One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 75



"Kayaknya lo udah daftar jadi pengunjung tetap rooftoof ini deh"suara seorang cowok dari arah belakang Zia,tanpa basa basi orang itu melangkah dan mengambil posisi berdiri disebelah Zia.


"Lo ngapain pagi pagi kesini?gak lagi mau nangkep trus hukum gurkan?"tanya Zia yang sudah mengenal siapa cowok itu,dia adalah Raka ketua OSISnya Hantara.


"Gak masih pagi trus belum jam masuk juga,jadi lo aman saat ini"jawab Raka.


"Kirain"ucap Zia tanpa melihat lawan bicaranya.


"Tapi kayaknya bentar lagi pasti kena deh"ujar Raka kepada Zia.


"gue kan gak ada melanggar aturan, kenapa?"tanya Zia.


"Dasi lo belum dipakai"ujar Raka menunjuk dasi milik Zia yang belum dipasang sama sekali,hanya digantungkan saja dileher.


"Oh dasi,nanti tunggu sahabat gue datang dulu.Buat minta tolong pakein"ujar Zia.


"Kenapa harus sahabat lo yang makein,kan lo bisa?Gak mungkinkan lo gak bisa pake dasi sendiri"ujar Raka ke Zia.Karena gadis disebelah nya tak menyaut,Raka sadar akan sesuatu.


"Jangan bilang lo beneran gak bisa pake dasi sendiri?"tanya Raka kepada Zia.


"Emang gak bisa"saut Zia


Raka merasa spicles mendengar jawaban gadis disebelahnya ini


"Yang bener aja lo,anak mana yang udah SMA gak bisa pake dasi.Gak ada"ujar cowok itu.


"Ada,gue"jawab Zia.


"Cks...cks...cks..aneh banget aneh banget.Padahal itu hal mudah banget"ujar Raka yang membuat kening Zia mengerut tak suka dengan komentar ketua OSIS disekolahnya itu.


"Apa yang aneh,lagian gak semua yang lo pikir mudah itu mudah bagi orang lain juga"ujarnya kepada Raka,


Kemudian Zia berbalik berjalan dan beranjak pergi dari tempat itu


"Eh kok lo pergi,gue ada salah ngomong ya?"tanya Raka dengan volume yang sedikit kuat.


"ENGGAK,GUE MAU NYUSUL SAHABAT GUE DIKELAS!"saut Zia dengan berteriak dari pintu masuk rooftoof.


"Bagus deh"gumam Raka pelan.


Bukan apa apa ia menanyakan apakah ia salah bicara kepada gadis itu, status gadis itu sebagai anak pemilik sekolah dan yayasan serta menjadi bagian dari anggota keluarga utama dari salah satu keluarga yang paling berpengaruh dinegri ini membuat Raka takut jika sampai mempunyai masalah dengan Zia.


Cowok itu masih sayang dengan keluarga dan masa depan dirinya sendiri soalnya,mengusik ketenangan dan sekelamatan salah satu anggota keluarga Antara itu artinya menghancurkan jalan masa depan kita sendiri.


Raka melihat kearah jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinynya,jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul tujuh pagi.


"Gue harus turun buat patroli kayaknya"gumam Raka.


Cowok itupun melangkahkan kakinya hendak pergi juga dari rooftoof itu, tapi setelah beberapa langkah matanya menangkap sesuatu diatas meja bekas yang ada dirooftoof itu.


Raka mendekat melihat benda apa itu, ia mengulurkan tangannya untuk mengambil benda itu dari atas meja.


Zia pergi rooftoof meninggalkan ketua OSIS sekolahnya disana,ia pergi bukan karena merasa tersinggung atau memiliki masalah dengan perkataan cowok itu.Melainkan karena dirinya tak sengaja melihat sahabatnya berjalan dipinggir lapangan sambil celingak celinguk seperti orang bingung,Zia merasa kalau Neta tengah mencari keberadaannya.Oleh karena itulah Zia memutuskan untuk beranjak dari rooftoof dan segera pergi menyusul sahabatnya itu.


