
Zia kembali mengangkat kepalanya menerima botol obat itu,keningnya menyergit heran dari mana Raka mendapatkan obat itu karena ia yakin sebaik apapun UKS disebuah sekolah tapi hampir mustahil menemukan obat yang sama seperti yang ia butuhkan.
"Itu obatmu yang dulu tertinggal dirooftoof sekolah,gue simpan dan niatnya mau ngembaliin ke lo"jelas Raka seperti mengetahui kebingungan Zia.
"Ooh pantes"ujar Zia setelah mendengar penjelasan Raka itu.
Zia membuka tutup botol kaca itu kemudian mengeluarkan beberapa pil dari dalam ketelapak tangannya,dan tanpa ragu langsung meneguknya dibantu dengan air mineral kemasan yang hampir selalu tersedia didalam tas Zia.
"Makasih"ucap Zia kepada Raka setelah ia selesai meminum obatnya.
"Sama sama"balas Raka.
"Lo kenapa masih disini?gak kekelas emang?"tanya Zia heran karena Raka masih diam disana.
"Ah iya benar juga,kalau begitu gue permisi kekelas dulu"pamit Raka kembali beranjak dari tempatnya.
"Ya sana pergi,lo rada ganggu soalnya gue mau lanjut tidur lagi"ujar Zia kepada Raka.
Zia merebahkan kembali kepalanya untuk lanjut setelah Raka pergi, dalam hati ia mengumpati dirinya sendiri karena sudah sering kali terlihat lemah didepan orang lain.
*Lo keliatan lemah lagi Zia*batin gadis itu,ia memejamkan matanya kemudian tertidur.
"Kau tidak berhasil menyuruh anak pemilik sekolah itu untuk kembali ke kelasnya Raka?"tanya penjaga perpustakaan saat Raka berniat keluar dari perpustakaan.
Mendengar perkataan penjaga perpustakaan itu,Raka berhenti berjalan dan menoleh kearah meja dimana guru yang berbicara padanya itu berada.
"Saya mengizinkannya untuk tetap disana buk"ujar Raka.
"Kenapa?tak biasanya kamu memberi pengecualian terhadap murid murid disekolah ini"ujar penjaga perpustakaan itu.
"Saya tak memberi pengecualian terhadapnya buk,tapi Zia saat ini sedang tak enak badan.Makanya saya membebaskannya hari ini"jelas Raka.
"Ah berarti gadis itu tak berbohong kepada saya tadi,saat mengaku tak enak badan"ujar Penjaga perpustakaan itu.
"Kalau begitu saya permisi untuk kekelas buk,saya titip gadis itu.
Jika terjadi apa apa padanya,tolong hubungi saya"ujar Raka kepada sang penjaga perpustakaan.
"Baiklah"jawab penjaga perpustakaan itu.
~Skip~
Waktu pulang sekolah telah tiba, setelah guru menutup pembelajaran hari ini dan meninggalkan kelas dengan terburu buru Neta mengemas barang barangnya kedalam tas kemudian keluar dari dalam kelas.
Neta tak langsung menuju keparkiran melainkan akan pergi keperpustakaan terlebih dahulu untuk menjemput Zia sahabatnya disana,sahabatnya itu memang tak masuk seharian kekelas karena gadis itu mengeluh merasakanan lemas secara tiba tiba diseluruh tubuhnya.
Tadi saat jam istirahat,Neta juga keperpustakaan untuk menemui Zia.Ia membawakan makanan dan minum kepada sang sahabat,barulah saat jam istirahat berakhir ia terpaksa masuk kekelas meninggalkan Zia disana.
Neta berhenti melangkah setelah melihat seseorang yang berjalan menuju kearahnya
"Gue kira lo gak tau kalau udah waktunya pulang"ujar Neta kepada orang itu yang ternyata adalah Zia.
"Telinga gue nyaring,jadi mana mungkin gak denger suara bel sekeras itu"ujar Zia
"Ya maksud gue itu kali aja karena lo tidur jadi gak denger"saut Neta.
"Gue tidur,bukan pingsan"ujar Zia
"Terserah deh,lo balik gue anter" ujar Neta kepada Zia.
"Gak usah gue bawa mobil"tolak Zia
"Gue gak lagi nawarin lo cil tapi bilang,jadi gak boleh nolak"ujar Neta.
