One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 40



"Neta"panggil seseorang menyadarkan Neta dari pikirannya sendiri.


"Pak ketos,ada apa nih manggil gue?"tanya Neta,yang memanggilnya itu ternyata adalah Raka siketua osis.


"Gue manggil lo cuma mau bilang kalau surat izin temen lo yang cewek kemarin udah gue urus,trus udah gue kasih juga ke guru walkel kalian"ujar Raka.


"Oh ya,wah makasih kalau gitu.Gue kira kemarin lo gak serius bilang bakal ngutus surat izinnya Zia,ternyata beneran toh"ucap Neta ke Raka.


"Gue bukan tipe orang kayak gitu"saut Raka


"Ya siapa tau,yaudah kalau gitu gue pergi duluan ya mau ke kelas soalnya.Bai"pamit Neta meninggalkan Raka.


Raka sendiri kembali melanjutkan langkahnya hendak ke ruangan OSIS, pemuda itu masih punya banyak pekerjaan yang harus segera selesaikan disana.


~Dikelas Liona-Rena~


Sekembalinya Liona dn Rena dari kantin,keduanya saat ini sudah berada dikelas mereka dan sedang mengobrol dimeja mereka.Sebenarnya sekarang sudah jam masuk pelajaran,tapi karena berhubung guru yang seharusnya mengajar pada jam itu sedang berhalangan hadir maka kelas mereka jadi jam kosong.


"Hai Lio,pagi"Ken tiba tiba datang ke meja mereka dan langsung menyapa Liona,jangan lupakan Juna yang selalu ada bersama cowok itu.


"Pagi Ken"sapa balik Liona tentunya dengan mengukir senyuman terbaiknya.


Rena menatap malas dua orang yang baru datang itu terutama Ken,crus sahabatnya itu pasti selalu mengganggapnya angin lalu.Sorry ya bukannya dia cemburu atau gimana tapi HELLO! dia juga ada disana kali.


"Kamu ada perlu apa Ken,kok nyamperin ke meja aku sama Rena?"tanya Liona kepada Ken.


"Sebenarnya aku ada perlu sama kamu tapi gak enak ngomongnya"jawab Ken


"Ngomong aja,gak papa kok"ujar Liona.


"Anu gimana ya.."Ken masih ragu akan mengatakan apa tujuannya menghampiri gadis itu.


"Ken mau minta no.hp adik lo si Zia" Juna yang berada dibelakang Ken, langsung berbicara melihat rekannya itu ragu.Biar cepet katanya.


"Ngapain lo minta no.adek gue?"bukan Liona yang merespon tapi Rena yang duduk disamping Liona,gadis itu menatap Ken dengan muka yang tidak mengenakkan.


"Adek lo?Zia kan adiknya Liona"ujar Juna kepada Rena.


"Emang adiknya Lio,tapi Zia itu udah gue anggap adik gue sendiri jadi adik gue."saut Rena ke Juna.


Liona berfikir sejenak kenapa Ken mau meminta nomer adiknya dan untuk apa.


"Gimana Lio,bolehkan?gue kan adik kamu,jadi gue mau kenal akrab sama Zia"tanya Ken ke Liona sekaligus memberikan alasan kenapa ia meminta no.hpnya Zia.


Liona menoleh ke Rena sebentar, sahabatnya itu langsung menggelengkan kepalanya supaya ia tak memberikan no.Zia kepada Ken.Kemudian melihat kearah Ken lagi,Ken langsung tersenyum menawan kepadanya.


"Bolehkan kok"ujar Neta,Ken langsung terlihat sumringah sedangkan Rena langsung menepuk keningnya sendiri mendengar jawaban sahabatnya itu.


"Kalau gitu kamu tolong kirim diWA sekarang ya"pinta Ken dengan semangat.


"Oke"ujar Liona tanpa ragu langsung membuka ponselnya dan tanpa tunggu lama lagi langsung mengirim no.hp Zia ke WA Ken.


"Udah masuk belum?"tanya Liona


Ting...


"Udah kok,makasih ya Lio"jawab Ken sekaligus berterima kasih.


