
~Beberapa hari yang lalu diperpustakaan~
"YANG BENER AJA LO TA KALAU NGASIH IDE,masa gue harus nyari orang buat dijadiin pacar boongan sih"ujar Zia sedikit berseru meski memelan diakhirnya.Gadis itu memberi respon seperti itu karena saking syoknya mendengar saran yang diberikan oleh Neta sang sahabat beberapa detik yang lalu.
Neta bahkan langsung menutup telinganya karena seruan keras dari Zia itu,ia mengintip kesekitar dan kemudian menghela nafas lega karena tidak ada murid lain disekitar tempat mereka berada saat ini.
"Ide gue itu udah yang paling bagus tau gak Zi,yang bisa otak gue pikirin.Cuma dengan lo pura pura punya pacar aja,siKen kemungkinan bakal terima kalau lo nolak dia nanti pas kalau bener itu ordal lo gak bohong tau gak.Ya untung untung nanti siapa tau dia berhenti ngejar ngejar lo kayak sekarangkan"jelas Neta kepada Zia,mencoba memberi pengertian kepada sahabat satu satunya itu.
"Tapi kenapa harus punya pacar boongan sih,lo-kan sendiri tau banget kalau gue ogah banget ngurusin masalah begituan"ujar Zia yang masih tak terima dengan saran dari Neta.
"Ya kan cuma boongan Zi alias cuma akting doang,gak usah alay cukup seperlunya aja.jadi lo gak perlu khawatir"ujar Neta.
"Iya tapi gimana kalau malah tambah riweh?"tanya Zia.
"Tambah riweh gimana sih?"tanya balik Neta.
"Gimana kalau orang yang gue jadiin pacar boongan itu malah baper sama gue,gue gak mau tanggung jawab sama perasaan anak orang ya Ta"jawab Zia.
"Makanya kita cari murid cowok disekolah ini,yang gak bakal baper kalau misalnya dia dijadiin pacar boongan sama lo"ujar Neta.
"Emang ada spesies kayak gitu diHantara?"tanya Zia.
Neta terdiam sejenak mendengar pertanyaan kawannya yang satu ini, bener juga sih.Emang ada murid cowok disekolah ini yang bakal bisa menahan pesona sahabatnya yang satu ini?bukan kenapa napa tapi harus Neta akui kalau bocah yang satu ini memang punya pesona memikat yang luar biasa,Zia jawab sapaan murid cowok yang menyapanya dikoridor pakai senyuman aja mereka udah pada mau mimisan dibuat sahabat Neta yang satu ini.Jangankan para cowok,murid cewek yang diajak ngobrol sama Zia aja kadang suka salting dan salah tingkah sendiri sama nih bocah satu.
*Cks,ini nih resiko punya pesona yang keterlaluan*batin Neta.
"Kenapa lo diem,gak nemukan lo siapa orangnya?"ujar Zia kepada Neta.
"Eit siapa bilang,nemu kok gue siapa siapa kandidat terkuat buat terlibat dalam misi lo buat ngancurin rencananya sijamed basket"ujar Neta yang langsung tersadar dari renungannya.
"Gue punya tiga kandidat"lanjut Neta.
"Siapa?"tanya Zia
"Pak ketua kelas kita"saut Neta menyebutkan siapa kandidat pertama.
"Plis deh Ta,kandidat pertama aja udah gak beres.Danil?lo mau gue perang sama bu bendahara kelas hah?!"tanya Zia sedikit ngegas,dia benar benar gak ngerti sama jalan pikiran sahabatnya itu.
Puk...Neta langsung menepuk keningnya sendiri saat baru ingat akan hal itu
"Ya ampun,kok gue lupa soal itu ya.
"Oke kandidat kedua,Juna gimana?"
lanjut Neta.
"Ta,tadi lo hampir bikin kelas kita ada perang.Sekarang lo mau bikin perang yang lebih besar,Juna-kan sahabat baiknya Ken.Yang benar aja lo?"ujar Zia menahan geram.
"Tapikan meski gitu,Juna-kan juga bantuin lo dari belakangkan?"saut Neta berbicara sedikit berbisik
"Ya itu-kan dari belakang Ta,kalau saran lo ini-kan minta bantuan terang terangan"jawab Zia yang mencoba sabar.
"Kandidat terakhir siapa?awas kalau ngasal lagi lo"lanjut Zia bertanya.
"Raka"ujar Neta.
"Hah?!gue gak salah denger,Raka siketos sekolah inikan?"tanya Zia memastikan kalau ia tak salah orang.
"Iya bener,emang Raka sipak Ketos kita"jawab Neta membenarkan.
"Trus apa alasan lo nyaranin itu orang?emang dia mau?dia kenal sama kita aja gak terlalu banget cuma sekedar kenal doang karena dia sempat nolongin gue waktu itu"tanya Zia.
"Gue nyaranin Raka,itu karena dia kayaknya bukan tipe cowok yang bakal mudah baperan.Apalagi melihat gimana respon dia pas ketemu sama lo waktu itu juga biasa aja,gak kayak murid cowok lain yang natap lo kayak penuh puja banget.Kalau lo tanya Raka mau apa enggak,itu mudah tinggal kita bujuk aja sampai mau.Kalau masalah kenal sih,lo-emang cuman sekedar kenal doang sama si Raka.Tapi kalau gue-kan beda,gue sama Raka bisa dibilang lumayan kenal karena sama sama anak organisasi"jelas Neta panjang lebar menjawab pertanyaan beruntun dari Zia.
"Jadi lo tenang aja,si Raka bakal mau kok yakin gue.Meski kayaknya bakal agak susah,gimana mau gak?atau Danil atau mungkin Juna?"tanya Neta meminta keputusan cepat sahabatnya itu.
Zia terdiam berfikir sejenak,mencoba menimbang nimbang semua saran dan perkataan dati sahabatnya ini. Mengingat waktu yang mulai mepet dan juga dirinya tak punya rencana diotaknya selain menerima saran dari sahabatnya ini meski agak bakal nyusahin dia kedepannya kalau menurut perkiraannya.
Huf...Zia menghela nafasnya pelan kemudian mendongak menatap Neta yang sejak tadi menunggu keputusan darinya.
"Oke kita pilih Raka aja"jawab Zia akhirnya setuju.
"Nah gitu dong"ujar Neta tampak semangat.
"Eit tapi semua rencana lo yang atur ya,jujur aja nih otak gue gak mudeng sama sekali kalau ngurusin tentang hal ini"lanjut Zia bicara.
"Tenang aja gue yang bakal urus semuanya kok dan lo tinggal jalanin aja sama si Raka,lagian mana mungkin gue gak tau kalau lo emang gak punya keahlian soal beginian.Otak lo kan cuma encer pas belajar sama ngurusin perusahaan diang"saut Neta.
"Itu lo tau"ujar Zia acuh.