"Cari siapa lo Ta?"tanya Zia berjalan disamping Neta.


"Eh,Anjhm.."Neta segera menutup mulutnya sendiri dengan tangan saat sadar kalau dirinya hampir saja mengumpat karena kaget dengan kedatangan Zia yang tiba tiba.


"Mau ngumpat lo ya?"tanya Zia.


"Kaget gue Zi,lo tiba tiba nongol gak ada aba aba"ujar Neta ke Zia.


"Emang baris berbaris?pake aba aba segala"saut Zia.


"Maksud gue tuh,jangan tiba tiba nongol trus langsung ngomong kek tadi"ujar Neta.


"Gue sengaja,lagian lo nya kayak orang linglung gitu celingak celinguk kagak celas dipinggir lapangan.Jadi makanya gue buru buru nyamperin lo sebelum dikira setres sama murid lain"ujar Zia.


"Enak aja cantik cantik gini dibilang setres,gue dari tadi nyari lo tau.Kebiasaan lo kalau datang duluan pasti keluyuran entah kemana, tas sama kunci mobil digeletakin gitu aja diatas meja.Kalau diambil orang gimana,itu kunci mobil lo trus mobil lo dibawa kabur?"ujar Neta ngerocos panjang lebar kepada Zia.


"Gue gak keluyuran,cuma diem dirooftoof sekolah doang.Trus soal kunci mobil gue lupa itu,lagian kalau diambil orang itu artinya udah bukan rejeki gue"saut Zia


"Bukan rejeki bukan rejeki,ntar mobil lo beneran hilang nangis lo" ujar Neta ke Zia.


"Dih gak level banget gue nangis cuma karena mobil ilang,padahal cuma tinggal beli baru ajakan gampang"ujar Zia dengan entangnya.


"Gampang banget lo bilang tinggal beli,emang dikata mobil sama kayak permen apa.Beli goceng doang udah dapet banyak"ujar Neta kepada Zia.


"Sebelas dua belas sih"saut Zia.


"Sebelas dua belas dari mananya goblok?"tanya Neta kesal.


"Gocengnya tinggal tambahin angka nolnya aja enam,udah bisa beli mobil banyak tuh"jelas Zia kepada Neta.


Huf...Neta menghela nafasnya kasar mencoba bersabar dan gak kepancing emosi ke sahabatnya itu.


"Zia gue tau lo itu udah kaya pake banget,plis jangan kayak gitu.Gue mungkin bisa nahan buat gak geplak kepala lo tapi kalau lo ngomong keorang lain kayak gitu,bisa jadi lo digeplak beneran"ujar Neta kepada sahabatnya itu dengan memasang senyuman pepsodentnya.


"Siap bocil dua,bocil satu mengerti"ucap Zia memberi hormat kepada Neta.


"Bagus kalau bocah satu paham, sekarang ayo ikut bocah dua buat balik kekelas"ujar Neta.


"Oke bocil dua,bocil satu ikut"saut Zia.


Kemudian keduanya langsung berjalan kembali menuju kelas mereka sambil cekikikan tak jelas,keduanya tak mempedulikan murid murid lain yang sejak tadi memperhatikan tingkah mereka.


Sesampai didepan kelas


"Bikin rusuh dulu ah"gumam Neta pelan tapi masih bisa didengar oleh Zia yang ada disebelahnya.Zia langsung paham dan menangkap isi otak sahabatnya dengan cepat.


"HELLO GUYS,DUO CEWEK CAKEP DATANG" teriak Neta memasuki kelasnya,Zia yang datang bersamanya terlihat menutup rapat dua telinga dengan kedua tangannya seperti sudah tahu akan salah satu kebiasaan sahabatnya itu masuk kelas dengan gaya rusuh.