Tempat pemakaman mama" jawab Zia seadanya.
"Baik nona"ucap pak Hendra,ia langsung menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankan mobil menuju tempat tujuan yang dimaksud nona mudanya itu yaitu toko bunga langganan dilanjut ke tempat pemakaman dimana mendiang majikan pak Hen yang dulu dimakamkan.
Setelah sekian lama diperjalanan, mobil yang dinaiki oleh Zia dengan disupiri oleh pak Hendra akhirnya terlihat terparkir didepan sebuah toko bunga.Pak Hendra menunggu didalam mobil sedangkan sang nona muda telah masuk ke dalam toko bunga itu sekitar semenit yang lalu.
"Kamu terlihat jauh lebih baik dibanding terakhir kali berkunjung ke sini Zia"ujar kak Anya pemilik toko bunga itu pada Zia.
"Benarkah?bagus jika terlihat seperti itu"saut Zia yang tengah menatap bunga mawar putih yang terpajang di etalases kaca.
Kak Anya tersenyum melihat bagaimana pelanggan remaja itu menatap bunga mawar putih dietalase,sembari tangannya tengah mempersiapkan bunga Lily yang dipesan oleh remaja itu.
Setelah pesanan itu jadi,kak Anya beranjak dari balik mejanya lalu menghampiri Zia dan berdiri disamping gadis itu.
punya makna memberikan harapan kesehatan yang lebih baik,jika diberikan kepada teman yang sedang sakit"ujar kak Anya membuat Zia menoleh kearahnya sebentar sebelum kembali menatap bunga berwarna putih itu.
"Zia menyukai bunga itu?"tanya kak Anya sambil menyerahkan bunga pesanan gadis itu.
Zia menerima bunga Lily pesanannya itu lalu berkata
"Entahlah,tapi aku suka warnanya yang putih.Dan mendengar makna bunga itu dari kakak,itu seperti harapan"
Kak Anya tersenyum lalu wanita muda itu langsung membuka etalase kaca kemudian mengeluarkan setangkai bunga mawar putih dari dalam sana.
Kak Anya menyodorkan setangkai mawar putih itu kepada Zia.
"ambilah sebagai hadiah"ujar kak Anya.
Melihat Zia yang hanya diam menatap bunga itu,membuat kak Anya kembali bersuara
"Kakak dengar dari Raka,kamu sering sakit.Dengan memberikan bunga ini kakak harap kesehatanmu jauh lebih baik kedepannya"
Mendengar perkataan itu akhirnya Zia menerima setangkai bunga mawar putih pemberian kak Anya itu
"Terima kasih"ucapnya.
Setelah itu Zia pamit dari sana lalu kembali ke mobilnya.Pak Hen sendiri langsung kembali menjalankan mobil menuju ke pemakaman yang biasa didatangi akhir akhir ini.
Kampus___
Lyn berulang kali menghela nafas berat sejak tadi,bahkan Callie dan teman teman kuliahnya yang lain juga menotis hal itu.Gadis yang biasanya selalu menampilkan wajah dingin dengan minimnya ekpresi kini malah terlihat jelas tengah punya banyak pikiran.
Hah...
Lihat?lagi lagi sahabatnya itu menghela nafas seperti itu,Callie yang melihatnya menjadi khawatir karena jarang sekali sang sahabat memperlihatkan kalau sedang memiliki masalah.Callie akhirnya meletakkan ipad miliknya lalu mengubah posisi duduknya menyerong menghadap sang sahabat.
"Hei Lyn,lo lagi punya masalah apa sih?dari tadi gue perhatiin lo menghela nafas mulu.Mana tadi pas kelas juga,lo beberapa kali mengabain panggilan dosen"tanya Callie pada Lyn.
"Iya kalau ada masalah cerita ceritalah ke kita Lyn,gak semua juga gak apa"ujar Ren.
"Iya tuh,dari pada lo simpen sendiri"sambung Rey.
"Ayo cerita aja Lyn,tenang diantara kita yang ada disini gak ada yang mulutnya ember kok"ujar amanda.
"Nah dengerin tuh mereka bertiga,ayo cerita kalau memang bener bener lagi ada masalah.Siapa tau salah satu dari kita bisa ngasih solusi,kalau enggak ya minimal beban pikiran lo berkuranglah"ujar Callie kembali.
Lyn menatap sang sahabat dan juga ketiga teman kuliahnya itu bergantian lalu menghela nafas pelan
"Gak bisa cerita banyak.Tapi gue lagi khawatir sama adik bungsu gue"ujar Lyn akhirnya mau sedikit membicarakan yang tengah membuat pikirannya gundah sejak pagi.
"Emangnya kenapa sama Zia?"tanya Rey.
"Gue takut kehilangan Zia"ujar Lyn membuat keempat orang yang mendengar jawabannya itu saling menatap bingung dengan maksud gadis itu,mereka ingin bertanya lebih lanjut namun Lyn malah terlihat beranjak dari tempat itu.