One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 294



Zia terbangun dipagi hari karena merasakan kepalanya yang sangat sakit,ia juga merasa sangat kedinginan padahal badannya terasa basah oleh keringat.Ia berusaha beranjak dari posisinya dengan menggunakan lengannya sebagai penyangga,namun lengannya terasa sangat lemah sehingga tak mampu menahan berat badannya.Kini tak ada yang bisa Zia lakukan selain mengeratkan selimut pada tubuhnya.


Kedua orang tua dan keempat kakaknya Zia sendiri sudah berkumpul dimeja makan,Lyn adalah yang terakhir bergabung diantara mereka semua yang ada dimeja makan itu.


"Dimana adik bungsu kalian?tak biasanya Zia lama turun seperti ini"


Ujar tuan Renal sambil melihat pada jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.


"Kemarin Lyn yang lama bergabung, sekarang Zia.Ada apa sebenarnya dengan kalian berdua?"ujar Liona sambil menatap kearah adik pertamanya.


"Bicara soal kak Lyn dan Zia,kami belum mendapatkan penjelasan tentang yang kemarin malam loh kak"ujar Liona kepada kakak ketiganya.


Lyn melirik kesamping dan kedepannya dimana kedua saudarinya itu duduk,


lihatlah!keduanya kini sama sama memasang ekspresi wajah yang menyebarkan dan memancing menurut Lyn.


"Benar juga apa yang dikatakan Lio,


papa dan mama juga butuh penjelasan"


tuhkan papanya mulai terpancing.


"Kakak juga ingin tahu,dari mana kalian semalam dan kenapa bisa pulang bersama"Bahkan kakak laki lakinya juga ikut ikutan.


Lyn bisa saja menjawab rasa penasaran keluarganya ini,tapi ia terlalu malas menyusun kata kata yang tepat supaya tidak terjadi kesalah pahaman.Dimana bocah itu?seharusnya Zia-lah yang menjelaskan karena bocah itu yang punya ide ke pantai kemarin sore.Tak tahan dengan tatapan penuh rasa penasaran dari anggota keluarga disekitarnya itu,


Lyn akhirnya memilih beranjak dari tempatnya dan tanpa berbicara ia langsung pergi menyusul Zia ke kamar bocah itu.


Kelima orang berbeda usia yang ada dimeja makan langsung memasang wajah cengo dan kemudian saling melihat satu sama lain,untuk kedua kalinya dalam kurun waktu dua puluh empat jam ini mereka ditinggal berlalu oleh seorang Lyn Antara.


"Putriku yang satu ini kenapa beda tuhan?"ujar tuan Renal tak habis pikir dengan sifat anaknya yang paling beda itu.


"Ya tuhan,gini amat punya adik jelmaan tembok gunung es"Arga nampak mengusap dadanya sabar.


"Gak kok Lio,mama gak ada ngidam yang aneh aneh"jawab sang mama.


"Yakin ma?"Liona nampak kurang yakin dengan jawaban yang dirinya dapatkan.


"Mama kaliam gak ada ngidam sekalipun pas ngandung kakak kamu yang satu itu Lio,ngadem aja dirumah"ujar tuan Renal.


"Pantes lahirnya gitu,dari waktu didalam kandungan aja udah keliatan aura irit ngomongnya"Liona mengomentari perkataan papanya.


"BIBIK!"


Semuanya langsung tersentak kaget akan teriakan yang tiba tiba terdengar,suara langkah kaki yang buru buru juga terdengar mendekati area ruang makan dengan cepat.Itu adalah Lyn yang datang dengan raut wajah cemas.


"BIK MUTI!"Lyn kembali berteriak keras memanggil pengurus rumah senior keluarganya.


"Lyn sayang ada apa,kenapa kamu teriak begitu?"tanya tuan Renal kepada anak ketiganya itu.


"Zia...,"baru satu kata yang keluar dari mulut Lyn,kehadiran bik Muti yang tergopoh gopoh mendekat kearahnya langsung menghentikannya.


"Ada apa non?"tanya bik Muti


"Zia kenapa Lyn?"tanya tuan Renal kembali,tiba tiba laki laki itu merasa resah.


"Zia demam,suhu tubuhnya tinggi"


Kriet...Tuan Renal langsung berlari meninggalkan area ruang makan,tujuannya sudah jelas adalah kamar sang anak bungsu.


"Bik,tolong ambil kotak P3K dan juga kompresan.Bawa ke kamarnya Zia"setelah mengatakan hal itu, nyonya Sela pergi menyusul suaminya.


"Cepat bik"ujar Lyn sebelum akhirnya mengikuti langkah mamanya.