
"Aduh papa bangga sekali sama putri kesayangan papa yang satu ini,mami kamu juga pasti senang sekarang diatas sana karena impiannya terwujud"ujar Tuan Renal kembali memeluk putri bungsunya.
Laki laki itu tak sadar apa yang baru dirinya katakan itu berhasil membuat ekpresi hampir semua anggota keluarganya berubah.
Ekhem...nyonya Sela berdehem untuk mengode suaminya itu,hal ini membuat tuan Renal sadar akan perkataannya barusan.Laki laki parub baya itu segera melihat kearah wajah masing anak anaknya dan berakhir pada sibungsu yang terlihat memasang tatapan kosong,hal ini tentu membuat tuqn Renal merutuki dirinya sendiri.
"Ah ma..."
belum habis perkataan tuan Renal yang hendak meminta maaf,Zia langsung memotongnya dengan menanyakan sesuatu.
"Pa aku dengar perusahaan papa akan mengadakan pesta makan malamkan?"Zia sengaja menanyakan hal itu untuk mengubah topik pembicaraan.
"Iya benar sekali itu dua minggu dua minggu lagi,kamu tahu dari mana?" tanya tuan Renal dari kepada putri bungsunya itu.
"Gia yang kasih tau dia pa"bukan Zia yang menjawab melainkan sang putri sulung Antara,siapa lagi kalau bukan Gia.
"Hah kamu,wah papa perhatikan kalian akhir akhir ini makin akrab aja nih.
Sudah damaikah?"tanya sang papa mendengar perkataan putri sulungnya.
"Belum,cuma gencatan senjata aja pa"jawab Zia mewakili sang kakak.
"Dih ada istilah gencatan senjata segala?"tanya Liona kepada kakak dan adiknya itu.
"Dalam perang adalah,lagian kakak sama bocah itu lagi menjalin kerja sama yang menguntungkan"kali ini kak Gia yang menjawab.
"Kerja sama apa?"tanya Arga penasaran.
"Rahasia,tapi sama sama menguntungkan"ujar Gia menjawab pertanyaan kembatannya itu.
"Baguslah kalau lagi gencatan senjata,kalau bisa mama harap selamanya aja gencatan senjata"ujar sang mama penuh harap.
"Zia sih mau-nya gitu,tapi tergantung"ujar Zia.
"Yap tergantung apakah Gia masih kesal sama muka tuh bocah apa enggak"sambung Gia.
"Ngomong ngomong tadi kenapa Zia nanya tentang acara makan malam itu?"tanya tuan Renal pada sibungsu.
"Itu anu gimana ya,Zia tanya gitu sebenarnya mau tau nanti pas acara itu diadain.Zia dikasih undangan apa enggak"ujar Zia pada papanya.
"Yaelah dek,kamu mah gak perlu pakai undangan buat hadir diacara itu.
Kamu-kan anak bungsu yang punya perusahaan,masa gak boleh masuk tanpa undangan"ujar Arga pada adiknya itu.
"Dia nanya gitu,maksudnya bukan itu kali Ga"ujar Gia.
"Trus apa dong?"tanya Arga.
"Itu bocah nanya gitu,karena dia mau minta undangan bukan buat dirinya tapi orang lain"jelas Gia.
"Emang kamu mau kasih undangannya buat siapa dek?oh pasti buat kak Teo sama kak Anna ya"tanya Arga menebak.
Zia menggelengkan kepala
"Bukan buat mereka,mereka mah pasti udah dapat undangankan.Ini untuk orang lain"ujar Zia.
"Siapa?"tanya sang papa dan mamanya kompak.
"Udah lo tenang aja,gue udah siapin undangan itu satu buat orang yang lo maksud.Kan kita udah bicarain ini kemarin pas diVilla,ngapain dibahas lagi sih"ujar kak Gia pada Zia.
"Gue cuma mau mastiin aja sih kak,soalnya kakak kadang agak susah ditebak kalau sama Zia"ujar Zia.
"Terserah lo"saut kak Gia.
Semua anggota keluarga mereka hanya bisa menggelengkan kepala melihat percakapan kecil kedua gadis itu,Lyn yang sejak tadi hanya diam saja bahkan ikut menghela nafas melihat keduanya.
Tapi disisi lain Lyn juga sedikit penasaran apa penyebab gencatan senjata du saudarinya itu,apalagi ia tahu betul bagaimana bencinya sang kakak pada adik bungsu mereka itu.
Selain itu dirinya juga merasakan kalau ada yang disembunyikan oleh keduanya,apapun itu tapi Lyn berharap semoga keduanya semakin akur satu sama lain.