One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 85



"Iya juga ya,Sorry bos gue baru inget lo baru pindah kesini hehehe" ujar Danil ke Zia.


"Gak papa"saut Zia kemudian gadis itu beralih ke Neta.


"Btw Ta,gue masih bisa dihitung bule loh.Kakek dari pihak mama gue orang AS asli loh"ujar gadis itu ke Neta.


"Lah emang iya?!"saut Neta kaget karena baru mengetahui tentang fakta itu.


"Emang ya"ujar Zia.


"Kalau gue gak kaget sih bos,dari warna rambut lo yang kepirangan sama warna hazel bola mata lo.Udah keliatan sedikit bulenya"ujar Danil.


Neta yang mendengar perkataan Danil itu langsung memperhatikan bola mata sahabatnya itu dan benar saja kalau Zia memang memiliki warna bola mata yang berbeda dari orang indonesia pada umumnya.


"Iya juga ya,gue baru sadar Zi kalau warna bola mata lo beda kayak Liona" ujar Neta pada Zia.


"Hm mungkin karena warna bola matanya Lio itu ikut papa sedangkan gue sendiri sama kayak warna bola matanya mendiang mama"saut Zia.


"Eh gue mau nanya sama lo nih bos tapi gak enak"ujar Danil yang masih sibuk menyetir mobil yang mereka naiki itu.


"Nanya aja kalau mau nanya"ujar Zia mepersilahkan Danil kalau emang ada yang mau ditanyain.


"Bos sebelum pindah kesekolah kita emangnya belum pernah tinggal diindo ya?"tanya Danil kepada Zia.


"Enggak,gue belum pernah tinggal diindo sebelumnya enggak deh kayak pernah waktu baru lahir tapi gak nyampe seminggu.Setelah itu gue emang gak pernah nginjakin kaki keindo lagi,sampai akhirnya pas kemarin gue mutusin buat pindah dan tinggal diindo"jawab Zia kepada Danil.


"Seriusan,kok gak pernah sih padahal papanya boskan orang indo asli?"tanya Danil mulai penasaran.


"Gue dari kecil emang udah ikut sama kakek sama nenek trus mereka juga yang ngerawat dan besarin gue dari bayi"ujar Zia.


"Em papa sama mama tiri bos emang gak pernah suruh bos balik?"tanya Danil.


"Pernah kok malahan sering banget, tapi emang guenya aja yang masih nyaman buat stay disana bahkan meskipun kakek sama nenek gue udah gak ada"ujar Zia,gadis itu tak keberatan menjawab semua pertanyaan yang ketua kelasnya itu ajukan. Menurutnya meski rada julit dan berisik tapi Danil bukan tipe cowok ember,sedangkan Neta memutuskan untuk menjadi pendengar saja karena ia sendiri sudah terlebih dahulu mengetahui kisah hidup sahabatnya itu.


"Trus kenapa akhirnya bos mau pindah kesini?"tanya Danil lagi.


"Alasannya rada susah dijelasin,tapi salah satunya sih mungkin udah waktunya gue balik ketanah kelahiran gue sendiri"jawab Zia.


"Ooh"ucap Danil sebagai respon.


"Tapi ngomong Nil,kok lo dari tadi manggil gue bos mulu dah?"ujar Zia yang baru menyadari cara Danil memanggilnya sejak tadi.


"Iya gue juga baru sadar kalau lo manggil Zi bos mulu dari tadi"ujar Neta yang juga baru menyadari hal itu sejak Zia mengatakannya.


"Gue juga gak tau bos,reflek mulut gue aja.Lagian lo bos able banget vibenya"jawab Danil.


"Kalau itu sih gue juga akuin Zi kalau lo emang vibe bos able banget"ujar Neta setuju dengan pendapat Danil.


"Nahkan bener,lagian gue udah kebiasaan manggil lo bis.Gak papakan gue manggil lo bos?"tanya Danil kepada Zia takut gadis itu risih dengan cara memanggilnya.