"Em kalau gitu,gue sama Jun pergi dulu ya"pamit Ken ingin pergi dari sana.


"Eh tunggu dulu,btw kamu kesekolah bawa mobil gak?"tanya Ken ke Liona.


"Emangnya kenapa Ken?"Liona bertanya balik.


"Kalau kamu gak bawa mobil,aku mau ajak kamu pulang bareng pakai mobilku"jawab Ken memberitahu maksudnya menanyakan Liona bawa mobil atau enggak.


"Kebetulan hari ini aku gak bawa mobil sih,jadi oke aku pulang sama kamu asal gak ngerepotin"ujar Liona setuju dengan ajakan pulang bereng dari Ken.


"Gak ngerepotin kok,yaudah nanti jangan pulang duluan ya"ujar Ken mulai beranjak menjauh dari meja Liona-Rena sambil merangkul pundak Juna.


Setelah Ken menjauh dari mejanya, Liona beralih melihat kearah sahabatnya.Ia langsung menaikkan sebelah alisnya saat Rena menatapnya aneh.


"Kenapa lo Ren,liatin gue kayak gitu banget?"tanya Liona ke Rena.


"Kok lo kasih sih nomernya Zia ke Ken?"tanya Rena


"Lah emangnya kenapa?"tanya Liona


"Lo masih nanya kenapa?"


"Lio itu yang lo kasih tadi ke Ken itu nomer hpnya Zia lo nomer hp,nomor hp itu termasuk privasi seseorang dan tadi lo baru kasih no.hp Zia ke orang sembarangan tanpa seizinnya Zia.Lo gimana sih"ujar Rena tak habis pikir dengan jalan pikiran sang sahabat.


"Orang asing?Ken bukan orang asing Ren tapi temen kita,lagian apa salahnya cuma no.hp doang gak papalah"bantah Liona tak terima kalau sahabatnya itu menyebut Ken orang asing.


"Oke bagi kita Ken emang temen its Ok,tapi bagi Zia?belum tentu dia nganggep Ken itu temen,mereka juga baru ketemu sekali dan sekedar kenal nama doang"ujar Rena


"Dan menurut lo cuma no.hp doang,hei semua orang mau kalau no.hp disebarin gitu aja.Bahkan gue yakin lo juga bakal kayak gitu"lanjut Rena mencoba menasehati sang sahabat.


"Kok lo sibuk banget sih,gue yakin Zia gak bakal marah atau kenapa kenapa kok kalau gue kasih nomernya ke Ken"ujar Liona masih tetap pada pemikirannya.


"Lagian tau Ren,tadi Ken bilang mau minta nomer hpnya Zia karena Zia adik gue trus mau kenal akrab sama Zia.Inget karena Zia adik gue,bisa jadi dia pengen deket sama calon adik iparnya biar direstuin"lanjut Liona senyum senyum sendiri.


"Terserah lo deh Lio mau bilang apa,sebahagia lo aja.Tapi entar kalau Zia marah jangan ngadu lo sama gue"ujar Rena terdengar pasrah pada hasil pemikiran temannya itu,namun dalam hati ia sedang memikirkan sesuatu.


*Gue doain pemikiran lo bener Lio,jangan sampai sebaliknya kayak yang gue pikirin dari tadi*ujar Rena dalam hatinya.


"Semoga enggak"gumam Rena pelan.


"Apa Ren?kok kedengeran kayak ngomong sesuatu?"tanya Liona sekilas mendengar suara sahabatnya itu.


"Gue gak ngomong apa apa kok"ujar Rena menggelengkan kepalanya.


"Masa?"tanya Liona masih kurang yakin.


"Emang gue gak ngomong apa apa,kuping lo mungkin yang salah"jawab Rena


"Enak aja kuping gue lo salahin,kuping gue baik baik aja ya"ujar Liona.


"Masa?"ledek Rena dengan mengulang gaya bertanya Liona tadi.


"Ah udahlah,gue ngambek sama lo"saut Liona bete,raut wajah sahabat Rena itu terlihat cemberut.