"Iya deh"ujar Zia akhirnya mau diantar pulang sama sahabatnya itu.
Keduanya pun berjalan menuju keparkiran sekolah untuk pulang kerumah menggunakan mobil Neta, sedangkan mobil milik Zia ditinggal disana dan nanti akan dijemput oleh salah seorang suruhannya Zia saja.
"Gak mau mampir dulu Ta?"tanya Zia kepada Neta,saat ini mereka sedang berada didepan pintu gerbang kediaman keluarga Antara.
"Gak dulu deh Zi,hari ini ortu gue balik soalnya"ujar Neta.
"Yaudah deh,hati hati lo dijalan" ujar Zia.
"Siap bos,kalau gitu gue cabut dulu ya bai"pamit Neta.
"Bai"saut Zia melambaikan tangannya.
Neta menaikkan kaca mobil kembali kemudian mulai menjalankan mobil miliknya menjauh dari pintu gerbang kediaman keluarga Antara,setelah memastikan mobil sang sahabat sudah tak terlihat lagi barulah Zia berbalik masuk kedalam gerbang.
"Selamat datang nona muda"sapa salah satu penjaga gerbang.
"Hm ya"jawab Zia sambil tersenyum ramah kepada penjaga itu,setelah itu ia melanjutkan langkahnya.
"Lo udah balik"
Zia menoleh kearah sofa saat telinganya menangkap suara seseorang yang mengajaknya bicara dan ia sedikit terkejut mengetahui siapa itu,orang itu adalah Gia saudari tertuanya.
"Ah iya kak"jawab Zia berusaha berbicara sesantai mungkin.
"Nanti malam lo ikut gue keluar sebentar,ada yang pengen gue omongin ke lo"ujar kak Gia kepada Zia
"Mau ngomong apa emangnya kak?"tanya Zia penasaran.
"Ikutin aja kenapa sih,gak usah banyak nanya"jawab kak Gia
"Iya kak,nanti malam Zia ikut kakak.
Kakak bilang aja waktunya"ujar Zia akhirnya memilih setuju dengan ajakan sang kakak,lagi pula sepertinya kakaknya itu tak mau dibantah.
"Nanti setelah jam makan malam, jangan ada yang tahu"ujar kak Gia.
"Oke"ujar Zia.
"Kalau begitu sana,gue muak liat muka lo lama lama"ujar kak Gia sedikit sarkas.
"Baiklah kalau begitu,Zia kekamar dulu"ujar Zia setelah itu ia langsung beranjak dari sana menuju ke kamarnya.
Sesampai dikamarnya,Zia langsung bersih bersih dan mengganti seragam sekolahnya dengan baju santai. Setelah itu ia duduk dimeja belajarnya,tentunya bukan untuk belajar melainkan ingin memeriksa berkas berkas laporan baru yang dikirim kak Teo ke email dilaptop nya.Sebuah kaca mata terlihat bertengger dihidung mancung milik gadis itu,Zia memang sengaja menggunakan kaca mata jika sedang memakai laptop seperti saat ini. Gunanya untuk melindungi matanya dari paparan cahaya radiasi alat elektronik tersebut,supaya penglihatannya tak terganggu atau rusak.
Tok...tok...tok...suara ketukan dari luar pintu kamar gadis itu terdengar.
"Masuk"ujar Zia mempersilahkan yang mengetuk pintu kamarnya untuk masuk kedalam.
"Dek,lo lagi ngapain?"itu suara Liona,gadis itu berjalan me dekat ke meja belajar milik Zia.
"Lo kak,gue lagi meriksa berkas perusahaan"jawab Zia
"Emangnya ada perlu apa Lio?"tanya Zia kepada Liona tanpa menoleh sedikitpun kearah saudarinya itu,matanya masih sibuk membaca isi berkas dilayar laptopnya.
"Tadi sih mau ngajakin lo kekamar dek buat ngasih hadiah ulang tahun, tapi nanti aja deh soalnya keliatannya lo sibuk banget"jawab Liona.
"Kalau gitu tunggu bentar ya, soalnya nanggung tinggal dikit lagi"ujar Zia.
"Oke deh,kakak tunggu"ujar Liona.