"Gue sendiri sih gak masalah dipanggil apa aja senyamannya orang orang,asal panggilannya gak ada unsur menghina atau ngerendahin aja"ujar Zia.


Setelah itu obrolan-demi obrolan ketiganya lakukan dengan berbagai topik,mulai dari gosip sekolah terapdet sampai hal hal lain yang cocok dijadikan bahan obrolan guna mengisi rasa hening saat didalam mobil.


"Ini silahkan dinikmati"ujar Danil datang dan meletakkan tiga porsi nasi kuning diatas meja dimana ada Zia dan Neta duduk disana.


Saat ini ketiga remaja itu sedang berada disalah satu kios penjual nasi kuning yang tak sengaja mereka jumpai saat mobil mereka menelusuri jalanan,ketiganya memutuskan mampir disana untuk sarapan nasi kuning seperti yang direncanakan Neta dan Danil tadi.Sedangkan Zia sendiri hanya mengikuti mereka berdua saja,lagi pula gadis itu juga merasa penasaran seperti apa rupa makanan yang kedua sahabatnya itu katakan tadi.


Zia menatap piring berisi nasi kuning dan lauk didepannya,nasi itu memang berwarna kuning seperti namanya.Gadis itu melihat kedua sahabatnya yang sudah mulai memakan makanan itu tanpa ragu dan terlihat sangat menikmati sekali,ia kembali menatap makanan didepannya itu.


Neta yang tadinya asik memakan nasi kuning miliknya berhenti ketika menyadari sahabatnya yang duduk disebelahnya belum menyentuh sedikitpun makanannya,Neta melihat Zia yang seperti menatap ragu nasi kuning dihadapan sahabatnya itu.


"Makan aja Zi,enak kok jadi gak usah ragu gitu"ujar Neta kepada Zia.


"Nasi ini dikasih pewarna makan ya?"tanya Zia sambil menatap polos kearah Neta.


"Bukan pewarna makanan tapi itu dikasih kunyit makanya warnanya jadi kuning begitu"jelas Neta kepada Zia.


"Lo tau kunyitkan?"tanya Neta kepada sahabatnya itu.


"Tau kok"jawab Zia sambil menganggukkan kepalanya.


"Yaudah ayo makan"ujar Neta


"Oke"saut Zia,setelah itu ia mulai mengambil sendok dan menyendok nasi kuning itu kemudian menyuapkannya kemulutnya sendiri.


"Gimana menurut lo bos?"tanya Danil yang sejak tadi menyimak percakapan kedua gadis itu.


"Hem gak buruk,lumayan enak"jawab Zia sambil masih mengunyah nasi kuning itu dimulutnya.


"Bagus deh kalau lo suka Zi"ucap Neta senang sahabatnya itu menyukai nasi kuning itu.


"Nah sekarang coba bos cobain makan nasi kuning sama lauknya terutama itu ada ayam serundeng,tempe orek sama pergedel kentangnya" ujar Danil menyuruh Zia untuk mencoba lauk pauk pelengkap nasi kuning itu.


"Iya Zi ayo cobain,gue rasa kayak lo belum pernah makan tempe orek sama pergedel deh"ujar Neta.


"Oke"ujar Zia mengikuti saran dua sahabatnya itu untuk mencoba lauk pauk pelengkap nasi kuning itu.


"Wah,ini enak"ucap Zia memuji rasa masakan yang baru saja masuk kemulutnya itu.


"Tuhkan pasti enak"ujar Danil.


"Gak nyeselkan lo kan gue sama Danil ajak kesini?"tanya Neta ke sahabatnya itu.


"Enggak,malahan gue makasih sama lo berdua.Karena kalian gue bisa nyobain hal baru kayak gini"ujar Zia ke Neta dan Danil.


"Gak usah makasih gitu,lagian gue sama Danil seneng apalagi inikan lo yang bayar.Iya gak nil"ujar Neta.


"Yoi sekali besti"saut Danil.


"Itumah mau lo berdua"ujar Zia.


ketiganya pun kembali melanjutkan kegiatan makan mereka sampai selesai.